Indo Straits Kantongi Kontrak US$8,6 Juta

NERACA

Jakarta- PT Indo Straits Tbk (PTIS) memperoleh kontrak kerja senilai US$8,6 juta melalui kerja sama yang dilakukan dengan PT karya Utama Tambangjaya. Dalam kerja sama ini perseroan akan menyediakan jasa manajemen transhipment termasuk bahan bakar kepada PT Karya Utama Tambangjaya. “Jasa dan Suplai bahan bakar dipakai untuk melakukan transhipment bauksit dari tongkang ke kapal induk di Padang Tikar, Kalimantan Barat.” kata Direktur PT Indo Straits Tbk, Bong Nam Kong di Jakarta, Senin (28/10).

Menurut dia, kedua pihak telah melakukan penandatanganan perjanjian kontrak kerja tersebut pada 25 Oktober 2013. Periode perjanjian ini sekitar 12 bulan dari tanggal penandatanganan perjanjian, dan dapat diperpanjang. Asal tahu saja, Karya Utama Tambangjaya merupakan anak perusahaan Harita Grup, grup perusahaan yang bergerak di sektor sumber daya alam, yang beroperasi di seluruh Indonesia.

Saat ini Harita Grup memiliki bisnis di pertambangan nikel, bauksit, perkebunan kelapa sawit, pelayaran, kayu dan batubara. Sementara Indo Straits sendiri merupakan perusahaan di bidang jasa kelautan dan penyedia jasa logistik untuk industri sumber daya selama lebih dari 27 tahun. Oleh karena itu, pihaknya meyakini dapat memberikan kontribusi yang terbaik bagi Karya Utama Tambangjaya.

Dari kegiatan bisnis yang dilakukan perseroan, pertumbuhan laba bersih perseroan pada tahun ini diperkirakan bakal tertekan akibat melemahnya harga batu bara di pasar internasional. Proyeksinya, pertumbuhan laba bersih pada tahun ini hanya mencapai 10%, sementara tahun lalu laba bersih perseroan bisa tumbuh 28%.

Tercatat, sepanjang 2012 Indo Straits mencatat kenaikan pendapatan sebesar 11% (year on year) menjadi US$ 44,9 juta, dari perolehan tahun sebelumnya US$ 43 juta. Perseroan juga membukukan laba bersih perseroan US$ 4 juta, atau naik 28% dari tahun sebelumnya US$ 3,2 juta.“Harga batubara yang terus menurun akan berimbas kepada penurunan daya jual batu bara sampai akhir tahun ini. Ada juga permintaan batu bara dari China yang mempengaruhi laba bersih," kata Direktur Utama PT Indo Straits, Erawan Setyanto.

Selain faktor harga, kata dia, berkurangnya kontrak batu bara juga mempengaruhi perolehan laba bersih di tahun ini. Menurut dia, efek dari nominal kontrak perseroan dan penurunan produksi batubara sangat berpengaruh kepada turunnya laba bersih di akhir tahun. Namun, untuk mengantisipasinya, perseroan memiliki target untuk mengembangkan kontrak baru dari perusahaan batu bara. (lia)

BERITA TERKAIT

Manfaatkan e-Smart IKM, Omzet Usaha Jaket Tembus Rp 50 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin serius mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri agar terus memanfaatkan…

Pollux Properti Tunjuk Kontraktor Utama Gangnam District - Kontrak Senilai Rp2 Triliun

Pollux Properti Tunjuk Kontraktor Utama Gangnam District Kontrak Senilai Rp2 Triliun NERACA Jakarta - Salah satu proyek properti multi fungsi…

Pollux Properti Tunjuk Kontraktor Utama Gangnam District - Kontrak Senilai Rp2 Triliun

Pollux Properti Tunjuk Kontraktor Utama Gangnam District Kontrak Senilai Rp2 Triliun NERACA Jakarta - Salah satu proyek properti multi fungsi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pemda Kalsel Tertarik Untuk Obligasi Daerah

NERACA Banjarmasin -Wakil Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Rudy Resnawan menyatakan tertarik dengan potensi pengembangan obligasi daerah sebagai sumber pendanaan untuk…

URBN Bidik Rp 650,3 Miliar Private Placement

Danai pengembangan bisnisnya, PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) berencana menerbitkan 320,366 juta lembar saham baru atau 10% dari modal…

Aksi Ambil Untung Hambat Penguatan IHSG

NERACA Jakarta  -Mengakhiri perdagangan Selasa (19/2) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah tipis dipicu…