Kembangkan Energi Listrik, PLN Komitmen Gunakan Komponen Lokal

Selasa, 29/10/2013

NERACA

Jakarta – Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji menegaskan bahwa pihaknya memprioritaskan untuk penggunaan komponen lokal dalam membangun sistem kelistrikan di tanah air. Kebijakan ini sebagai upaya menekan kinerja impor nasional.

Nur mengatakan perseroan akan melonggarkan aturan mengenai penggunaan komponen kelistrikan. Meski begitu dia memastikan perseroan tetap akan menjaga sisi kualitas. “Ini diperbolehkan tentunya dimbangi dengan pemeriksaan kualitas yang sangat ketat,” ujarnya di Jakarta, Senin (28/10).

Menurut dia, pihaknya juga akan memfokuskan pada transparansi anggaran pengadaan barang. Ini sebagai upaya menciptakan lingkungan kerja yang bebas korupsi. Pihaknya telah menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menjalankan kebijakan ini. “PLN bersih, bersih dari korupsi, temanya seperti itu, upaya serius ini. Ada 13 wilayah PLN yang dijadikan contoh dan bukan hanya slogan ada action dan penilaian yang sangat serius,” tuturnya.

Salah satu bentuk nyata menggunakan komponen dalam negeri diungkapkan Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN Bambang Dwiyanto. Menurut dia, PLN telah memastikan pembangunan 18 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) "Merah Putih" berkapasitas 350 mega watt (MW) akan menggunaan barang dan jasa dalam negeri.

Proyek PLTU skala kecil yang akan dibangun dalam kurun waktu dua tahun ke depan, seluruhnya berlokasi di luar Jawa-Bali merupakan proyek PLTU Merah Putih. Sebab, selain dikerjakan putra putri terbaik bangsa Indonesia, juga material utama yang digunakan untuk membangun PLTU ini nyaris semuanya memanfaatkan produk-produk lokal. “Saat ini, material utama seperti boiler, generator, dan turbin untuk PLTU skala kecil sudah dapat diproduksi di dalam negeri,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, kondisi yang mendorong penggunaan produk lokal lantaran PLN membiayai pengeluaran investasi (capex) yang sangat besar setiap tahun. Realisasi capex PLN tahun 2012 saja mencapai Rp 50 triliun.

Dari angka pengeluaran itu, hanya sebagian kecil yang dinikmati di dalam negeri. Sebagian besar belanja PLN selama ini mengalir ke luar negeri. "Peralatan-peralatan kelistrikan selama ini didominasi produk impor. Bila dana sebesar itu bergulir di dalam negeri akan menciptakan “efek domino” yang sangat besar terhadap kemajuan perekonomian dalam negeri," tutur dia.

Lebih lanjut, Bambang mengemukakan sebagai perusahaan penyedia tenaga listrik terbesar, tantangan besar PLN adalah memenuhi kebutuhan listrik masyarakat yang rata-rata pertumbuhan 7%-8% per tahun. Dana investasi Rp60-70 triliun yang dibelanjakan PLN tiap tahunnya untuk membangun infrastruktur kelistrikan demi memenuhi pertumbuhan konsumsi listrik.

Pertumbuhan Sektor

Komite Ekonomi Nasional (KEN) memproyeksikan beberapa sektor bakal tumbuh di atas 5% di 2014. Sektor tersebut antara lain sektor infrastruktur dan properti, sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor finansial. Sekretaris KEN Aviliani mengatakan, pertumbuhan lima sektor tersebut memiliki konsekuensi meningkatnya kebutuhan energi listrik. “Kalau bicara listrik tidak ada habisnya. Kalau tadi ada yang bilang 7-9% harus dicermati kembali,” ujarnya.

Dia menyebutkan, sektor properti bakal mengalami pertumbuhan signifikan didorong lahirnya regulasi baru yang mengizinkan orang asing memiliki properti di Indonesia. Sedangkan sektor infrastruktur juga akan tumbuh sejalan dengan perluasan pembangunan ekonomi di luar Jawa. "Dari Studi McKinsey kan menyebutkan pembangunan di Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan akan mencapai 7%. Sementara Jawa, mulai mengalami stagnasi di level 5%," jelas dia.

Otomatis, kebutuhan akan energi listrik semakin besar seiring pertumbuhan sektor ini. "Di KP3EI ada permintaan pembangunan smelter, ini karena seiring dengan kebijakan pemerintah di mana tambang tak boleh lagi di ekspor mentah, maka membutuhkan smelter dan listrik," ungkapnya.

Sedangkan sektor perdagangan, hotel dan restoran juga bakal mengalami tren kenaikan. Sehingga kebutuhan listrik untuk sektor tersebut harus dikalkulasi dengan tepat. "Pertambahan jumlah kelas menengah yang sebesar 50 juta jiwa menyebabkan perubahan gaya hidup. Ujungnya, tersebut makin menggeliat," ujar dia.

Dan yang terakhir sektor finansial atau keuangan berkembang pesat seiring bisnis IT. "70% masyarakat khususnya yang 50 juta orang ditempatkan di sektor ini. Kebutuhan pertambahan listrik tidak cukup 7%, double digit," tutupnya.