Kalbe Farma Waspadai Perlambatan Ekonomi

Catatkan Penjualan Tumbuh 18%

Selasa, 29/10/2013

NERACA

Jakarta- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatatkan kenaikan penjualan bersih sebesar 18,0%, menjadi Rp11.440 miliar pada kuartal ketiga 2013 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9.694 miliar. Meski demikian, manajamen perseroan mengaku akan tetap mewaspadai potensi perlambatan ekonomi makro, antara lain terkait tingkat inflasi dan perkembangan nilai tukar rupiah. Pasalnya, hal tersebut berdampak pada kinerja perseroan.“Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut pada triwulan ketiga telah memberikan tekanan terhadap laba perusahaan. Kami juga terus mewaspadai dampak peningkatan inflasi serta potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi makro dalam jangka menengah terhadap daya beli masyarakat.” kata Direktur Keuangan KLBF, Vidjongtius di Jakarta, Senin (28/10).

Menurut dia, pada periode sembilan bulan tahun 2013, laba bersih yang dicatatkan perseroan mencapai Rp1.366 miliar, atau hanya bertumbuh sebesar 9,9%. Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS, kata dia, memberikan tekanan terhadap laba kotor perusahaan karena kontribusi biaya penggunaan bahan baku impor yang cukup signifikan terhadap keseluruhan biaya produksi.

Pihaknya mencatat, sepanjang kuartal ketiga 2013 laba kotor meningkat sebesar 18,0% mencapai Rp5.869 miliar. Sementara rasio laba kotor terhadap penjualan tercatat stabil sebesar 48,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, atau meningkat sebesar 0,8% dibanding rasio pada periode sepanjang tahun 2012 sebesar 47,9%. Beban penjualan meningkat 18,2% sejalan dengan berbagai aktivitas pemasaran untuk memperkuat branding, namun dibarengi upaya untuk meningkatkan efektivitas pemasaran.

Sementara itu, rasio beban umum dan administrasi stabil di kisaran 4,7% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,8%. Rasio beban penelitian dan pengembangan sebesar 0,9%, naik dibandingkan tahun lalu sebesar 0,7%. Perseroan mencatatkan laba sebelum beban pajak penghasilan meningkat 9,4% mencapai Rp1.814 miliar. Sementara marjin laba sebelum beban pajak penghasilan tercatat sebesar 15,9%.

Pertumbuhan laba sebelum beban pajak penghasilan yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan laba kotor tersebut, menurut dia, antara lain disebabkan oleh dampak translasi kurs valuta asing akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Tercatat, per 30 September 2013, rupiah ditutup pada nilai tukar Rp11.613 per dolar AS dibandingkan 30 September 2012 yang hanya mencapai Rp9.588.

Dampaknya, marjin laba sebelum beban pajak penghasilan menurun dibandingkan dengan 17,1% pada periode 9 bulan tahun 2012 dan 16,9% sepanjang tahun 2013. Meski demikian, sambung dia, pihaknya mencatakan penjualan bersih tumbuh sebesar 18,0%, menjadi Rp11.440 miliar pada kuartal ketiga 2013. Dari total penjualan bersih tersebut, divisi obat resep berkontribusi 25% dengan penjualan bersih sebesar Rp2.870 miliar.

Sementara divisi produk kesehatan saat ini memberikan kontribusi 16%, dengan penjualan Rp1.883 miliar. Divisi nutrisi memberikan kontribusi 24% dengan penjualan Rp2.709 miliar, dan divisi distribusi dan logistik memberikan kontribusi 35% dengan penjualan Rp3.978 miliar. Untuk memperkuat portofolio ke depan, pihaknya mengaku telah merampungkan pembangunan pabrik baru untuk obat kanker yang saat ini sedang menjalani proses sertifikasi. Selain itu, juga akan tetap fokus pada kegiatan pemasaran yang efektif sehingga perseroan dapat mencapai target tahun ini.