Produksi Terus Merosot, Target Swasembada Gula Sulit Tercapai

Selasa, 29/10/2013

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Perhimpunan Agronom Indonesia, Ahmad Mangga Barani pesimis swasembada gula 2014 terwujud. Pasalnya, produksi gula nasional turun pada 2013 hanya mencapai 2,5 juta ton, sedangkan kebutuhan gula sebanyak 5,8 juta ton untuk produksi langsung dan industri."Melihat kenyataan di lapangan turunnya produksi gula nasional, rasanya mustahil swasembada gula 2014 terwujud," kata dia saat dihubungi Neraca, kemarin.

Menurut Ahmad Mangga Barani, swasembada gula 2014 mustahil tercapai mengingat rendahnya produksi gula nasional selama lima tahun terakhir. Dia menilai, penurunan produksi gula nasional tersebut disebabkan beberapa hal, di antaranya perluasan areal lahan yang lambat, optimaliasasi penggunaan bibit unggul serta manajemen pergulaan.

Kemudian dia merincinkan, rata-rata produktivitas lahan gula perhektar mencapai 4 hingga 5 juta ton dari luas lahan 400.000 hektar lebih. "Dulu pada tahun 2008 kita pernah mencapai produksi tertinggi 2,8 juta ton. Sejak saat itu produksi terus menurun selama lima tahun terakhir," kata Ahmad Mangga, yang menjabat juga sebagai Ketua Forum Perkembangan Perkebunan Strategi Berkelanjutan (FP2SB).

Beranjak dari persoalan tersebut, PERAGI dan FP2SB serta Kementerian Koordinator Bidang Perkonomian mengelar semiloka gula nasional 2013 yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda dan ulang tahun PERAGI.

"Dari semiloka ini diharapkan adanya kebijakan dari pemerintah secara utuh mendorong peningkatan produksi gula di dalam negeri," kata Ahmad.

Sebelumnya,Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Gamal Naser mengungkapkan target produksi gula 2013 sebesar 2,8 juta ton berat kita capai. Tapi kami masih terus berupaya untuk meningkatkan produksi gula nasional.

Gamal menilai, jika produksi gula tahun ini mencapai 2,6 juta ton atau sama dengan tahun lalu, sudah merupakan hal yang cukup bagus. Kalau produk tahun ini tidak tercapai, paling tidak produksinya sama dengan tahun lalu. Sama dengan tahun lalu, itu sudah cukup bagus. Tapi kami kan masih usaha terus untuk mengejar produksi,” ungkapnya.

Produksi gula tahun ini ditargetkan sebesar 2,8 juta ton. Taksasi produksi Maret 2013 diperkirakan jumlah hablur 2,76 juta ton dari luas areal yang digiling 451 ribu ha, rendemen 8,2%.

Pada bulan Juni 2013 pabrik-pabrik gula di Jawa sudah mulai mengawali giling 2013 sehingga jumlah PG yang telah berproduksi sebanyak 60 PG dengan luas yang digiling pabrik gula di Sumatera, Jawa dan Gorontalo mencapai 118.021 ha, tebu digiling 8,70 juta ton dengan rendemen 7,3%, hasil hablur 640.811 ton, produktivitas tebu 73,8 ton/ha dan produtivitas hablur 5,4 ton/ha.

Untuk produksi gula kristal putih (GKP) dalam negeri yang berbahan baku tebu dihasilkan 50 PG BUMN dan 12 PG swasta produksi yang dihasilkan 640.811 ton.

Rendemen Turun

Menurut Gamal, rendemen tanaman tebu cenderung turun. Jika taksasi rendemen bulan Maret sebesar 8,2%, maka pada taksasi Juli 2013 turun menjadi 7,9%. Bahkan, di beberapa areal tanaman tebu di Jawa, rendemen turun cukup signifikan.“Turunnya rendemen tebu ini karena iklim. Sekarang ini semestinya musim kering, tapi di beberapa daerah hujan masih turun. Curah hujan ini memacu produksi tebu, tetapi rendemen-nya turun,” tegasnya.

Dia menyebutkan, dampak curah hujan yang tinggi di musim tebang/giling membuat penyimpanan gula terhambat karena digunakan untuk tumbuh. Bobot tanaman memang menjadi naik, tapi rendemen turun. Lahan basah menjadi kendala pengangkutan tebut.“Ongkos produksi menjadi mahal karena petani harus membayar ongkos angkut tebu dari sawah ke truk yang di pinggir jalan. Jika iklim normal truk biasanya masuk ke sawah,” katanya.

Ketika ditanya, beberapa pabrik gula (PG) tidak transparan dalam menghitung rendemen tebu petani, Gamal mengakui memang ada PG yang tidak transparan. “Saya dalam rapat pimpinan dengan Menteri tadi saya sudah laporkan masalah ini. Kita akan melayangkan surat teguran,” katanya.

Gamal tidak menyebutkan PG yang tidak transparan tersebut. Namun, sumber Agro Indonesia menyebutkan, PG tersebut adalah Madukismo, Yogyakarta.

Sebagai contoh, tanaman tebu yang berasal daerah yang sama dengan varietas yang sama, ketika digiling di salah satu PG, rendemennya hanya 5%. Padahal, jika digiling pada PG yang lain rendemennya bisa mencapai 7%. “Kita imbau PG supaya terbuka dengan petani soal rendemen. PG juga kita minta melakukan pembinaan terhadap petani tebu, sehingga rendemen bisa tinggi,” tegasnya.

Direktur Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan Nurnowo Paridjo mengatakan, untuk mencapai target produk gula sebenarnya cukup dengan menaikan rendemen tanaman tebu.

Lebih lanjut dia mengatakan, jika rendemen mencapai rata-rata 8%, dengan areal yang 454.990 dan produktivitas mencapai 80 ton/ha, maka produksi bisa mencapai 3,5 juta ton. Bila hal ini bisa diterapkan, maka harapan untuk mencapai swasembada gula tahun 2014 dengan produk 3,1 juta ton dapat dicapai.

Namun, kenyataan di lapangan masih perlu perbaikan terutama mengenai varietas tanaman yang digunakan harus baik dan bermutu. “Program bongkar ratoon upaya pemerintah untuk memperbaiki dari sisi budidaya, sehingga dapat memacu produksi gula nasional,” katanya.

Kendala benih

Kegiatan bongkar ratoon yang diharapkan dapat memacu produk gula nasional ternyata terkendala dengan ketersediaan benih. Data Ditjen Perkebunan mencatat, sampai saat ini 25,59% paket lelang masih dalam proses karena adanya sanggah banding, sehingga harus dilakukan lelang ulang.“Akibat lelang ulang, waktu penyediaan benih menjadi mundur sampai Juli atau Agustus 2013 yang akhirnya penangkar benih G2 sampai siap salur G3 asal kultur jaringan (kuljar) tidak cukup waktu,” katanya.

Untuk menghindari carry-over ke tahun 2014 dan agar program bongkar ratoon 2013 tetap terlaksana, maka pengadaan benihnya menggunakan benih Kebun Benih Datar (KBD) asal kuljar sisa tahun 2011 dan 2012. Inipun jumlahnya masih kurang sehingga masih perlu dipenuhi dari benih konvensional yang bermutu.