Membandingkan Berhaji 20 Tahun Lalu dengan Sekarang - Oleh: Prof Dr Imam Suprayogo, Rektor UIN Malang

Pertama kali saya menunaikan ibadah haji pada tahun 1992. Pada saat itu, orang yang berniat haji tidak perlu harus antri. Kapan saja asalkan mempunyai uang cukup untuk membayar ongkosnya, seseorang bisa mendaftar ke kementerian agama, dan pada musim haji tahun itu pula bisa berangkat. Pada saat itu, jumlah pendaftar tidak melebihi kuota yang ditentukan.

Pada tahun itu, hambatan hingga orang tidak segera menunaikan ibadah haji, disamping kemaauan juga jumlah beaya yang harus dibayarkan. Berbeda dengan sekarang, sudah banyak orang yang menunaikan ibadah haji sehingga memberikan pengaruh kuat pada yang lain. Berbagai cerita tentang haji dan penghargaan masyarakat kepada mereka yang telah melaksanakannya, menjadikan semangat berhaji semakin tinggi. Selain itu, tingkat ekonomi masyarakat yang semakin membaik, juga mendorong untuk segera menunaikan rukun Islam yang ke lima itu.

Bangunan Masjidil Haram di Makkah dan begitu pula Masjid Nabawi di Madinah belum diperluas seperti sekarang ini. Pada tahun 1992, jama’ah haji masih bisa mengambil air zam-zam dari sumur yang terletak di pelataran Ka’bah. Setelah selesai thawaf, orang biasanya shalat di Hijir Ismail, kemudian shalat di Maqom Ibrahim dan kemudian diteruskan meminum air zam-zam dari sumur yang berada tidak jauh dari tempat itu. Sekarang ini, jama’ah haji sudah tidak tahu lagi di mana posisi sumur itu, oleh karena sudah ditutup yang kemudian tempat itu digunakan untuk memperluas tempat thawwaf.

Masjid Nabawi juga semakin diperluas. Beberapa pertokoan dan kantor-kantor, dan mungkin juga rumah penduduk sudah dihancurkan yang kemudian digunakan untuk memperluas bangunan masjid itu. Sekarang ini, terutama di musim haji, masjid Nabawi juga sudah tidak mampu lagi menampung jumlah jama’ah sekalipun sudah diperluan. Masjid Rasulullah yang berada di Madinah itu, pada saat ini sudah beberapa kali lipat luasnya dibanding 20 tahun yang lalu. Di bawah masjid, yang juga sangat luas itu dipergunakan sebagai tempat untuk mengatur pencahayaan, suara, perkantoran masjid, perpustakaan, dan juga pencetakan al Qur’an. Namun tidak semua orang bisa masuk ke ruang-ruang tertentu itu.

Hotel-hotel di sekitar Masjid, dua puluh tahun yang lalu belum sebanyak dan tampak modern seperti sekarang ini. Penginapan jama’ah haji Indonesia, sekalipun tempatnya tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram di makkah dan juga Masjid Nabawi di Madinah, kondisinya masih sederhana. Keadaan hotel di kedua kota tersebut tidak banyak berbeda. Pada tahun 1992, saya menginap di daerah Misfalah, tidak jauh dari Masjidil Haram. Penginapan yang disediakan oleh Kementerian Agama, keadaannya sederhana. Bangunannya tampak kuno, temboknya belum dicat secara sempurna, dan terasa tidak terawat. Kebersihan di kanan kiri bangunan tidak dirawat, dan demikian pula saluran air untuk kebutuhan sehari-hari seringkali macet.

Pada saat sekarang ini, penginapan jama’ah haji dari Indonesia sudah tampak sebagaimana hotel, sekalipun mungkin, tempatnya agak masuk ke dalam dari jalan besar, dan juga agak jauh. Dulu sangat mudah dibedakan antara penginapan orang-orang Turki, orang-orang Malaysia dengan jama’ah haji Indonesia. Penginapan jama’ah haji Turki dan Malaysia tampak lebih baik, dan hal itu sangat berbeda bila dibandingkan dengan penginapan orang Indonesia, yaitu lebih sederhana. Perbedaan fasilitas penginapan dan lain-lainnya itu, pada saat ini sudah tidak menjadi pembicaraan lagi. Artinya, sudah setara atau sama.

Dua puluh tahun yang lalu, ketika sedang thawaf, orang harus hati-hati tertabrak oleh pekerja bayaran yang memikul tandu bagi orang jumpo, atau orang sakit yang tidak mampu lagi berjalan dalam melaksanakan thawaf atau sa’i. Mereka itu, dengan maksud agar tugasnya segera selesai, berusaha berjalan cepat, sehingga seringkali nabrak orang adalah hyal biasa. Jasa pembawa tandu ini, sekarang sudah diganti dengan kursi roda. Funsi keduanya sama, tetapi alat itu tidak memberatkan bagi penjual jasa itu. Sekarang ini pengguna kursi roda juga diberi jalan khusus sehingga tidak terlalu menganggu orang lain yang sama-sama sedang beribadah.

Perbedaan fasilitas lainnya adalah terkait dengan alat-alat transportasi. Dulu, kendaraan di Makkah maupun Madinah, kebanyakan menggunakan bus-bus dan juga mobil-mobil tua. Sekarang ini, setelah 20 tahun lewat, kendaraan umum yang digunakan sudah tidak tampak tua lagi, kecuali beberapa saja. Pada waktu itu, hal yang tidak terbiasa tampak di Indonesia, oleh karena bus sudah penuh, para penumpang naik di atas atap hingga puluhan orang jumlahnya. Apalagi, dalam perjalanan yang agak jauh, misalnya dari Makkah ke Arafah, dan ke Mina. Tetapi sekarang ini, orang naik di atas atap bus tua, sudah sangat jarang kelihatan. Itupun dilakukan oleh orang-orang tertentu dan pada saat tertentu pula.

Dulu, mungkin karena keadaan ekonomi negara asal jama’ah haji yang belum maju, maka banyak orang yang berebut makanan yang dibagikan oleh orang-orang kaya di sekitar Makkah. Keadaan seperti itu, sekarang ini sudah tidak kelihatan lagi, kecuali di Arafah. Di tempat wukuf itu, masih banyak orang membawa truk ukuran besar membawa makanan yang dibagi-bagikan kepada para jama’ah yang membutuhkannya. Saya lihat, pembagian makanan itu sekarang tidak sebagaimana dulu, sudah dilakukan secara teratur dan tidak diperebutkan. Selain itu, hal yang berbeda, bahwa dulu pengemis atau peminta-minta ada di sembarang tempat, dan bahkan di masjid. Sekarang ini, pemerintah Saudi sudah berhasil menertibkan, sehingga para jama’ah sudah relatif tidak ada yang terganggu.

Selain itu, banyak keberhasilan pemerintah Saudi Arabia dalam memperbaiki fasilitas ibadah haji, mulai sarana transportasi, baik jalan maupun kendaraan bus yang cukup dan bahkan kereta api. Keberhasilan itu menjadikan pembicaraan tentang keterlambatan bus di perjalanan dalam pelaksanaan haji sudah semakin bisa diatasi. Pada sekitar tahun 1992, perjalanan dari Arafah ke Mina bisa sampai semalam penuh, bahkan jika lagi sial, nyampai di Mina hingga sore hari. Betapa beratnya perjanalan dari Arafah ke Mina pada sekitar 20 tahun yang lalu. Sekarang ini, persoalan serius, termasuk kegiatan melempar jumrah juga sudah bisa dijalankan dengan mudah.

Semakin maju teknologi, terutama teknologi transportasi dan komunikasi, maka menunaikan ibadah haji, semakin mudah. Sekalipun jumlah jama’ah haji pada setiap tahun selalu meningkat, seiring dengan bertambahnya umat Islam di berbagai belahan dunia, serta semakin naiknya tingkat ekonomi, pelayanan yang diberikan akan semakin baik. Dan sudah barang tentu, ke depan akan ibadah haji menjadi semakin mudah lagi, manakala umat Islam sendiri juga semakin mampu menciptakan teknologi baru. Semakin maju ilmu pengetahuan dan teknologi, maka umat Islam justru akan semakin kokoh keimanannya, dan semakin mudah serta bersemangat dalam menjalankan ibadahnya. Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)

Related posts