Turunkan Suku Bunga

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Secara umum kondisi perekonomian domestik membaik, kecuali untuk ranah mikroekonomi. Ringkasnya, volume produksi dapat saja dikerek melimpah, namun tingkat permintaan dari mancanegara seret karena perihal kualitas produk kita yang kurang mampu bersaing dan isu kemampuan purchasing di negara tujuan ekspor juga jadi biang kerok. Oleh karena itu, para pelaku usaha sebaiknya diberi insentif yang lebih daripada sekedar perlakuan keringan pajak dan kemudahan perizinan usaha.

Para pengusaha domestik sebaiknya diberikan dukungan ekstra tanpa harus menghilangkan daya kompetisi antara pengusaha, yang tetap dapat mendongkrak dinamika mikroenomi dalam jangka menengah. Satu hal taktis yang dapat diupayakan dari sektor moneter adalah segera menurunkan suku bunga acuan/kredit. Untuk kondisi ekonomi saat ini, amat minim pertimbangan bagi Bank Sentral untuk membuat suku bunga acuan tetap berada pada posisi 7,25% apalagi untuk menaikkannya.

Angka suku bunga acuan di level 6.75% merupakan figur yang telah cukup kondusif agar pasar dapat melakukan self-adjusting menuju ekuilibrium harga yang baru. Namun agar Bank Sentral tidak terlalu drastis dalam membuat perubahan, figur 7,00% merupakan tingkat yang efektif untuk suku bunga acuan pada RDG berikutnya hari Selasa 12 Nov. 2013.

Hampir semua elemen sovereign scorecard yang diterbitkan BondRI mengindikasikan kondisi yang membaik, kecuali mikroekonomi dan tingkat kesehatan utang. Makro, yang secara umum berada di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan bahwa baik laju inflasi, harga minyak dunia, nilai IDR, PDB serta komponen lainnya menunjukkan tren yang positif.

Mikro, yang secara umum berada di bawah koordinasi Kemendag dan lainnya yang terkait kurang kondusif terindikasi dari turunnya figur indeks harga perdagangan besar dan indeks keyakinan konsumen dalam beberapa bulan belakangan. Fiskal, yang berada di bawah koordinasi Kemenkeu secara umum cukup kondusif dengan struktrur defisit yang relatif aman kecuali untuk rencana penamabahan emisi masif utang negara ke depannya yang perlu direview secara pruden.

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sudah menunjukkan penurunan yang signifikan yang mengindikasikan turunnya sovereign risk perekonomian domestik. Moneter, yang berada di bawak kendali Bank Sentral memiliki nilai yang stabil dalam beberapa minggu belakangan. Beberapa elemen yang perlu digenjot adalah peningkatan nilai cadangan devisa, penurunan lanjut rasio kredit bermasalah serta tingkat suku bunga kredit perbankan secara umum.

Kembali pada rekomendasi semula, jika suku bunga acuan mengalami penurunan, maka suku bunga kredit juga diharapkan menurun sehingga sektor mikro akan memperoleh dukungan dalam pengingkatan volume, estetika packaging terutama kualitas produknya. Perbaikan ini secara bertahap akan meningkatkan figur BIS dalam jangka pendek. Hal ini bukan tidak terkait pula dengan dinamika di pasar modal, baik untuk efek saham maupun obligasi. Apabila ranah industri (mikroekonomi) dapat digenjot lebih baik, maka value creation process juga akan berbuah baik, sehingga proses maksimisasi shareholders’ value dari setiap perusahaan yang berperan di bursa juga akan semakin intens.

BERITA TERKAIT

GRUP GARUDA INDONESIA TURUNKAN TARIF TIKET 20% - AKR Masuk Jadi Pesaing Avtur Pertamina

Jakarta-Merespon imbauan Presiden Jokowi sebelumnya, maskapai grup Garuda Indonesia akhirnya menurunkan harga tiket pesawat terhitung mulai kemarin (14/2). Sementara itu,…

PEMERINTAH DIMINTA KAJI MENDALAM KENAIKAN TARIF OJOL - Ekonom UI: Berpotensi Turunkan Daya Beli Publik

Jakarta- Pemerintah diminta tidak boleh asal menetapkan tarif ojek online (ojol) dan harus ditentukan berdasarkan hasil kajian yang solid. Sebab,…

Miliki Bunga Sebesar 8,45% - SMF Resmi Daftarkan MTN Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF mendaftarkan surat utang jangka menengah atau Medium Term Notes (MTN)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Revolusi Mental Menjungkirbalikkan Akal - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin…

Sinkronisasi RTRW Jabodetabek

  Oleh: Yayat Supriatna Pengamat Tata Kota Presiden Jokowi telah menugaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla memnenahi persoalan pengelolaan rencana tata…

Pendanaan Pembangunan Berbasis Pasar

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Saving and investment gap tetap menjadi isu penting dalam pembangunan. Dan gap…