Investasi Diarahkan Tingkatkan Nilai Tambah Produk Industri

Program Hilirisasi

Senin, 28/10/2013

NERACA

Jakarta - Pembangunan sektor industri memang diarahkan menuju hilirisasi dengan alasan, hilirisasi industri adalah merupakan strategi yang tepat untuk negara-negara yang mempunyai sumber daya alam, sumber mineral dan sumber energi yang berlimpah dan dapat menggunakan bahan-bahan yang dihasilkan oleh sektor ini sebagai input bagi proses industrialisasi.

Secara struktural, output produksi yang dihasilkan oleh industri-industri dasar yang mengolah sumber daya mineral dan sejenisnya tidak akan berfungsi dengan efektif, kecuali bila industri hilirnya dapat tumbuh dan berkembang yang memerlukan output dari industri dasar.

Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat menyatakan saat ini pemerintah tengah fokus melakukan program hilirisasi industri di beberapa pada sektor seperti yang berbasis agro, migas, dan bahan tambang mineral. Hal ini guna menghadapi persaingan dalam perdagangan bebas MEA 2015 mendatang.

"Pemerintah terus melakukan upaya untuk menarik investasi baik PMA maupun PMDN yang diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri," ujar Hidayat di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Wijayanto, Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam selama ini menjadi pengekspor komoditas barang tambang mentah yang cukup besar di dunia. Sebanyak 50% dari total komoditas ekspornya merupakan minyak bumi, gas alam, minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara yang dijajakan mentah-mentah ke seluruh belahan dunia.

Menurut dia, kebijakan hilirisasi industri mendorong agar semakin banyak proses pengolahan barang mentah dilakukan di Indonesia, sehingga keuntungan dalam bentuk penyerapan tenaga kerja, pendapatan pajak dan lain-lain dinikmati oleh mereka yang berada di Indonesia.

Wijayanto mengatakan diperlukan studi mendalam untuk benar-benar mengukur besarnya potensi keuntungan dari program hilirisasi industri. Namun demikian contoh sederhana manfaat hilirisasi industri dapat terlihat dari ekspor bijih tembaga.

"Jika kita menjual bijih tembaga, maka jumlah tenaga kerja yang diperlukan serta pendapatan pajak yang diperoleh hanya sedikit saja. Tetapi jika kita menjual tembaga yang sudah diproses, maka jumlah tenaga kerja yang terserap dan pendapatan pajak akan jauh lebih tinggi," kata dia.

Ekspor Minyak

Selain itu, gambaran sederhana lainnya yakni terlihat dari ekspor minyak mentah nasional. Jika harga satu liter minyak mentah adalah Rp6.500, kemudian Indonesia menjualnya dalam bentuk bensin, maka nilainya akan mencapai Rp10.500 per liter, atau ada nilai tambah sebesar 55%.

Jika Indonesia memasarkan dalam bentuk minyak pelumas non-syntetic nilainya akan berlipat-lipat menjadi Rp30.000 per liter, atau ada nilai tambah sebesar 350%. "Nilai tambah sebesar 55 % atau 350 % itu akan gagal ikut bersirkulasi dalam sistem ekonomi kita, jika kita masih mengandalkan struktur ekonomi tradisional yakni hanya mengekspor bahan mentah," paparnya.

Terlebih lagi, Wijayanto mengatakan jika program hilirisasi industri berhasil diberlakukan, maka secara jangka menengah dan panjang dampak positifnya tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga akan mampu mengurangi defisit perdagangan dan menjaga nilai Rupiah yang belakangan fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat.

Namun demikian Wijayanto menilai hilirisasi industri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pemberlakuannya membutuhkan investasi tinggi, termasuk ketersediaan energi yang besar. "Misalnya pembangunan smelter (fasilitas pengolah barang tambang mentah menjadi bernilai tambah) tentu membutuhkan investasi besar. Selain itu smelter untuk tembaga, besi, nikel, dan emas terkenal sangat boros energi," kata dia.

Diperlukan harmonisasi antar berbagai kebijakan, terutama kebijakan di sektor investasi, ekspor, perbankan, transportasi, energi, termasuk fiskal agar produsen energi lebih tertarik untuk menjual batubara dan gas alam ke dalam negeri untuk menjamin ketersediaan pasokan energi.

Menurutnya, seluruh investasi dan besarnya energi itu akan terbayar dengan hasil yang besar pula, tidak hanya bagi pengusaha selaku eksportir namun juga bangsa yang pada gilirannya berdampak positif bagi rakyat.

"Lagi pula dengan hilirisasi industri biaya produksi saya rasa justru akan menurun. Akan terdapat potensi penghematan luar biasa salah satunya biaya transportasi, misalnya biaya transportasi untuk mengekspor bijih tembaga atau emas, sudah pasti jauh lebih mahal daripada biaya untuk mengangkut emas dan tembaga batangan," kata dia.

Indonesia sebagai negara penghasil batu bara dan gas alam dengan cadangan yang cukup besar, kata dia, juga akan dimudahkan dengan biaya mengangkut energi yang lebih murah jika fasilitas smelter ada di dalam negeri, bukan di luar negeri.

Wijayanto menakar, dengan masih berlangsungnya praktik pungutan liar terhadap pelaku industri, sulitnya pembebasan lahan industri, korupsi dan lain-lain, maka secara realistis akan sulit mewujudkan hilirisasi industri yang benar-benar mandiri sebelum pemberlakuan pasar bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015.

"Hilirisasi perlu waktu cukup panjang. Tahun 2015 jelas tidak realistis, perlu paling tidak tiga hingga lima tahun," pungkasnya.