Kredit Fiktif, BSM Derita Rugi Rp 102 Miliar

Senin, 28/10/2013

NERACA

Jakarta – PT Bank Syariah Mandiri (BSM) memastikan mengalami rugi sebesar Rp 102 miliar akibat oknum pegawainya yang melakukan kredit fiktif kepada developer perumahan. Pasalnya, dari jumlah uang haram tersebut baru Rp 50 miliar yang kembali.

Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan BSM, Taufik Machrus mengatakan, perseroan mengalami derita rugi senilai Rp 102 miliar akibat kredit fiktif, “Perseroan menemukan adanya temuan mencurigakan di cabang bogor sejak 12 Septemberi 2012. Maka atas temuan itu kita segera turunkan tim audit internal. Kemudian untuk memperkuat diberlakukannya tindak pidana, kita juga segera lapor kepolisian pada waktu itu,”ujarnya di Jakarta kemarin.

Disebutkan, berdasarkan data yang ditemukan kepolisian telah terbukti ketiga pegawai PT Bank Syariah Mandiri melanggar ketentuan internal dan terlibat kasus korupsi. Nilai kerugian yang dibuat oleh ketiga pegawai tersebut mencapai Rp102 miliar.“Ketiga oknum pegawai tersebut, langsung kita pecat itu di antaranya, yaitu M Agustinus Masrie (MA) selaku Kepala Cabang Utama BSM Bogor yang sudah dipecat pada tanggal 4 Oktober 2013, Haerulli Hermawan (HH) sebagai Kepala Cabang Pembantu BSM Bogor yang sudah kita pecat pada tanggal 1 Desember 2012 dan John Lopulisa (JL) Accounting Officer BSM Bogor sudah kita pecat pada tanggal 1 November 2012,” papar Taufik.

Kata Taufik, korupsi ratusan miliar rupiah itu melibatkan nasabah dari sebuah developer yang mengadakan pembangunan perumahan di Bogor. Pada developer itu kepolisian juga menemukan berbagai macam dokumen palsu terkait kredit pembiayaan perumahan. “Untuk sementara ini terdapat 197 nasabah kredit perumahan yang ditemukan oleh kepolisian dari data kredit fiktif itu. Namun sampai saat ini kepolisian juga masih menyelidiki apakah orang-orang yang kredit perumahan itu fiktif juga atau tidak. Tapi yang pasti barang buktinya sudah ditemukan seperti itu,” tutur Taufik.

Taufik juga menegaskan, dampak dari kasus kredit fiktif itu tidak menggangu Non Performing Loan (NPL) BSM sama sekali. Pasalnya, BSM sendiri punya warning system yang terus memantau kondisi kesehatan keuangan internal. Lagi pula sebagai anak perusahan Bank Mandiri, BSM memiliki ketahanan modal yang cukup untuk mengatasi hal itu. “Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan, sistem kita juga bisa mendeteksi perimeter-perimeter tertentu. Salah satu kecanggihan sistem kita dengan terbukti cepat ketemu pergerakan uang yang mencurigakan. Dan kalau bicara NPL hingga saat ini kita tidak melihat ada gangguann akibat kasus tersebut,”ungkapnya. (lulus)