Perekonomian Indonesia Tergantung "TeenPreneur"

Senin, 28/10/2013

Demi meningkatkan perekonomian, Indonesia perlu meningkatkan rasio wirausahawan terhadap jumlah penduduknya. Unruk itu,Indonesia perlu memulainya dengan mengembangkan populasi wirausahawan muda (TeenPreneur) sejak saat ini.

"Rasio wirausahawan terhadap jumlah penduduk di Indonesia masih rendah dibandingkan negara tetangga," kata Direktur PT Dwi Aneka Jaya Kemasindo, Witjaksono disela-sela deklarasi Asosiasi Pergerakan Ekonomi Islam (APEI) di Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu, dia berharap dengan pembentukan APEI akan berkontribusi untuk meningkatkan jumlah wirausahawan muda di Indonesia, sehingga mampu mendongkrak minat generasi muda untuk menjadi wirausahawan.

Pihaknya siap untuk menanamkan jiwa kewirausahaan kepada generasi muda di Indonesia dengan memberikan pelatihan di sekolah, mulai jenjang SMU hingga mahasiswa. Ya, menanamkan jiwa enterpreneurship sejak usia dini merupakan salah satu solusi untuk menggerakkan perekonomian umat muslim di masa mendatang.

"Menjadi TeensPreneur memang tidak mudah. Bahkan bisa jadi sedikit lebih berat ketimbang menjadi pengusaha dewasa. TeensPreneur disamping harus mengurusi bisnisnya, tetap harus mengerjakan PR dan tugas-tugas sekolah," katanya.

Apalagi, saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan rasio entrepreneur yang rendah dibandingkan Singapura dan Malaysia. Rarasio entrepreneur di Indonesia terhadap jumlah penduduk sebesar 1,6%, atau di bawah standar minimum sebesar 2% sebagai syarat untuk menjadi negara yang perekonomiannya lebih maju.

Jumlah pengusaha Indonesia, lanjut Witjaksono sekitar 3,9 juta dari total 240 juta penduduk, sehingga tertinggal dalam berbagai bidang dibandingkan negara tetangga. Karena semua negara maju memiliki rasio entrepreneur di atas 5%. “Negara maju seperti Singapura, rasio entrepreneur 7,2%, Jepang sekitar 10% dengan populasi 127 juta jiwa. Di Indonesia rasionya hanya 1,6% dari jumlah penduduk," katanya.

Upaya Pemerintah

Senada dengan Witjaksono, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Eugenia Mardanugraha juga menilai cara yang paling tepat untuk menambah jumlah pengusaha Indonesia adalah dengan menanamkan jiwa entrepreneur sedari kecil.

“Masyarakat Indonesia itu cenderung konsumtif daripada produktif. Pemerintah cuma mendorong menjadi pengusaha, tapi tidak memberikan perubahan dalam sikap mental masyarakat. Tidak ditanamkan dari kecil untuk produktif. Akar masalahnya dalam edukasi ke masyarakat sejak kecil untuk membeli, tapi tidak pernah diajarkan untuk menjual,” kata Eugenia kepada Neraca, belum lama ini.

Perlu diketahui, jumlah entrepreneur di Indonesia masih terbilang kecil dan belum sepadan dengan proporsi entrepreneur di negara maju. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2013, jumlah penduduk yang berusaha dan dibantu buruh tetap adalah 4,03 juta orang atau kurang dari 2% penduduk Indonesia. Jumlah tersebut terbilang cukup kecil dibanding negara-negara lain dan perlu ditingkatkan.“Di beberapa universitas, fakultas ekonomi, ada kurikulumya untuk jadi entrepreneur, tapi itu belum cukup. Harusnya diajarkan dari level pendidikan yang lebih bawah,” kata Eugenia.

Pelajaran awal, lanjut Eugenia, mungkin bisa dimulai dengan mengajarkan bagaimana caranya berhemat, bagaimana cara berinvestasi. Baru kemudian bisa dikembangkan ke cara-cara membuat sebuah usaha.

Menurut Eugenia, penyediaan permodalan seperti yang difasilitasi Pemerintah lewat Kredit Usaha Rakyat (KUR) belumlah menjawab permasalahan dasar. Di samping juga, ternyata di lapangan penyaluran KUR kurang baik. “Permodalan itu tidak menjawab. Kalau orang tidak punya mental, itu akan terus rugi. Itu tidak disadari Pemerintah,” kata dia

Kalau sudah begitu, Euginia percaya pemerintah dapat merealisasikan apa yang diinginkannya. maklum, telah lama pemerintah ingin mendorong jumlah entrepreneur di Indonesia agar nantinya dapat menciptakan lapangan kerja dan pada akhirnya menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan.