Kadin Dorong Investor dan Produk Lokal Jadi Pemain Global

Senin, 28/10/2013

NERACA

Jakarta - Meski keinginan untuk menjadikan produk lokal sebagai unggulan di pasar global memerlukan tahapan yang akan memakan waktu karena berbagai alasan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong agar pelaku usaha Indonesia bisa menjadi pemain di kancah internasional.

Ketua umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan, pada tahap awal menuju kesana memang diperlukan langkah di mana produk lokal justru dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang sangat besar. “Pemenuhan kebutuhan pasar dalam negeri ini penting bukan saja untuk mengurangi impor tetapi juga untuk memantapkan kualitas serta brand image produk yang memenuhi standar internasional,” kata Suryo.

Dengan tercapainya kedua faktor tersebut, kata Suryo, maka bukan saja konsumen domestik yang terpenuhi kebutuhannya, tetapi juga para pembeli dari mancanegara dapat ditarik untuk datang berbelanja ke Indonesia. Dia mencontohkan, Pasar Tanah Abang di Jakarta yang selama ini sudah dikenal di beberapa negara ASEAN sebagai pusat grosir produk-produk tekstil. Menurutnya, di masa depan Indonesia perlu mempromosikan lebih luas pusat-pusat belanja berbagai produk di daerah-daerah lain.

Kepuasan pemerintah untuk membuka bursa komoditi hasil tambang timah putih di Indonesia merupakan langkah yang sangat strategis. Indonesia sudah sejak lebih dari dua abad telah menjadi salah satu prosuden timah terbesar dengan mutu yang terbaik di dunia. Adalah keputusan yang strategis dan berani untuk menjadikan bursa saham timah Indonesia sebagai acuan harga internasional. Langkah-langkah berani serta strategis semacam itu perlu kita kembangkan terus di masa depan.

Lebih jauh Suryo memaparkan, langkah-langkah besar, berani dan strategis lain adalah upaya BUMN untuk melakukan investasi di beberapa negara lain. BUMN Indonesia sudah merintis investasi pabrik semen di beberapa negara ASEAN. Demikian juga investasi dalam penggemukan sapi di Australia. Tentu pada kasus tertentu ekspansi investor Indonesia ini menimbulkan kecemasan di negara tertentu. “Kita harapkan BUMN dan investor swasta Indonesia berani membeli kilang BBM di negara lain, melakukan akuisisi bank luar negeri, investasi di jaringan usaha retail dan sebagainya,” kata Suryo.

Menurutnya, langkah semacam itu bukan merupakan capital flight karena mempunyai nilai strategis baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk melayani pemasaran produk dalam negeri.

Suryo mengatakan, dengan melakukan land grabbing negara-negara yang kekurangan lahan subur untuk pertanian sudah banyak contoh suatu negara yang bertani di negara lain guna memenuhi pangan di negaranya. Ia mencontohkan, Korea dan Arab Saudi sudah bertani di beberapa negara Afrika untuk memenuhi pangan negaranya. “Ada juga negara yang menanam ubi kayu di Indonesia untuk produksi etanol untuk memenuhi kebutuhan BBM di negaranya. Mengapa kita tidak menanam kedelai di negeri orang dengan membawa petani kita ke sana?,” katanya.

Menurut Suryo, dalam era terbuka ini justru seharusnya kepentingan nasional perlu dibela dan membuat nasionalisme menjadi semakin kuat. “Indonesia memerlukan nasionalisme yang kuat untuk menggunakan produk dalam negerinya. Kita juga perlu terus mengembangkan pemikiran yang global oriented dengan act locally secara efektif dan efisien,” kata dia.

Jangan Minder

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Chris Kanter mengajak para pelaku usaha nasional untuk tidak merasa minder berkiprah di kancah dunia. Pasalnya, Indonesia yang sekarang tidak seperti Indonesia yang lalu-lalu. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu di atas 5% dan diatas pertumbuhan rata-rata ekonomi di dunia. Indonesia merupakan pasar yang terbesar ke 4 di dunia. Bukan hanya sebagai pasar saja, tetapi juga sebagai tempat untuk berproduksi,” kata Chris di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional Kadin Bidang Investasi, Perdagangan dan Hubungan Internasional di Jakarta, (25/10).

Meski Indonesia membutuhkan aliran dana internasional untuk memperkuat neraca pembayaran dan mengakselarasi pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perekonomian dunia yang masih mengalami pergolakan aliran dana investasi yang bergerak dinamis, namun Kadin juga mendorong investor dalam negeri untuk bisa berkiprah dalam pengembangan industri ke depan. “Kita harapkan investor daerah dapat mengembangkan potensi ekonomi daerah. Tidak menutup kemungkinan pelaku daerah bisa masuk ke lingkup regional,” kata Chris.

Sementara itu terkait banyaknya tantangan ekonomi dengan adanya Free Trade Agreement (FTA), Chris mengatakan, pelaku usaha bersama dengan pemerintah harus jeli melihat hal-hal mana yang harus diprotect. Tetapi juga tidak menutup diri untuk sektor-sektor usaha yang membutuhkan investasi asing. “Harus pintar memilih yang sifatnya komplementer dan menjaga sektor-sektor sensitif,”.

Meski menghadapi dinamika politik di tahun depan, Chris memperkirakan prospek investasi asing tidak akan berubah signifikan. “Kita akan cukup baik meski sementara pandangannya bisa berpengaruh karena ada perubahan pemerintahan. Tetapi itungan pengusaha bisa lebih daripada tahun ini,” pungkas Chris.