OJK Gandeng Kemendikbud

Tingkatkan Edukasi

Senin, 28/10/2013

NERACA

Jakarta - Untuk meningkatkan pengetahuan dan perlindungan konsumen jasa keuangan kepada pendidik, peserta didik dan masyarakat terhadap produk dan layanan lembaga jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta delapan perguruan tinggi untuk mengkampanyekan hal tersebut.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D Hadad mengatakan, saat ini masih banyak masyarakat Indonesia yang masih belum melek keuangan. Karena itu, OJK telah menyiapkan beberapa strategi guna dikembangkan bersama Kemendiknas dan perguruan tinggi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.“Masih banyak masyarakat yang belum melek finansial dan sangat perlu ditingkatkan. Hal ini serius karena keterbatasan pengetahuan dan mebatasi masyarakat terhadap akses keuangan,” kata Muliaman di Jakarta akhir pekan lalu.

Beberapa langkah yang akan dilakukan bersama Kemendikbud yakni, penyampaian informasi dan edukasi kepada pendidik, peserta didik dan masyarakat atas produk dan layanan jasa keuangan. “Kedua adalah memberdayakan pendidik, peserta didik, dan masyarakat dalam penyampaian informasi dan program edukasi kepada masyarakat atas produk dan layanan jasa keuangan keuangan pada industri perbankan, industri keuangan non bank, dan pasar modal,” tambah dia.

Selanjutnya, berkaitan dengan penyediaan kemudahan akses bagi pendidik dan peserta didik dan masyarakat dalam melakukan pengaduan apabila dirugikan lembaga jasa keuangan. Sedangkan kerja sama dengan perguruan tinggi dilakukan melalui penelitian bersama dan atau pemberian bantuan penelitian, serta kerjasama pengajaran melalui penyusunan silabus mata kuliah dan modul terkait pengembangan sektor jasa keuangan.

Kerja sama juga dilakukan dengan peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen."Pemerintah mendorong program financial incusion, di mana sejalan dengan keinginan OJK. Oleh karena itu, literasi merupakan hal yang sangat penting," ujar Muliaman. Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, mengatakan dari 250 juta penduduk Indonesia, sebagiannya masih belum memiliki kepercayaan terhadap fungsi lembaga keuangan, dalam hal ini perbankan“Dari data tahun 2011, 15% masyarakat masih melakukan penyimpanan uang dibawah bantal mereka dan yang meminjam melalui lembaga keuangan hanya sekitar 9%,” ujar Musliar. (sylke)