OJK Berharap Indeks Kembali 5000 - Dampak Paket Kebijakan Baru

NERACA

Jakarta – Empat paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk menjaga perekonomian nasional, disambut baik pelaku pasar dan termasuk investor pasar modal. Oleh karena itu, kebijakan tersebut diyakini akan menjadi sentimen positif terhadap indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida mengatakan, empat kebijakan pemerintah menjadi positif bagi pasar karena kebijakan tersebut juga bertujuan menahan sentimen negatif eksternal bagi pasar modal, “Dari sisi indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia efeknya sangat baik,”katanya di Jakarta, kemarin.

Dia menuturkan, indeks BEI perlahan positif. Ketika itu indeks BEI sempat sampai di level 3.900 poin dan sekarang sudah kembali ke kisaran 4.500 poin. Menurut dia, kebijakan bersama dari pemerintah itu juga mendorong kepercayaan pasar terhadap industri pasar modal Indonesia secara keseluruhan."Secara keseluruhan dampaknya baik, sentimen positif lainnya dari global seperti kembalinya kegiatan pemerintahan di AS," ucap dia.

Dirinya berharap, dampak dari kebijakan yang dirilis pemerintah bisa membawa indeks BEI kembali ke level 5.000 poin. Hal senada juga disampaikan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat, empat paket kebijakan pemerintah akan baik bagi pasar keuangan dalam negeri, “Kebijakan selanjutnya tentu akan mendukung yang sebelumnya, diharapkan nilai tukar rupiah dapat stabil terhadap dolar AS,"kata dia.

Mata uang yang stabil, kata Samsul akan membuat kepercayaan investor bertambah dan sebaliknya, jika fluktuasinya lebar atau tidak dapat diprediksi akan membuat sentimen yang kurang baik bagi investor. Sementara Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menilai, paket kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah diperkirakan memberikan efek positif bagi indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa, “Paket kebijakan ini menjadi positif dalam menjaga stabilisasi pasar keuangan Indonesia, disamping euforia pasar global atas tercapainya kesepakatan sementara di AS,”ujarnya.

Alfiansyah menuturkan, pemerintah Indonesia saat ini terus berbenah dengan menyiapkan paket kebijakan ekonomi baru guna mendukung paket kebijakan yang telah diluncurkan, Selain itu, pemerintah juga menempuh jalan agar bisa memberikan kepercayaan kepada para pelaku pasar dengan kesepakatan kerja sama bilateral "swap agreement" dengan beberapa negara mitra ekonomi Indonesia,”Diharapkan dengan langkah yang ditempuh ini mampu menjaga ketahanan cadangan devisa. Pemerintah telah melakukan perjanjian untuk memperkuat kerja sama keuangan dengan China, Jepang, dan Korea," kata dia.

Sebagai informasi, pemerintah telah menyiapkan paket kebijakan sebagai tindakan mendorong ekspor dan memberikan tambahan pengurangan pajak untuk ekspor padat karya yang memiliki ekspor minimal 30% dari total produksi, dan menurunkan impor minyak dan gas dengan mendorong penggunaan biodiesel.

Kemudian, menetapkan pajak impor barang mewah dari sekarang 75% menjadi 125 – 150% dan memperbaiki ekspor mineral dengan memberikan relaksasi kuota, “Paket kedua ditujukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa.

Pemerintah, kata Hatta, akan memastikan defisit fiskal tetap berada pada kisaran aman 2,38% serta penambahan pengurangan pajak untuk industri padat karya. Sementara itu, paket ketiga terkait dengan upaya untuk menjaga daya beli masyarakat dan tingkat inflasi.

Pemerintah, kata Hatta, akan bekerja sama dengan Bank Indonesia terkait inflasi. Sedangkan untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah berkomitmen untuk mengubah tata niaga sejumlah komoditi yang harga di pasarannya mudah terganggu.

Sedangkan paket terakhir atau keempat adalah upaya untuk mempercepat investasi. (bani)

Related posts