Nilai Emisi Obligasi Tembus Rp 48,78 Triliun

Senin, 28/10/2013

NERACA

Jakarta – Sampai dengan 25 Oktober 2013, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi obligasi maupun sukuk sebanyak 49 emisi dari 41 emiten senilai Rp48,78 triliun. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah, dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan II Adira Finance tahap II tahun 2013 yang diterbitkan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) sebesar Rp2,092 triliun. Obligasi tersebut terdiri atas tiga seri, yakni seri A senilai Rp722 miliar dengan jangka waktu 370 hari, seri B senilai Rp880 miliar memiliki jangka waktu 36 bulan dan seri C senilai Rp490 miliar dengan jangka waktu 60 bulan.

Obligasi ini mendapat peringkat idAA+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Adapun, PT Bank Negara Indonesia (BNI) bertindak sebagai wali amanat dalam emisi obligasi ini. Sementara pada 9 Oktober 2013 lalu, PT Duta Anggada Realty Tbk (DART) juga mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Duta Anggada Realty tahap I tahun 2013 senilai Rp250 miliar dengan tenor 5 tahun.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 238 emisi dari 102 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp214,77 triliun dan US$ 100 juta. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 99 seri sebesar Rp984,62 triliun dan lima Efek Beragun Asset (EBA) senilai Rp1,56 triliun.

Analis obligasi dari PT Penilai Harga Efek Indonesia, Fakhrul Aufa pernah mengatakan, gejolak ekonomi global yang berpengaruh terhadap volatilitas di pasar modal juga berimbas pada pasar obligasi beberapa negara. Tidak terkecuali Indonesia yang tercatat sebagai negara “emerging market”.

Apalagi setelah adanya isu pengetatan stimulus yang akan dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan keluarnya dana-dana asing di pasar modal (capital outflow). “Sentimen ini menyebabkan terjadinya capital outflow sehingga juga membuat nilai tukar semua negara melemah terhadap dolar, “ujarnya.

Indonesia menurutnya, menjadi yang terkoreksi paling besar. Pasalnya, sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, return pasar obligasi untuk Indonesia anjlok 17,8% dibanding negara Asia lainnya seperti Singapura dan China yang masing-masing mengalami penurunan sebesar 7,8% dan 3,1%.

Sementara Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Destry Damayanti mengatakan, minimnya peran investor lokal ikut memicu tekanan terhadap pasar obligasi negara. Saat ini, aktivitas jual beli atau trading obligasi negara didominasi oleh asing mencapai 70%. Sedangkan investor lokal cenderung menggenggam kepemilikan obligasi dan hanya sekitar 30% saja yang melakukan trading. (bani)