Bank Victoria Raup Laba Rp218 Miliar

Jumat, 25/10/2013

PT Bank Victoria International Tbk (BVIC) mencatatkan kenaikan laba bersih 61,5% atau menjadi Rp218 miliar pada kuartal ketiga 2013 dibanding periode yang sama tahun 2012 sebesar Rp135 miliar. Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income) meningkat Rp94 miliar. Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (24/10).

Disebutkan, perseroan mencatatkan pertumbuhan Net Interest Margin (NIM) dari 3,01% pada September 2012 menjadi 3,50% di September 2013. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 77,5% dan rasio efisiensi (BOPO) yang terjaga pada level 77,4%. Sementara persentase kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) mengalami pertumbuhan 0,8%. Adapun pertumbuhan kredit dan pembiayaan syariah mencapai 43% menjadi Rp10,3 triliun.

Pada periode ini, perseroan mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 27,9% menjadi US$13,3 triliun. Total aset perseroan mencapai Rp17,2 triliun dengan ekuitas sebesar Rp1,49 triliun. Diketahui, pada Juni 2013 perseroan menerbitkan obligasi IV tahun 2013 senilai Rp200 miliar dengan kupon sebesar 9,5%.

Rencananya, perseroan akan menggunakan dana yang diperoleh dari hasil penerbitan obligasi untuk mendukung modal kerja dan ekspansi.“Setelah dikurangi biaya-biaya emisi, dana obligasi seluruhnya akan digunakan untuk modal kerja dan pengembangan usaha, terutama untuk pemberian kredit.” kata Direktur Utama Bank Victoria, Eko R Gindo.

Obligasi ini telah mendapat rating idA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Sementara untuk obligasi subordinasi III 2013 senilai Rp300 miliar memiliki jangka waktu 7 tahun dengan kupon 10%-10,5%. Penerbitan obligasi subordinasi mendapatkan rating idBBB+ dari lembaga yang sama.

Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi subordinasi ini, lanjut dia, setelah dikurangi biaya emisi seluruhnya akan digunakan untuk modal pelengkap level bawah (lower tier 2) yang digunakan dalam memperkuat struktur pendanaan jangka panjang. “Dengan subdebt Rp300 miliar, jika terserap pasar kemungkinan akan naik jadi 18%,” imbuhnya. (lia)