BI Optimis Pertumbuhan Ekonomi Capai 6,2%

Keyakinan Inflasi Terjaga

Jumat, 25/10/2013

​NERACA

Jakarta - Menatap pertumbuhan ekonomi pada 2014 mendatang, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Dermawan Wintarto Martowardojo mengaku optimis, pertumbuhan ekonomi tahun depan diperkirakan mencapai 5,8% hingga 6,2%, “Kita optimis tahun depan pertumbuhan ekonomi masih positif karena keyakinan inflasi pada level aman,”katanya di Jakarta, Kamis (24/10).

Sejauh ini, kata Agus, bank sentral memandang tekanan yang terjadi terhadap inflasi semakin mereda. Bahkan, menurutnya, walaupun sebantar lagi memasuki tahun Pemilihan Umum (Pemilu) diperkirakan inflasi tidak akan bergerak terlalu liar, “Tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, kami juga optimis terhadap tekanan atas kebutuhan pokok tahun depan tidak akan terjadi lagi,”tandasnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, pihaknya meyakini Pemilu tahun depan, tidak akan mempengaruhi permintaan secara berlebihan. Karena, menurut dia, pemerintah telah melakukan sejumlah antisipasi, agar tingkat inflasi bisa terjaga dengan baik.“Saya nilai, kekuatan konsumsii domestik masih bisa menjadi ppijakan untuk tumbuh, namun BI sudah mengerem pertumbuhan kredit perbankan agar senantiasa berada dikisaran yang ideal,” ucap Agus.

Menurut Agus, BI juga siap membantu pemerintah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan menjadi dibawah 3%. Dia berharap, penekanan tersebut bisa memberikan keringanan bagi nilai tukar rupiah. “Kita membantu dari dunia perbankan, pengendalian ini akan dilakukan secara rasional dan ketahanan tertentu dan kinerja oleh perbankan, ini juga diharapkan mampu memberi dukungan bagi perekonomian,” jelas dia.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, arah pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah sesuai arahnya. Yakni, dengan menurunnya tingkat inflasi dan meredanya transaksi berjalan. Selain itu, mulai stabilnya nilai tukar rupiah dan pasar keuangan Indonesia.“BI akan terus memantau agar indikator ekonomi tersebut bisa terus dijaga. Yakni, difokuskan dengan pendalaman pasar keuangan, untuk memperkuat kemampuan Indonesia untuk mengantisipasi keluarnya dana asing dari Indonesia,” ujar Perry.

Bahkan, lanjutnya, berbagai respon yang telah dikeluarkan BI, baik paket kebijakan ataupun menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate merupakan langkah-langkah agar perekonomian Indonesia dapat terus terjaga dengan baik, terutama membaiknya indikator perekonomian Tanah Air.“Kita lihat kredit juga sudah menurun. Jadi, kita memang terus memantau perkembangan dan melakukan penyempurnaan optimalisasi aturan”, ungkap Perry.

Kurs Rupiah

Sementara Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara menambahkan, untuk menjaga stabiltas ekonomi, bank sentral telah melakukan kebijakan moneter dan telah mengaddress kurs rupiah agar menemukan ekulibrium yang baru, yang sesuai dengan fundamental ekonomi dalam negeri, menurut dia hal ini tidak perlu dikhawatirkan,”Selain itu diharapkan dengan kurs rupiah saat ini, fundamental kita membaik, jadi defisit ekspor dan impor bisa dikurangi, seperti kemarin kuartal kedua current account defisitnya itu mencapai 4,4% itu kan tidak sehat,” ujar Mirza.

Selain itu, sisi positif dengan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini, menurut Mirza merupakan momen yang cukup baik untuk menekan masuknya impor. “Sehingga neraca transaksi pembayaran yang defisit bisa ditekan, jika waktu itu rupiah kita coba tahan di level Rp9600 per dolar AS, maka yang terjadi cadangan devisa (cadev) kita bisa tergerus,” kata dia.

Mirza mengungkapkan, bank sentral berusaha untuk menurunkan defisit agar berada dibawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). “Jika defisitnya sekitar 2,5%-2,7% di tahun 2013 itu yang kita sesuaikan, mudah mudahan bisa dilakukan adjustment terhadap pengurangan impor dan meningkatkan kompetitif ekspor,” jelas dia.

Bank Indonesia memprediksi defisit transaksi berjalan di triwulan III-2013 membaik dibanding triwulan II-2013. Prediksi BI, defisit transaksi berjalan pada triwulan III-2013 bisa mencapai 3,4% atau membaik dibanding triwulan II 2013 yang menembus 4,4%. Bank sentral mencatat, defisit transaksi berjalan mencapai US$5,8 miliar pada triwulan I 2013 dan melonjak menjadi US$9,8 miliar pada triwulan II 2013. (slyke)