Industri Konstruksi di Indonesia Masih Terbentur Modal

Kendati Mampu Gelar Ekspansi ke Luar Negeri

Jumat, 25/10/2013

NERACA

Jakarta - Perusahaan konstruksi Indonesia kini sudah mampu melakukan ekspansi ke luar negeri, hal itu seiring kualitas dan efisiensi dalam melakukan pekerjaan. Meski demikian, perusahaan konstruksi Indonesia masih terkendala permodalan.

Kepala Pusat Pembinaan Sumber Daya Investasi, Mochamad Nasir mengatakan, saat ini industri kontruksi Indonesia terus berkembang seiring perkembangan ekonomi. Perusahaan konstruksi Indonesia tak hanya bermain di dalam negeri, industri tersebut juga bermain ke manca negara. "Produk kita sudah dikenal di Aljazair, Timor Leste, Myanmar," kata Natsir di Jakarta, Kamis (24/10).

Menurut Natsir, yang membuat perusahaan kontruksi bisa bermain di luar negeri karena bisa bekerja dengan cepat dan kualitas yang baik. "Pekerja kita satu lantai lima hari, sedangkan di Saudi satu lantai 10 hari itu sudah dihormati," ujar Natsir.

Meski sudah dapat berkembang, menurut Natsir, industri konstruksi Indonesia masih terbentur masalah permodalan. "Akses permodalan, problem utama kita di sana," kata Natsir.

Natsir mengungkapkan, untuk membangun sebuah proyek, perusahaan kontruksi harus mengeluarkan kocek sendiri. Sedangkan jika meminjam dari bank dikenakan bunga yang tinggi sehingga membuat tidak efisien."Pembiayaan dua digit, sedangkan di luar neger satu digit, bunga bank menjadi cost of money, membuat penawar kita berpengaruh, menurunkan bunga bank tergantung mekanisme perbankan," ujar Natsir.

Sementara itu,Kepala Badan Pembinaan Kontruksi, Hediyanto W Husaini di Gedung Kementrian PU mengungkapkan untuk menghadapi menghadapi pasar bebas ASEAN 2015, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) yakin perusahaan konstruksi Indonesia bakal memenangkan persaingan dari beberapa perusahaan kontruksi negara. "Tapi kalau untuk Korea dan Jepang, kita (harus) lebih giat lagi," ungkapnya.

Hediyanto menyatakan optimisme yang disampaikannya itu bukannya tanpa alasa jelas. Saat ini tercatat banyak perusahaan konstruksi milik pemerintah yang sudah berpengalaman dalam aktifitas pembangunan di beberapa negara lain."Kalau dilihat perjalanan sejarahnya, kontraktor kita pernah bekerja di Filipin dan Malaysia, dan kita mau bekerja di Myanmar, tapi mereka tidak pernah kerja disini," jelas dia.

Bukti lain nyang menunjukan kehebatan kontraktor Indonesia adalah kepercayaan yang diperoleh PT Waskita Karya Tbk dalam pembangunan Masjidil Haram di Arab Saudi. Untuk membantu daya saing dalam industri kontruksi, Kementerian PU menegaskan peran perbankan menjadi faktor yang sangat penting.

Untuk itu, dirinya berharap kalangan perbankan bisa ikut andil membantu ekspansi pembangunan infrastruktur potensial dari perusahaan konstruksi nasional di beberapa negara. "Teknologi juga, pikiran kita bagaimana cara kita memasuki wilayah mereka karena kita lebih berpengalaman," tegasnya.

Disisi lain Hediyanto mengatakan, kini perusahaan konstruksi dalam negeri sudah biasa menggarap proyek-proyek konstruksi di luar negeri."Indonesia sudah pasti bersaing kita pernah bikin jalan tol Malaysia,di Filipina, Manila sebagian dibangun Indonesia, di Aljazair, Saudi Arabia, salah satu sub kontrukor Waskita karya, nanti tahun depan kita berkiprah dengan Myanmar," kata dia.

Husnaini mengungkapkan, pengalaman perusahaan Indonesia yang banyak menggarap proyek di luar negeri menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan Indonesia dapat bersaing di kancah perdagangan bebas Asean 2015."Indonesia sering bikin pasti tahu caranya, kalau tidak ada proyek tidak tahu, kita bisa bikin airport ratusan, sementara Singapura cuma bikin satu saja, tidak ada alasan Indonesia kalah dengan negara kecil," kata Husaini.

Selain itu, Husnaini memperkirakan, industri beton akan paling maju ke depannya. Hal itu karena beton merupakan komponen terbanyak dalam sebuah proyek konstruksi.

"Sebagai besar kontruksi adalah beton dengan batu bata atau Precast (beton pra cetak seperti di Antasari. kenapa mendorong? Ini akan mengikuti rantai pasok, maka didorong ke pabrik, keuntungannya, efisiensi, ke depan propek beton Precast, produk kita sudah dikenal di Aljazair, Timor Leste, dan Myamar," ujar Husaini.

Jauh sebelumnya, Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak, menjelaskan perhelatan akbar Konstruksi Indonesia 2013 yang akan dilaksanakan pada 13-15 November 2013 mendatang diharapkan dapat mendorong sektor industri dan jasa konstruksi di Indonesia.

“Acara ini juga dapat menjadi ajang promosi dalam rangka membangkitkan investasi dan gairah konstruksi nasional,” kata Dardak. Dia menilai, sejauh ini telah terjadi peningkatan pada industri konstruksi Indonesia. Contoh yang paling mudah terlihat adalah bahwa dahulu ketika membangaun infrastruktur jembatan, semuanya dibangun di lapangan. Biaya konstruksinya menjadi mahal, kualitasnya pun terbatas.