Mansek Targetkan 1% Nasabah Masuk Pasar Modal

Jumat, 25/10/2013

NERACA

Jakarta – Meningkatkan jumlah investor lokal di pasar modal untuk mengejar ketertinggalan dengan pasar modal negara tetangga, tidak hanya menjadi perhatian serius PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini juga menjadi perhatian PT Mandiri Sekuritas. Sebagai salah satu anggota bursa, Mandiri Sekuritas mengharapkan minimal 1% dari jumlah nasabahnya sebanyak 13 juta pemilik rekening masuk ke pasar modal.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas Abi Prayadi Riyanto mengatakan, dengan masuknya sekitar 130 ribu investor baru akan menguatkan jumlah investor domestik khususnya ritel. Sehingga hal ini akan menyeimbangkan jumlah antara investor domestik dan asing. “Jika 1% dari jumlah nasabah kita masuk pasar modal, tentu saja akan menambah jumlah investor yang akan membantu meningkatkan jumlah investor domestik,”ujar dia di Jakarta, Kamis (24/10).

Dirinya mengakui, kesulitan yang dihadapi adalah mengedukasi dan sosialisasi ke masyarakat yang awam pasar modal. Padahal dengan adanya rencana penurunan lot saham akan sangat membantu dan memudahkan investor yang mau berinvestasi di pasar modal.“Kalau yang sudah sedikit mengetahui pasar modal kita klebih mudah menjelaskannya terutama soal adanya rencana pengurangan lot saham yang akan membuat mereka (calon investor) dengan modal lebih kecil bisa masuk investasi di sini. Tetapi kalau yang benar-benar awam, sangat sulit. Karena mereka saja tidak tahu jumlah lot saham sebelumnya”, jelas dia.

Dia menambahkan, tidak hanya sosialisasi dan edukasi yang diberikan ke masyarakat, Mandiri Sekuritas juga menjelaskan mengajarkan dengan cara simulasi bertransaksi di pasar modal. Bahkan, jika perlu akan diberikan uang untuk simulasi tersebubt.

Selain itu, dengan adanya kenaikan BI Rate yang membuat suku bunga naik, membuat pasar modal menjadi tujuan yang tepat untuk memperoleh dana bagi pengembangan usaha perusahaan. “Sekarang ini bank-bank sudah nervous dalam memberikan kredit pinjaman dengan naiknya suku bunga, sehingga pasar modal dapat dijadikan sarana untuk mencari modal pengembangan usaha”, ujar dia.

Sementara itu, dia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2007 sektor mining cukup memegang peranan dalam pasar modal namun, seiring pertumbuhan ekonomi dan GDP, sektor konsumer justru dapat bertahan hingga saat ini. Hal ini mebuktikan bahwa kelas ekonomi masyarakat dari low-medium income berubah menjadi kelas medium.“Sehingga ini cukup bagus bagi pertumbuhan kita. Sektor konsumer justru dapat bertahan karena memang konsumsi memegang peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian kita”, ujarnya.

Pengamat ekkonomi Prasetyantoko menilai bahwa pemodal asing yang telah menarik dananya akan kembali lagi khususnya ke pasar modal dan obligasi. Hal ini disebabkan Indonesia masuk sebagai negara emerging market yang masih cukup menarik untuk berinvestasi.“Tetapi kalau ada yang masuk, kita jangan hanya memnikmati sehingga terlena. Kita juga harus berjaga-jaga kalau mereka suatu waktu menarik dananya lagi. Karena pemodal asing itu mudah masuk dan pergi, mereka mencari investasi yang memberikan return tinggi”, ujar dia. (nurul)