Nilai Transaksi TEI Belum Capai Target

Jumat, 25/10/2013

NERACA

Jakarta – Penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-28 tahun 2013 ditargetkan mencapai nilai transaksi US$2 miliar. Namun demikian, sampai dengan usainya penyelenggaraan acara tahunan tersebut, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengungkapkan bahwa transaksi TEI telah mencapai US$1,82 miliar. Hal ini, menurut Gita merupakan capaian tertinggi bila dibandingkan penyelenggaraan TEI tahun lalu.

“Nilai transaksi TEI 2013 telah mencapai US$1,82 miliar. Ini telah mencapai rekor bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang hanya mencapai US$1 miliar. Walaupun ada sebagian besar dari angka itu adalah investasi. Tapi ini yang bikin lebih menarik,” kata Gita dalam konferensi pers Trade Expo Indonesia di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (24/10).

Namun demikian, Gita mengungkapkan bahwa masih banyak transaksi yang dilakukan di luar TEI yang belum tercatat, dimana para buyers banyak mengunjungi sejumlah produsen di daerah untuk melihat proses produksi dari dekat. “Jika realisasi kontak dagang yang telah tercatat diakumulasi dengan yang masih dalam tahap negosiasi, maka diyakini target US$ 2 miliar sangat mungkin tercapai,” jelasnya.

Ia memaparkan dari total transaksi tersebut, transaksi barang tercatat 37,91%, jasa 3,61% dan investasi sebesar 58,49%. Investasi berasal dari 14 negara yaitu Jepang, Inggris, Taiwan, Australia, Rusia, India, Mesir, Uni Emirat Arab, Nigeria, Thailand, Brasil, Korea Selatan, Hungaria, dan Afrika Selatan. “Dari jumlah buyers, yang terbanyak dari RRC 11,8%, posisi kedua diikuti dengan Jepang 6,2%, Australia 5,3%, Afsel 4,8%, lalu India, Korsel, Amerika Serikat, Zimbabwe, Malaysia, dan Saudi Arabia,” papar Gita.

Para buyers atau pembeli tersebut didominasi oleh negara non tradisional sebanyak 77,54%. Selain itu TEI tahun ini juga diramaikan oleh adanya pembeli pendatang baru yang berasal dari Suriname, Papua Nugini, Yaman, Aljazair, Bulgaria, dan Kamerun. “Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan diversifikasi pasar oleh pemerintah membuahkan hasil,” katanya.

Ditambahkan Gita, setidaknya ada sepuluh produk yang menjadi favorit pembeli selama penyelenggaraan TEI 2013. Produk itu mulai dari pertanian, furniture, otomotif dan komponennya, kopi, makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, listrik dan produk elektronik, barang barang kebutuhan rumah tangga, rempah rempah, serta kertas dan produk kertas. “Untuk sektor jasa itu ada tenaga kerja di bidang konstruksi dan manufaktur, hospitality, minyak dan gas, terapis spa, teknologi informasi, serta perawat dan pengasuh yang paling diminati,” katanya.

Permintaan paling banyak untuk sektor jasa berasal dari Afrika Selatan, Australia, Malaysia, Suriname, Lesotho, RRT, Arab, Taiwan, Iraq dan Chile. Pembeli produk Indonesia paling besar berasal dari China sebesar 11,84% dari seluruh total transaksi mencapai US$ 1,82 miliar dari produk barang dan jasa dan investasi. Kemudian posisi kedua dan seterusnya diikuti oleh Jepang dengan 6,20%, Australia 5,38%, Afrika Selatan 4,78%, India 4,68%, Korea Selatan 4,57%, Amerika Serikat 4,18%, Zimbabwe 3,81%, Malaysia 3,66% dan Arab Saudi 2,93%.

Menurut dia, komposisi buyers pada TEI 2013 didominasi oleh negara non-tradisional sebanyak 77,54%. Hal menarik ada TEI kali ini adalah adanya buyers pendatang baru yang berasal dari Suriname, Papua Nugini, Yaman, Aljazair, Bulgaria dan Kamerun. Atas dasar itu, Gita mengklaim, ini menunjukkan kebijakan diversifikasi pasar oleh pemerintah mulai membuahkan hasil.

Pada kegiatan TEI tahun ini juga ditandatangani 3 nota kesepahaman antara perusahaan asing dengan perusahan lokal asal Indonesia. Diantaranya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang melakukan kerjasama dengan Nu-Crete Company Building, perusahaan asal Afrika Selatan untuk pembangunan 2.000 unit rumah di negara tersebut.

Menurut Ketua Pelaksana TEI 2013 Gusmardi Bustami menyatakan proyek pembangunan rumah di Afrika Selatan tersebut akan melibatkan sekitar 2.000 orang tenaga kerja asal Indonesia. Nilai kerjasama dari kedua negara tersebut mencapai US$31 juta. Ia mengatakan permintaan tenaga kerja terampil asal Indonesia untuk ditempatkan diluar negeri terbilang cukup banyak. Hal tersebut menandakan bahwa tenaga kerja Indonesia berkualitas dan memiliki daya saing.

Minat Investasi Tinggi

Direktur Pameran dan Sarana Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Johny Ferauchi menjelaskan bahwa telah ada perusahaan asing dari 19 negara berminat berinvestasi di Indonesia. Investasi yang diminati antara lain di sektor pertanian, pengelolaan air minum, manufaktur, tekstil dan alat kesehatan. Peluang investasi diproyeksikan mencapai lebih dari US$1 miliar. “Pertemuan ini difokuskan untuk membuka peluang investasi yang bisa dilakukan di seluruh propinsi Indonesia,” katanya.

Meskipun baru berupa komitmen kerja sama, Johny optimistis pertemua ini akan direalisasikan dengan belasan negara calon investor. Negara-negara tersebut antara lain India, Australia, Uni Eropa, Thailand, Brasil, Nigeria, Korea Selatan, Taiwan, Hongaria, Rusia, Afrika Selatan, Mesir, Amerika Serikat dan perusahaan asing yang juga beroperasi di Indonesia.

Johny mengatakan butuh waktu sekitar setahun sebelum calon investor membuat kontrak kerja sama. Calon investor akan mengkaji peluang dari berbagai sisi, termasuk kesiapan infrastruktur, regulasi dan pelayanan publik. “Biasanya realisasinya tergantung kesiapan mereka masing-masing, kita welcome setiap saat menerima mereka,” ujarnya.