Dari Bogor ke Bali

Dari Bogor ke Bali

Untuk kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC). Yang pertama, pada 1994 di Bogor dipimpin Presiden HM Soeharto. Sedang kali kedua, diadakan di Bali bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Di antara tujuh kesepakatan KTT APEC di Bali, salah satuya merujuk pada hasil KTT di Bogor atau disebut Bogor Goals. Bogor Goals adalah deklarasi atau kesepakatan yang berhasil dibuat. Ada tiga poin penting dari Bogor Goals, yaitu, pertama, menciptakan sistem perdagangan dan investasi yang bebas, terbuka dan adil di kawasan tahun 2010 untuk ekonomi maju dan 2020 ekonomi berkembang.

Kedua, memimpin dalam memperkuat sistem perdagangan multirateral yang terbuka, meningkatkan liberalisasi perdagangan dan jasa, mengintensifkan kerjasama ekonomi di Asia-Pasifik. Ketiga, mempercepat proses liberalisasi melalui penurunan hambatan perdagangan dan investasi yang lebih jauh, meningkatkan arus barang, jasa, modal secara bebas dan konsisten dengan GATT (sekarang WTO).

Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Aziz mengingatkan pemerintah tentang kesiapan Indonesia menghadapi era perdagangan bebas di Asia Pasifik. Menurut Harry, Indonesia akan rugi saat harus menghadapi derasnya arus komoditas produk dan jasa dari luar negeri. “Seharusnya pemerintah mau bertanya pada diri sendiri, apakah kita siap dengan liberalisasi perdagangan yang mana nantinya bea masuk produk dikenakan 0 sampai maksimal 5% saja,” kata politisi dari Fraksi Partai Golkar ini.

Harry menyontohkan, imbas dari perdagangan bebas telah membuat neraca perdagangan Indonesia cenderung minus dan melemahkan nilai tukar rupiah. Produk ekspor Indonesia juga dibebani ekonomi biaya tinggi hingga sulit bersaing di luar negeri. Kondisinya makin lagi dengan banyaknya pengusaha eksportir komoditas yang enggan membawa uangnya ke Tanah Air, tapi justru lebih suka memarkirkan duitnya ke luar negeri.

“Pemerintah Indonesia juga masih berat menerapkan aturan L/C untuk komoditas ekpor. Padahal kebijakan tersebut dapat memperkuat cadangan devisa kita. Kondisi ini sepertinya dibiarkan berlarut-larut oleh pemerintah," katanya.

Menurut dia, masih banyak lagi ekonomi biaya tinggi akibat biaya perizinan, buruh, infrastruktur yang sangat buruk sangat membebani produk buatan Indonesia membuat harga produk Indonesia sulit bersaing di mancanegara. (saksono)

BERITA TERKAIT

Siapkan Capex Rp 28 Miliar - Bali United Bidik Laba Operasi Rp 10 Miliar

NERACA Jakarta – Menjadi klub sepakbola pertama di Asean yang sahamnya tercatat di pasar modal, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk…

OJK Tetapkan Bali United Sebagai Efek Syariah

NERACA Jakarta -Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menetapkan saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk atau Bali United sebagai efek syariah. Penetapan…

AKIBAT PERANG DAGANG DAN FAKTOR POLITIK - Asumsi Makro 2019 Diprediksi Meleset dari Target

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 tidak sesuai target. Penyebabnya faktor…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ayo, Menjajal Rute Mudik

Korps Lalu Lintas (Korlantas) Kepolisian Republik Indonesia sebagai pihak yang bertanggungjawab langsung untuk mencegah kemacetan telah mempersiapkan sejumlah langkah. Salah…

Mengintip Tol Sumut Yang Manjakan Pemudik

Belum lengkap rasanya jika menyambut Hari Raya Idul Fitri tanpa mudik Lebaran. Untuk tahun ini, para pemudik terutama yang melintas…

Kesiapan Jalur Mudik Lintas Timur Sumatera

Kerusakan Jalan Lintas Timur, tepatnya di perbatasan dua provinsi Sumatera Selatan dan Jambi, di Kecamatan Bayung Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin,…