Manisnya Berjualan Secara Kredit

Sabtu, 26/10/2013

Meski usaha ini terus dibayangi kredit macet yang tinggi, tetap saja sisi keuntungannya mampu memalingkan para pelaku usaha bisnis ini. Lebih selektif terhadap konsumen tentu akan mengurangi kemungkinan kredit macet.

NERACA

Saat ini membeli sebuah produk secara kredit sudah menjadi hal yang sangat wajar bagi masyarakat Indonesia. Mulai dari kredit rumah, kendaraan, atau barang-barang elektronik lainnya menjadikan kondisi itu sebagai peluang usaha yang sangat menjanjikan.

Makanya tak perlu heran jika bisnis ini semakin menjamur, khususnya di kalangan ibu-ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan sendiri (tambahan). Bisnis ini sangat prospek bagi mereka karena menggarapnya tidaklah sulit.

“Awalnya sih ada saudara yang meminta dibelikan Blackberry, dan dia mengatakan akan membayar secara kredit dan akan melebihkan pembayaran dari harga Blackberry yang seharusnya, lalu saya minta sama suami, dan terus berlangsung hingga sekarang,” kata Rizka, ibu rumah tangga yang juga pernah merasakan masnisnya bisnis ini.

Oleh karena itu, jika Anda mempunyai dana yang lebih, seperti Rizka bisa digunakan untuk modal usaha rumahan dengan menjual barang secara kredit. Soal pilihan barang yang akan dikreditkan bisa apa saja, tapi umumnya kredit barang kebutuhan rumah tangga memang sudah umum dilakukan, namun tetap saja potensinya masih besar.

Ya, keuntungan yang didapat dari penjualan barang secara kredit memang cukup menggiurkan. Tetapi, terlebih dahulu Anda harus memperhatikan jangka waktu pembayaran dan nilai barang di akhir jangka waktu tersebut. Sehingga Anda tidak rugi karena ada penyusutan nilai uang dalam rentang waktu cukup lama.

Sedangkan faktor lain yang harus Anda pertimbangkan, adalah kepada siapa Anda akan menjual barang secara kredit. Anda tentu tidak mau usaha rumahan yang baru Anda rintis akan macet karena sulitnya menarik cicilan dari pelanggan.

Karena itu, sudah sepantasnya Anda lebih selektif dalam memilih pelanggan. Tujuannya agar bisnis Anda akan berlangsung dengan baik. Untuk itu, rasanya lebih aman jika menawarkan kepada keluarga atau teman-teman yang memang sudah Anda kenal baik. Meski itu pun tidak akan menjamin kerugian akan dapat diminimalisir akibat kredit macet.

“Lah saya saja terkadang menagih sama saudara suka mecet apalagi sama orang lain. Untuk itu ada beberapa hal yang menjadi patokan saya untuk memberi kredit. Pertama, saya memilih pelanggan yang memang benar pemilik rumah (bukan mengontrak), kedua saya hanya melayani krdit dengan waktu tidak lebih dari satu tahun,” jawab wanita yang akrab di sapa Ika.

Mengembangkan Usaha

Mengembangkan usaha kredit boleh dibilang susah-susah gampang. Dalam usaha ini Anda hanya harus membelikan suatu barang yang dibutuhkan konsumen dan mereka akan membayar cicilannya setiap bulan, atau setiap minggu (sesuai kesepakatan)dengan nominal yang telah ditetapkan dengan mengambil keuntungan tentunya.

Menghitung keuntungan sangat penting untuk menentukan apakah usaha ini layak atau tidak untuk digeluti. Banyak pengusaha kecil yang tidak menyadari hal ini dan tidak merasa perlu mengetahui berapa sesungguhnya keuntungan usaha mereka selama usaha berjalan dengan baik. Akibatnya, kebanyakan pelaku usaha ini yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga terus mencampur adukan keuntungan hasil kredit untuk membiayai hidup.

Karena, semua usaha dalam mengelola keuangannya memiliki prinsip dasar yang sama. kalau terus dicampur aduk maka tak akan terlihat keuntungannya, tak hanya itu usaha Anda juga kemungkinan besar akan usai karena modal usaha terpakai untuk membiayai hidup.

“Padahal kalau berbicara keuntungan, usaha ini lumayana besar, saya pribadi tidak mengambil untung terlalu besar, karena waktu (tenor) kredit yang singkat. Kurang lebih Rp300 ribu-Rp400 ribu lah keuntungan produk hand phone, kalau tv dan perangkat elektronik lainya ya lain lagi keuntungannya,” tutup Ika.