Gairah Pegawai Musium Lemah Terhadap Warisan Budaya

Minim Pengetahuan

Sabtu, 26/10/2013

NERACA

Pengelolaan museum di Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan di luar negeri. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang kompeten untuk mengelolanya. Persoalan mengemuka lantaran minimnya pemahaman tentang museum yang sebenarnya.

Arkeolog Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Daud Aris Tanudirdjo menuturkan, banyak pegawai museum yang tidak memiliki perhatian terhadap pentingnya kelestarian warisan budaya bangsa. Mereka tidak memiliki “gairah” terhadap tugasnya dan hanya bekerja. Kondisi tersebut menjadikan museum tidak efektif bagi publik.

"Hampir sebagian besar yang bekerja di museum adalah orang yang tidak tepat, tidak memiliki kompetensi di bidang permuseuman," kata dia

Menurut Aris, hal itu terjadi lantaran para pegawai musium tidak memiliki pengetahuan tentang museum. Misalnya untuk membuat katalog museum memakai jasa dari luar untuk membuatnya.Selain itu, lanjut Aris, minimnya pengetahuan tentang museum juga disebabkan tidak banyak perguruan tinggi yang membuka program museologi. Di Indonesia program museologi baru ditawarkan di tiga perguruan tinggi yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjajaran (Unpad), dan Universitas Indonesia (UI).

"Kurangnya pemahaman mengenai arti penting museum juga terjadi di kalangan akademisi. Hal itu terlihat dari tidak banyak universitas yang membuka minat museologi," imbuh dia.

Untuk itu Aris berharap, kapasitas sumber daya manusia yang mengelola museum perlu diperkuat agar museum tidak hanya sekadar menjadi tempat untuk memajang koleksi. Hal itu bisa dilakukan dengan mengirimkan pegawai museum untuk mengambil pendidikan maupun pelatihan tentang permuseuman.