Menyulap Universitas di Indonesia Berkelas Dunia

Sabtu, 26/10/2013

NERACA

Menyulap perguruan tinggi di Indonesia menjadi world class university memang tak mudah. Tapi, itu juga bukan berarti sebuah utopia.Menurut Quacquarelli Symonds Limited (QS) yang memeringkat universitas di dunia, tahun lalu terjadi penurunan kualitas universitas yang ada di Indonesia.

Universitas Indonesia misalnya, pada 2011 berada di peringkat 217 dunia, namun tahun lalu harus puas di peringkat 273 dunia. Kemudian UGM yang pada 2011 berada di posisi 342 tahun lalu terjungkal posisinya, bahkan tak masuk dalam 400 besar universitas dunia. Sedangkan posisi ITB tetap berada pada 500 besar. Sementara menurut Times Higher Education, tahun lalu tak ada satu pun perguruan tinggi di Indonesia yang masuk dalam daftar 400 besar dunia.

Melihat kenyataan tersebut, persoalan menjadikan perguruan tinggi lokal berkelas global disiasati oleh Universitas-universitas di Indonesia dengan meluncurkan berbagai program untuk menjaring mahasiswa asing sebanyak-banyaknya ke kampus mereka.

Seperti yang ditunjukkan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berstrategi dengan mendatangkan 11 mahasiswa dari Lopburi College of Agriculture and Technology Thailand untuk mempelajari budaya dan Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang.

Ketua Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto mengatakan, ke-11 mahasiswa Thailand tersebut tergabung dalam program "Summer Course" selama satu bulan hingga 16 November nanti.

"Sebelum dimulainya program pendidikan, kami akan mengajak mereka keliling di wilayah Malang raya untuk beradaptasi dengan suasana maupun budaya yang ada di daerah ini," katanya, menambahkan.

Dia mengakui program Summer Course yang menjatuhkan pilihan di UMM itu juga menjadi salah satu respon terhadap akan diberlakukannya ASEAN Community 2015. Selain menjadi tujuan program Summer Course bagi mahasiswa Thailand, sebelumnya UMM juga menerima mahasiswa asing reguler.

Mahasiswa asing yang saat ini kuliah di UMM, selain melalui program Summer Course, Darmasiswa dan reguler, juga ada program ACICIS yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai negara, terutama Australia.

Tak hanya UMM, ITB sebagai kampus teknik tertua di Tanah Air juga gencar melaksanakan program internasionalisasi, selain tentunya mengedepankan juga akreditasi internasional pada semua program studinya. Sebut saja student mobility dan staff mobility yang merupakan pertukaran mahasiswa ITB dengan kampus luar negeri dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan staff mobility adalah pertukaran tenaga pengajar ITB untuk mengajar di kampus luar negeri. Sebaliknya, pengajar asing juga diundang mengajar di ITB.

Ada lagi program double degree dan joint degree yang dimiliki hampir semua fakultas dan sekolah yang ada di ITB. Kerja sama dengan kampus-kampus luar negeri ini melibatkan institusi pendidikan di Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan kampus-kampus negara ASEAN

Hingga kini ada sekira 400 mahasiswa asing dari 30 negara yang mengenyam pendidikan di ITB. Mahasiswa asing terbanyak berasal dari negara-negara ASEAN, kemudian Korea Selatan, Jepang, Eropa Timur, AS, Jeman, Timur Tengah, Sudan dan Libya.