Kurang Biaya, BRMS Gandeng China Non-Ferrous

NERACA

Jakarta- Untuk menyiasati pendanaan dalam proyek Dairi, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menggandeng China Non-Ferrous Metal Industry's Foreign Engineering and Construction Co. Ltd (NFC). Manejemen perseroan mengaku telah menandatangani perjanjian kerja sama strategis dengan China Non-Ferrous Metal Industry's Foreign Engineering and Construction Co. Ltd (NFC) pada 22 Oktober 2013.

Sekretaris Perusahaan PT Bumi Resources Minerals Tbk, Muhammad Sulthon mengatakan, kerja sama tersebut untuk pengembangan tambang timah dan seng PT Dairi Prima Mineral (PTDPM) di kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Perjanjian tersebut mengatur NFC akan membantu perseroan dalam penyediaan dana untuk pengembangan proyek Dairi, “Nilai pendanaan sebesar 85% dari biaya yang diperlukan untuk pengembangan proyek Dairi.” katanya di Jakarta, Rabu (22/10).

Untuk keperluan pendanaan tersebut, menurut dia, perseroan dan NFC secara bersama-sama akan mengadakan studi kelayakan. Bergantung pada diperolehnya pendanaan atas proyek Dairi serta dipenuhinya seluruh syarat dan kondisi perjanjian dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu, perseroan juga setuju untuk bermitra dengan NFC dalam kegiatan engineering, procurement, dan construction Proyek Dairi. Termasuk penjualan timah dan seng yang akan diproduksi oleh PTDPM, dan partisipasi NFC atas kepemilikan saham di PTDPM.

Sementara itu, untuk kegiatan eksplorasi perseroan hingga September 2013, pihaknya mencatat telah menghabiskan dana sebesar US$900.505. Kegiatan eksplorasi tersebut dilakukan Tamagot Bumi SA dengan biaya US$369,9 ribu di Tamagot. Sementara untuk kegiatan eksplorasi PT Citra Palu Minerals menelan biaya US$239.090,45. Kegiatan eksplorasi tersebut dilakukan di blok I dan blok IV Sulawesi Tengah.

Adapun kegiatan eksplorasi yang dilakukan PT Gorontalo Minerals menghabiskan biaya US$237.185,95. Eksplorasi dilakukan di Sungai Mak I Tambulilato, Gorontalo. Perseroan rencananya akan menjual kepemilikan di Bumi Mauritania SA dan TBSA yang mengelola proyek Mauritania. Pihaknya menilai proyek tersebut dalam kategori aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual sejak 31 Desember 2012. (lia)

BERITA TERKAIT

Ancaman Covid-19 - Reksa Dana Terproteksi Marak Diterbitkan

NERACA Jakarta – Meskipun kondisi pasar modal saham lesu, namun minat penerbitan produk investasi di pasar masih ramai. Berdasarkan siaran…

Jaga Stabilitas Harga Sahan - Telkom Buyback Saham Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Melaksanakan anjuran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi dan melakukan stabilisasi harga saham…

Dukung Physical Distancing - Sisternet-Siberkreasi Lakukan Kelas Edukasi Online

NERACA Jakarta - Mewabahnya COVID-19 di Indonesia tidak menghalangi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melalui Sisternet untuk terus melanjutkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…