Kemenperin Fokus Kembangkan Empat Sektor

Perkuat Struktur Industri Nasional

Kamis, 24/10/2013

NERACA

Cilegon - Untuk memperkuat struktur industri nasional ada beberapa hal yang perlu diprioritaskan. Seperti proses pengolahan bahan mentah menjadi produk berkualitas tinggi yang berdaya saing sehingga menciptakan nilai tambah untuk pendapatan negara.

Menteri Perindustrian, Mohammad S Hidayat mengungkapkan industri petrokimia, permesinan, logam dasar, hilirisasi sehingga tercipta struktur industri dari hulu ke hilir yang seimbang. "Kami fokus pada empat faktor penting, pertama yakni penguatan struktur industri," ungkap Hidayat saat membuka acara peresmian perluasan pabrik PT Nippon Shokubai Indonesia (NSI) di Cilegon, Banten, Rabu (23/10).

Lebih lanjut Mantan Ketua Kadin memaparkan tiga faktor lainnya yang perlu dikembangkan, yakni program hilirisasi untuk mengoptimalkan perolehan nilai tambah dan devisa, penguasaan pasar domestik dan internasional, serta pengembangan industri secara berkesinambungan dan merata terutama ke kawasan Indonesia bagian timur.

Untuk mendukung empat tujuan tersebut, kata hidayat, sejak tiga tahun terakhir Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberikan prioritas pada pengembangan beberapa sektor industri yaitu industri petrokimia, permesinan, logam dasar, dan industri pemrosesan bahan mentah, terutama di mineral dan agro seperti kakao dan karet.

Sedangkan pengembangan pengembangan industri permesinan, lanjut Hidayat, untuk melayani kebutuhan mesin produksi untuk industri padat karya seperti tekstil dan sepatu. Pengembangan industri permesinan dan petrokimia, kata dia, penting untuk menekan impor barang modal dan bahan baku.

Sementara terkait perluasan pabrik acrylic acid (AA) dan superabsorbent polymer (SAP) milik PT NSI di Cilegon, Banten, Menperin menyambut baik proyek tersebut. Menurut dia, hal ini memperlihatkan bahwa iklim investasi di Indonesia semakin membaik.

Dalam kesempatan tersebut, Hidayat mengingatkan agar proyek pengembangan ini disertai dengan meningkatnya kontribusi NSI terhadap pembangunan di wilayah Cilegon. "Saya minta agar NSI bisa menyerap tenaga kerja lokal dengan lebih banyak dan memberikan CSR kepada masyarakat sekitar," katanya.

Investasikan US$ 332 Juta

Ditempat yang sama, Presdir PT NSI Masakazu Tanaka mengungkapkan saat ini, NSI menginvestasikan dana sebesar US$ 332 juta untuk ekspansi pabrik dengan rincian perluasan unit produksi AA dengan tambahan kapasitas 80 ribu ton sehingga total kapasitas menjadi 140 ribu ton dan produk turunannya yaitu SAP dengan kapasitas 90 ribu ton.

Perseroan Terbatas Nippon Shokubai Indonesia (NSI) menambah investasi sebesar US$ 332 juta untuk memperluas pabriknya di Cilegon, Banten. "Ini pertama kali bagi grup Nippon Shokubai untuk mendirikan pabrik SAP dan AA dalam waktu yang bersamaan dengan jadwal yang padat," kata Presdir PT NSI Masakazu Tanaka.

Perluasan pabrik, menurut Masakazu, terdiri atas unit produksi Acrylic Acid (AA) dengan tambahan kapasitas 80.000 ton sehingga total kapasitas menjadi 140.000 ton dan produk baru Superabsorbent Polymer (SAP) yang merupakan produk turunan Acrylic Acid dengan kapasitas 90.000 ton.

Hal ini menempatkan PT NSI sebagai salah satu produsen terbesar di Asia Tenggara untuk produk Acrylic Acid dan turunannya. "Dengan investasi ini, NSI menjadi pabrik SAP dan AA nomor satu di wilayah ASEAN," katanya.

Superabsorbent Polymer yang merupakan produk utama Nippon Shokubai Co. Ltd., induk perusahaan PT NSI, adalah salah satu bahan baku dalam produksi diapers (popok sekali pakai) yang saat ini sudah diproduksi di empat wilayah, yakni Jepang, Amerika, Eropa, dan China.

Menurut dia, sistem produksi yang terintegrasi akan mampu menyuplai kebutuhan popok sekali pakai di Indonesia dan negara lain.

Proyek perluasan ini bertujuan mengoptimalkan perolehan nilai tambah melalui pemanfaatan bahan baku ethylene dari PT Chandra Asri Petrochemical dan soda kaustik dari PT Asahimas Chemical.

Selain akan memperkuat rantai pasok, perluasan pabrik nantinya akan menyerap tenaga kerja sebanyak 170 orang. "Diharapkan perluasan pabrik ini bisa berkontribusi bagi pembangunan di wilayah Banten," katanya.

Beberapa Permohonan

Direktur Jenderal Industri Berbasis Manufaktur Benny Wachjudi mengatakan, sejauh ini pihaknya menerima beberapa permohonan dari mereka.Peluang ini pun disambut oleh Chandra Asri. Sekretaris Perusahaan PT Chandra Asri Tbk Suhatmiyarso mengutarakan, perusahaan tengah menyiapkan permohonan tax holiday untuk proyeknya yang senilai US$ 150 juta. "Dalam waktu dekat siap," ujarnya. Permohonan tersebut akan diajukan lewat anak perusahaannya, yakni PT Petrokimia Butadiene Indonesia.

Meski calon pemohon tax holiday terus bertambah, hingga saat ini aturan teknis tata cara pengajuan tax holiday dan tax allowance belum terbit. Aturan berupa Peraturan Menteri Perindustrian itu masih menunggu surat keputusan Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak yang mengatur verifikasi fasilitas itu.

Tiga perusahaan yang telah mengajukan permintaan fasilitas tax holiday tahun ini adalah Posco dengan nilai investasi US$ 6 miliar, Kuwait Petroleum Corporation US$ 8 miliar, dan Caterpillar Inc US$ 500 juta.