Kesadaran Investor Lokal Meningkat - Tentang Rsiko Pasar

NERACA

Jakarta - Kesadaran masyarakat akan risk and return berinvestasi di pasar modal ditenggarai cukup meningkat. Dengan jumlah investor domestik yang bertambah dan dianggap sudah 'melek' di industri ini.

Fund Manajer PT Samuel Aset Manajemen Budi Budar menegaskan, saat ini investor lokal telah ‘melek’ investasi di pasar modal. Ini terlihat dari pertumbuhan partisipasi investor lokal secara signifikan dalam dua tahun terakhir, terutama di pasar reksadana saham, hingga mendominasi asing, “Kita tertinggal dari asing, faktanya apa. Kita jangan melihat fund manajer asing, karena benchmark mereka under perform. Sementara reksadana lokal kita sangat perform dalam dua tahun terakhir”, ujarnya di Jakarta, Rabu (23/10).

Dia menyebutkan, pada perusahaan aset manajemen yang dikelola, lokal lebih cerdas. Terlihat pada saat indeks turun pada Juni hingga Agustus, investor di Samuel Aset Manajemen tidak mengalami redemption, justru tetap subscribe. Yang dilakukan investor justru take offer saham dan reksadana yang dijual asing.“Volatile indeks sudah biasa bagi investor lokal. Sejak pembukaan pasar 2013 hingga saat ini, return di portofolio reksadana saham yang dikelola Samuel Aset Manajemen meningkat hingga 24%. Hal ini didorong net subscribe yang dilakukan investor lokal. Secara indutri, reksadana equity fund mencatat pertumbuhan sejajar dengan IHSG yang hingga periode Agustus mencapai pertumbuhan 5,3%”, jelas dia.

Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Adikin Basirun menambahkan bahwa pertumbuhan investor lokal masih sangat besar, jika dibandingkan dengan potensi langsung dari jumlah penduduk Indonesia yang di kisaran 200 juta jiwa. “Sekarang investor langsung di saham sekitar 400. Makanya kita dorong sosialisasi untuk perkuat struktur lokal. Ini untuk kurangi volatilitas”, ujarnya.

Dia juga menyetujui bahwa investor lokal mulai cerdas, ketika melihat volatilitas sebagai risiko yang harus diolah investor. Sehingga ketika pasar jatuh, mereka banyak melakukan pembelian, dan banyak investor baru yang masuk ke pasar modal.“Kalau 2009 investor asing 67%, pada Agustus 2013 tersisa 51%. Ini gambaran bagus. Idealnya 50:50. Ini dampak dari sosialisasi dan pemahaman risiko investasi sudah lebih baik. Ini terlihat sudah banyak yang masuk melalui reksadana dan unit link. Potensi ini terus kita jaga dan kita kejar. Kita harus belajar dari Korea, selain online trading, mobile trading juga harus kita garap”, papar dia.

Dia menilai penggunaan teknologi secara massif sangat penting untuk membuat pasar modal lebih dalam. Pasalnya, sebaran investor lokal saat ini yang aktif di pasar modal 90% berdomisili di Pulau Jawa dan 80% dari jumlah tersebut adalah investor lokal yang bermukim di Jakarta.“Maka dari itu, tantangan saat ini bagi BEI adalah memperluas penyebaran investor di seluruh Indonesia. Salah satunya melalui sosialisasi, juga penggunaan teknologi yang bisa dijangkau oleh investor dimana pun berada”, ujarnya. (nurul)

Related posts