Krisis Memacu Kreativitas Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, MA

Selasa, 29/10/2013

Jangan takut dengan krisis. Krisis itu vitamin dan pemicu untuk maju.Krisis itu bagian integral dari perjalanan seseorang dan bangsa. Lewat krisis biasanya seseorang tertantang untuk bangkit menjawab hambatan dan impitan hidup yang menghadang.

Karena krisis, sebuah bangsa dipaksa berpikir mencari terobosan dan menciptakan inovasi serta alternatif baru untuk membangun masa depan yang lebih baik. Coba saja amati dan renungkan. Kalau saja Nagasaki dan Hiroshima tidak dibom oleh tentara Sekutu, maka Jepang tidak akan semaju sekarang.

Dulu nenek moyang kita pernah berkeluh kesah kehujanan dan kedinginan, maka muncul kreasi untuk membuat rumah dan perapian. Lain kesempatan dihadapkan problem tidak bisa berenang menyeberangi sungai atau lautan, maka muncullah ide untuk menciptakan jembatan dan perahu. Demikianlah seterusnya, krisis, tantangan dan problem selalu muncul di depan kita sehingga kita dipaksa untuk berpikir kreatif, bekerja cerdas dan keras.

Menurut kajian neuropsikologi, potensi otak manusia jauh masih lebih banyak lagi yang belum tergali dan teraktualisasikan. Jaringan syaraf-syaraf dalam otak yang berfungsi untuk menghimpun informasi sebagai bahan tumbuhnya ilmu pengetahuan belum sampai sepuluh persen yang terisi. Ibarat rak-rak buku di perpustakaan, atau alat penyimpan data (harddisk) yang berkapasitas 120 GB, syaraf manusia yang terisi masih sekitar 7%.

Konon katanya, ilmuwan jenius ternama seperti Einstein atau Stephen Hawking potensi otaknya yang berfungsi baru sekitar 9%. Jadi, sungguh sulit kita membayangkan inovasi manusia seratus atau seribu tahun ke depan. Berbagai terobosan itu muncul biasanya ketika ada krisis yang memaksa manusia untuk mencari solusi.

Ketika sel-sel biji benih akan tumbuh, maka terjadilah krisis pada jaringan kulitnya berupa keretakan pada permukaannya, sehingga membuka jalan bagi berkembangnya calon pohon besar yang secara potensial masih amat kecil tersimpan di dalam biji. Telur ayam yang sedang ditetaskan juga akan mengalami krisis dan keretakan pada dindingnya sehingga terbuka pintu bagi anak ayam yang akan menggantikan induknya di kemudian hari.

Manusia itu makhluk luar biasa. Mampu hidup di segala cuaca dan kondisi lapangan. Dulu kakek-nenek kita tidak pernah membayangkan anak cucunya bisa berbicara antarbenua lewat telepon genggam tanpa kabel. Mereka tak pernah membayangkan benda aneh bernama televisi yang mampu menghadirkan suasana keserentakan di seluruh dunia, semuanya bisa melihat objek yang sama dalam waktu yang bersamaan pula.

Dulu nenek moyang kita mencari tempat berteduh dari sengatan panas dan guyuran hujan, lalu mereka tinggal dalam gua-gua. Di luar gua dibangun kandang untuk memelihara hewan. Lama-lama teknologi gua berkembang menjadi bangunan megah dengan halaman luas tempat parkir mobil, bukannya kandang hewan seperti zaman dulu. Untuk melintasi berbagai benua diciptakan pesawat terbang,bukan lagi naik kuda atau menaiki sampan.

Jadi, sesungguhnya sejarah manusia selalu dipicu untuk maju oleh serangkaian krisis yang terjadi dari zaman ke zaman. Tanpa krisis dan tantangan, potensi manusia tidak akan muncul dan teraktualkan. Mirip orang kampung yang membuat minyak kelapa, hanya dengan cara diperas sedemikian rupa maka minyak baru akan keluar. Atau padi ditumbuk berulang kali agar terjadi gesekan dalam jangka waktu tertentu, sehingga kulitnya terkelupas dan muncullah beras.

Dalam pendidikan pun dikenal adanya ”ujian” agar siswa merasa tertantang dan menggali potensi dirinya.Tanpa ujian dan kesulitan seorang siswa tak akan maju.Kalau soalnya terlalu mudah, mereka tidak akan tambah pintar. Dalam pepatah Arab dikenal ungkapan yang populer, “’Indal imtihan yukramul mar’u aw yuuhan.” Artinya, lewat ujian maka derajat dan kualitas seseorang akan diketahui, adakah pantas naik kelas ataukah tertinggal oleh yang lain.

Dari para rasul utusan Tuhan pun bisa menjadi pembelajaran buat kita semua, bahwa kemuliaan dan kemenangan mesti ditempuh dan didahului dengan krisis dan tantangan. Karenanya semua tokoh sejarah yang dicatat dengan tinta emas adalah mereka yang berhasil menjadikan krisis dan tantangan sebagai guru dan tangga naik untuk meraih sukses dan kemuliaan hidup.

Pribadi dan bangsa yang tidak pernah terkena krisis akan mati pelan-pelan daya juang dan daya kreasinya. Mereka hanyut terbuai dalam comfort zone yang ujungnya adalah kesepian dan kegagalan. Mari kita posisikan berbagai krisis yang menimpa bangsa ini sebagai undangan untuk bangkit membuat loncatan sejarah ke depan.

Andaikan Thomas Alpha Edison tidak bekerja keras melakukan percobaan demi percobaan memang tak akan ada yang menyalahkan.Tetapi pasti dunia tak akan kenal Thomas Edison yang telah ikut menggubah sejarah, berjasa besar memajukan peradaban manusia. Edison, sebagaimana juga penggubah sejarah lainnya, berani berpikir dan berbuat dengan cara pandang yang sangat berbeda dari masyarakat. Thinking out of the box.

Ada adagium sosial, orang besar dan pahlawan sejati dilahirkan oleh situasi krisis. Begitu pun teman sejati, yaitu mereka yang mau diajak menderita dan menangis bersama,bukan hanya mau berteman selama kita berjaya. Sangat mudah mencari teman diajak makan dan tertawa, tapi sulit mencari teman di saat kita bersedih dan menangis.

Karenanya, di saat seseorang tertimpa musibah atau kondisi bangsa tengah dirundung masalah, kita akan mengenal tokoh-tokoh yang memiliki pribadi kuat dengan solidaritas tinggi; siapa pula orang yang memiliki sifat benalu, hidupnya selalu menempel pada kesuksesan orang lain. Sisi negatif dari comfort zone, yaitu suasana nyaman yang bisa membuat lalai dan kerdil sebuah bangsa, diilustrasikan dalam cerita berikut ini.

Ada sebuah eksperimen tentang seekor kodok yang dimasukkan ke dalam panci berisi air yang dipanaskan secara pelan-pelan dengan saluran listrik. Ketika suhu airnya dinaikkan derajat panasnya, kodok tadi bergerak menggeliat. Lalu dipanaskan lagi secara bertahap, maka kodok tadi tampak menggeliat karena kepanasan, namun masih hidup. Lalu dinaikkan lagi panasnya, dan lama-lama kodok tadi lemas dan mati.

Eksperimen berikutnya adalah seekor kodok yang dimasukkan ke dalam panci berisi air dingin. Lalu diguyur secara tiba-tiba dengan air panas. Apa yang terjadi? Kodok tadi kaget lalu loncat keluar dari panci. Cerita ini sering digunakan untuk menyindir mereka yang enggan keluar dari comfort zone, tidak menyadari bahwa perubahan dan kemajuan di luar begitu dinamis.

Kalau tak ada peringatan berupa krisis, akhirnya akan ditinggalkan oleh dinamika perubahan dan kemajuan. Kodok saja langsung meloncat ketika ada hantaman krisis berupa guyuran air panas. Masa kita kalah dari kodok? Semoga bangsa ini mampu, bahkan bergairah menghadapi berbagai krisis yang menimpa untuk membuat loncatan baru, sebagaimana yang pernah dilakukan para pendiri republik ini. (uinjkt.ac.id)