Murahnya Jasa Pendidikan

Oleh: Eka Azwin Lubis, Staf Pusat Studi HAM Unimed

Senin, 28/10/2013

Profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: a. memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; b. memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia, c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan. Pasal 7 ayat 1a-e Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersebut dengan jelas menegaskan bagaimana seharusnya keprofesionalan seorang guru dan dosen sebagai tenaga pendidik diaplikasikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jika kita lihat bagaimana realita saat ini tentang guru yang mengabdikan dirinya sebagai tenaga pendidik yang senantiasa berupaya sembari berharap bahwa kelak akan muncul generasi-generasi muda Indonesia yang akan membawa perubahan berkat ilmu yang mereka salurkan, keadaan hidupnya sangat jauh berbeda dengan jasa yang mereka lakukan.

Namun itulah yang menjadi satu nilai lebih bagi seorang guru dimana mereka tidak pernah menjadikan hal tersebut sebagai satu alasan klasik untuk berhenti mengabdikan dirinya sebagai mentor, fasilitator, bahkan motivator bagi seluruh muridnya tanpa memandang golongan dan latar belakang mereka. Meskipun terkadang hal mulia yang mereka lakukan jarang berbalas dengan respon positif dari pihak-pihak yang bertanggung jawab akan kesejahteraan hidup mereka.

Kita tentunya paham bagaimana seorang guru harus rela mendermakan masa baktinya dengan terjun ke daerah-daerah yang jauh dipedalaman dan sangat jarang tersentuh dunia luar sehingga pendidikan sangat sulit didapat oleh masyarakat yang hidup didaerah tersebut. Para pejabat yang notabenenya merupakan wakil-wakil mereka saja enggan rasanya untuk turun langsung kesana dikarenakan kondisi daerah yang sangat tidak nyaman bagi kebanyakan orang yang memang terbiasa hidup di kota. Namun hal tersebut agaknya tidak berlaku bagi kaum guru yang justru siap untuk hidup terisolasi dari dunia luar demi targetan mulia yakni mencerdaskan seluruh anak bangsa sekalipun berada didaerah yang sangat terisolasi.

Itulah pengabdian seseorang yang sudah ditempah mentalnya untuk mendedikasikan masa hidupnya sebagai tenaga pendidik. Panggilan jiwa yang tertanam kuat dalam diri para guru muda tersebut mengantarkan mereka untuk berjumpa dengan anak-anak didaerah terluar Indonesia itu yang selama ini haus akan pendidikan.

Seperti kisah Philipus Ratuhurit, guru honorer selama 15 tahun di Desa Saengga kecamatan Babo, Kabupaten Manokwari. Saengga adalah salah satu desa terpencil di pedalaman Papua. Rumahnya dari bambu ukuran 2 x 3 m sebatas menginap dan memasak serta menyiapkan materi sekolah. Jika bukan karena profesinalitas dan rasa tanggung jawab sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan untuk membantu manusia lain menjadi cerdas, tentu mereka tidak akan pernah bertahan dengan keadaan yang seperti itu.

Nasib yang demikian tragis tidak hanya dialami oleh para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang mengabdi dipedalaman saja, para insan guru yang mengabdi dikota juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda. Para guru honorer yang berada dikota memiliki penghasilan yang tidak lebih banyak dibandingkan tukang becak kayuh sekalipun.

Jika dibandingkan antara pendapatan tukang kayuh becak dengan pendapatan gaji guru honor, jauh lebih besar pendapatan tukang becak sebab saat ini masih banyak guru honorer yang hanya mendapat upah rata-rata Rp 700 ribu, Itupun bisa diambil tiga bulan sekali. Jadi jika kita bagi 700 ribu dengan 30 hari berarti sekitar 20 ribu saja perhari, sementara tukang kayuh becak bisa mendapatkan 30-50 ribu perhari.

Padahal setiap tahunnya 20% dana APBN disalurkan kedunia pendidikan, dana tersebut tidak hanya diperuntukan bagi siswa yang tidak mampu, tetapi juga untuk infrastruktur sekolah, termasuk gaji guru yang merupakan salah satu ikon penting dalam dunia pendidikan. Pemerintah harus cermat dalam memanagement aliran dana tersebut. Indonesia tidak hanya dihuni oleh guru yang merupakan Pegawai Negeri Sipil yang penghasilannya saat ini sudah lebih baik. Namun dunia pendidikan kita juga masih banyak menggunakan jasa para guru honorer yang nasibnya jarang diperhatikan oleh pemerintah.

Korban Target Kelulusan

Jika sudah memasuki bulan Maret yang merupakan awal persiapan untuk menyambut Ujian Nasional, maka pekerjaan para oknum guru juga otomatis bertambah. Tidak hanya memberi pelajaran ekstra kepada para peserta didik yang mempersiapkan diri untuk mengikuti Ujian Nasional, tetapi juga melobi kesana-kemari untuk mendapat bocoran soal Ujian Nasional demi targetan kelulusan siswa yang mencapai 100%.

Hal ini merupakan budaya negatif yang dari tahun ke tahun selalu terjadi bagaimana soal Ujian Nasional yang katanya Dokumen Negara yang bersifat Sangat Rahasia, diolah sedemikian rupa agar dapat diketahui isinya sebelum siswa mengikuti Ujian Nasional. Fenomena ini tidak hanya terjadi disatu atau dua tempat saja. Bahkan hampir seluruh Indonesia kecurangan seperti ini kerap terjadi, meskipun dengan sigap pihak-pihak terkait termasuk Dinas Pendidikan menepis anggapan kecurangan tersebut dengan mengklaim Ujian Nasional yang berlangsung bersih dari kecurangan.

Lagi-lagi oknum guru lah yang menjadi korban dari semua ini. Perjuangan mereka untuk mendidik para siswa selama tiga tahun untuk jenjang SMP dan SMA terkesan sia-sia apabila ada siswa yang tidak lulus akibat Ujian Nasional yang hanya berlangsung enam hari. Sehingga hal yang mereka tidak inginkan tersebut diatasi dengan upaya-upaya negatif yang berujung pada kecurangan saat Ujian Nasional

Sadar atau tidak sadar kecurangan yang dilakukan itu merupakan dampak dari ketidak efektifan sistem Pendidikan di Indonesia yang hingga saat ini masih memberlakukan Ujian Nasional sebagai standart kelulusan bagi para siswa.

Oknum guru yang menjadi barisan terakhir yang bersentuhan langsung dengan perbuatan yang seperti ini juga harus sadar bahwa ketidaktahuan mereka dengan cara memberikan jawaban pada saat Ujian Nasional merupakan Boomerang nyata bagi kehidupan bangsa yang akan dipenuhi dengan manipulasi dan kecurangan sebab dari kecil para siswa sudah diajari dengan kecurangan dalam menggapai hasil kelulusannya.

Yang perlu diketahui oleh para guru adalah biarkan saja para siswa mengerjakan Ujian Nasional semampu mereka. Toh apabila pada akhirnya hasil yang didapat adalah banyaknya siswa yang tidak lulus akibat Ujian Nasional, ini bukanlah salah mereka, namun hal ini merupakan Pekerjaan Rumah sendiri bagi Kemendiknas untuk mengevaluasi sistem kelulusan yang selama ini mereka terapkan memang tidak efektif. (analisadaily.com)