Makna Ekonomi Islam

Oleh: Ali Sakti

Senin, 28/10/2013

Ekonomi yang berfokus pada aktifitas dan parameter kolektif dengan nilai-nilai terpuji yang melebur secara sempurna pada prilaku manusia, menjadikan ekonomi Islam jauh dari imajinasi siapa saja yang memang tidak mengerti dan memahami peran dan fungsi Islam, bukan hanya sebagai agama tetapi juga sebagai sistem hidup dan kehidupan manusia.

Ekonomi yang mengkombinasikan aplikasi sistem dan prilaku ekonomi berdasarkan satu paradigma, satu hukum, membuat siapa saja yang ingin memiliki gambaran yang utuh mengenai sistem ekonomi ini tentu harus benar-benar memahami Islam dengan baik. Tanpa memiliki keluasan ikhlas bagi kemutlakan kuasa Tuhan, tanpa mampu menyelami hakikat berikut hikmah hukum Tuhan serta tanpa mampu menyerap nilai-nilai luhur dalam bentuk ketawadhuan, seseorang akan tersesat dalam mengartikulasikan ekonomi Islam.

Karena sesungguhnya ekonomi Islam itu bukan ekonomi dalam Islam, bukan nilai-nilai mandiri ekonomi yang coba dicarikan posisinya dalam Islam, tetapi Islam dalam berekonomi, nilai-nilai orisinil berikut ketentuan Islam yang kemudian membentuk wajah ekonomi seperti apa sepatutnya ia menjadi.

Ekonomi Islam adalah Islam yang berbahasa ekonomi. Ekonomilah yang kemudian dibentuk oleh Islam bukan sebaliknya. Inspirasi tunggal dari ekonomi ini adalah Islam. Islam menjadi himpunan semesta dari ruang gerak mengembangnya ekonomi. Dengan demikian, menjadi salah besar membangun dan mengembangkan Ekonomi Islam beranjak dari Ekonomi. Ia harus berawal dari Islam.

Oleh sebab itu, tak salah jika awal memahami ekonomi Islam adalah memahami Islam terlebih dahulu. Jadi untuk maksud ini, sistem pengajaran yang tepat dan optimal adalah pengajaran yang mendahulukan kepahaman manusia pada Islam. Pemahaman yang sahih dan komprehensif tentang Islam, sederhananya akan membentuk manusia-manusia yang berpola laku serta fikir sesuai dengan apa-apa yang Islam mau.

Singkatnya pemahaman itu bukan hanya akan membentuk warna dan bangunan ekonomi secara khas, tetapi juga hampir pada semua jengkal sisi kehidupan manusia; hukum, budaya, politik dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, tidak dapat dibayangkan seorang pakar mampu membedah dengan komprehensif, berimbang dan valid tentang ekonomi Islam, sementara ia tidak memahami Islam, jauh darinya atau bahkan menolak eksistensi dan fungsinya.

Pakar seperti itu, tidak memiliki ”rasa” minimal terhadap Islam untuk beranalisa. Landasan dominan dalam penilaiannya hanyalah prasangka dalam bingkai pragmatisme tanpa hakikat dan hikmah. Terlebih lagi logika-logika alami yang bersifat terbatas dari fitrah manusia, juga turut ambil bagian dalam analisa ”ilmiah” tentang ekonomi Islam. Dimana kesahihan analisa ketika mereka tak mengenal apa yang mereka analisa?

Ketika ada perbedaan prakira dalam diskusi-diskusi komparasi, yang mencoba mempertanyakan relevansi dan kesahihan ekonomi Islam, sepatutnya ditelusuri sejak awal. Karena boleh jadi perbedaan bukan terletak pada mekanisme ekonomi sebenarnya ada pada perbedaan posisi dan intensitas dalam memahami Islam. (abiaqsa.blogspot.com)