Makna Ekonomi Islam - Oleh: Ali Sakti

Ekonomi yang berfokus pada aktifitas dan parameter kolektif dengan nilai-nilai terpuji yang melebur secara sempurna pada prilaku manusia, menjadikan ekonomi Islam jauh dari imajinasi siapa saja yang memang tidak mengerti dan memahami peran dan fungsi Islam, bukan hanya sebagai agama tetapi juga sebagai sistem hidup dan kehidupan manusia.

Ekonomi yang mengkombinasikan aplikasi sistem dan prilaku ekonomi berdasarkan satu paradigma, satu hukum, membuat siapa saja yang ingin memiliki gambaran yang utuh mengenai sistem ekonomi ini tentu harus benar-benar memahami Islam dengan baik. Tanpa memiliki keluasan ikhlas bagi kemutlakan kuasa Tuhan, tanpa mampu menyelami hakikat berikut hikmah hukum Tuhan serta tanpa mampu menyerap nilai-nilai luhur dalam bentuk ketawadhuan, seseorang akan tersesat dalam mengartikulasikan ekonomi Islam.

Karena sesungguhnya ekonomi Islam itu bukan ekonomi dalam Islam, bukan nilai-nilai mandiri ekonomi yang coba dicarikan posisinya dalam Islam, tetapi Islam dalam berekonomi, nilai-nilai orisinil berikut ketentuan Islam yang kemudian membentuk wajah ekonomi seperti apa sepatutnya ia menjadi.

Ekonomi Islam adalah Islam yang berbahasa ekonomi. Ekonomilah yang kemudian dibentuk oleh Islam bukan sebaliknya. Inspirasi tunggal dari ekonomi ini adalah Islam. Islam menjadi himpunan semesta dari ruang gerak mengembangnya ekonomi. Dengan demikian, menjadi salah besar membangun dan mengembangkan Ekonomi Islam beranjak dari Ekonomi. Ia harus berawal dari Islam.

Oleh sebab itu, tak salah jika awal memahami ekonomi Islam adalah memahami Islam terlebih dahulu. Jadi untuk maksud ini, sistem pengajaran yang tepat dan optimal adalah pengajaran yang mendahulukan kepahaman manusia pada Islam. Pemahaman yang sahih dan komprehensif tentang Islam, sederhananya akan membentuk manusia-manusia yang berpola laku serta fikir sesuai dengan apa-apa yang Islam mau.

Singkatnya pemahaman itu bukan hanya akan membentuk warna dan bangunan ekonomi secara khas, tetapi juga hampir pada semua jengkal sisi kehidupan manusia; hukum, budaya, politik dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, tidak dapat dibayangkan seorang pakar mampu membedah dengan komprehensif, berimbang dan valid tentang ekonomi Islam, sementara ia tidak memahami Islam, jauh darinya atau bahkan menolak eksistensi dan fungsinya.

Pakar seperti itu, tidak memiliki ”rasa” minimal terhadap Islam untuk beranalisa. Landasan dominan dalam penilaiannya hanyalah prasangka dalam bingkai pragmatisme tanpa hakikat dan hikmah. Terlebih lagi logika-logika alami yang bersifat terbatas dari fitrah manusia, juga turut ambil bagian dalam analisa ”ilmiah” tentang ekonomi Islam. Dimana kesahihan analisa ketika mereka tak mengenal apa yang mereka analisa?

Ketika ada perbedaan prakira dalam diskusi-diskusi komparasi, yang mencoba mempertanyakan relevansi dan kesahihan ekonomi Islam, sepatutnya ditelusuri sejak awal. Karena boleh jadi perbedaan bukan terletak pada mekanisme ekonomi sebenarnya ada pada perbedaan posisi dan intensitas dalam memahami Islam. (abiaqsa.blogspot.com)

BERITA TERKAIT

Ekonomi Digital Wujudkan Kemandirian Perekonomian Nasional

Oleh: Muhammad Razi Rahman Tahukah Anda istilah "Third Wave Economy" (Ekonomi Gelombang Ketiga)? Menurut futurolog AS, Alvin Toffler, dalam "Third…

CEPA Jangan Batasi Kebijakan Pemerintah Kelola Ekonomi

    NERACA   Jakarta - Perjanjian Kemitraan Komprehensif yang sedang dibahas antara Republik Indonesia dan Uni Eropa, yang kerap…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kebijakan Impor Belum Signifikan Turunkan Harga Beras

Oleh: Budi Santoso Pasokan beras impor secara bertahap mulai memasuki gudang Perum Bulog dan sampai saat ini tercatat 57.000 ton…

Putusan Mahkamah yang Dinilai Aneh

Oleh: Maria Rosari Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus tiga perkara permohonan uji materi atas pasal 79 ayat (3)…

Kembalinya Debitur Sontoloyo

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pengamat Perbankan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan berulang-ulang mempersoalkan masalah wait and see dunia usaha.…