Tertunda, Biaya Proyek Listrik Adaro Jadi Lebih Mahal

Rabu, 23/10/2013

NERACA

Jakarta- Akibat adanya penundaan proyek, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) disebut sebut mengakibatkan biaya yang harus dikeluarkan perseroan lebih mahal. Salah satu proyek yang tertunda tersebut yaitu proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Batang, Jawa Tengah. Proyek tersebut merupakan bentuk konsorsium bersama dengan Japan Electric Power Development Co, Itochu Corp.

Dalam konsorsium telah melakukan akuisisi lebih dari 80% lahan yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit 2.000 megawatt di Batang Jawa Tengah. Penundaan itu sendiri disebabkan proses akuisisi yang dilakukan perseroan sampai saat ini belum juga sampai pada tahap akhir. “Financial closing belum bisa dilakukan. Ada kenaikan, tapi tidak terlalu besar,” kata Direktur Utama ADRO, Garibaldi Thohir di Jakarta, Selasa (22/10).

Diketahui, konsorsium Adaro, Electric Power Development Co., (J-Power), dan Itochu Group tengah mencari dana eksternal sekitar US$ 3 miliar untuk mendanai mega proyek tersebut. Konsorsium ini telah memperoleh kesepakatan pinjaman dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Tetapi, karena akuisisi lahan belum jelas, konsorsium inipun belum dapat mencairkan pinjaman. Diperkirakan, biaya investasi untuk membangun proyek berkapasitas 2.000 megawatt (MW) senilai US$ 4 miliar.

Setelah terjadi dua penundaan dua tahun, manajemen perseroan pun menargetkan dapat merealisasikan proyek ini akhirnya ditunda menjadi Oktober 2014. diketahui, konsorsium telah melakukan akuisisi lebih dari 80% lahan yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit 2.000 megawatt di Batang Jawa Tengah.

Sementara untuk menyiasati volatilitas batubara saat ini, manajemen PT Adaro Energy Tbk mengaku akan tetap fokus pada pengembangan usaha melalui beberapa anak usahanya. Head of Investor Relations Adaro Energy, Cameron Tough Adaro mengatakan aset yang diakuisisi perseroan terus membuat kemajuan, misalnya investasi pada cadangan batubara di Balangan yang terletak di sebelah konsesi Adaro Indonesia yang diperkirakan dapat memulai produksi pada 2014 . “Pada saat investasi ini mulai beroperasi maka pendapatan Adaro diharapkan akan meningkat. ” ucapnya.

Pengeboran di Balangan, sambung dia, terus dilanjutkan untuk menyelesaikan studi cadangan JORC, meliputi penggunaan Laser Imaging Detection and Ranging (LIDAR) yang menghasilkan data topografi yang cepat dan akurat. Akuisisi lahan, pembangunan jalur pengangkutan yang akan menghubungkan jalur pengangkutan di Paringin, dan pembangunan jembatan terus dilanjutkan. “Adaro memperkirakan studi cadangan JORC dapat selesai pada akhir 2013 dan mulai produksi pada awal 2014. ” jelasnya.

Selain itu perseroan juga terus berkonsentrasi pada kesiapan tambang pada konsesi batubara yang belum dikembangkan (greenfield) di Sumatra Selatan (MIP, BEE) dan Kalimantan Timur (BEP). Kesiapan tambang tersebut meliputi perizinan, akuisisi lahan, memastikan dukungan sosial dan masyarakat, dan menyelesaikan studi teknikal dan geologis. Menurut dia, pihaknya tidak menginvestasikan belanja modal yang signifikan untuk pengembangan konsesi batubara yang diakuisisi. (lia)