Cermati Right Issue Emiten - Berpotensi Merugikan

NERACA

Jakarta- Penerbitan saham baru atau right issue menjadi siasat mudah emiten mendapatkan dana murah melalui pasar modal. Apalagi di tengah kenaikan suku bunga perbankan. Namun perlu dicermati, di sisi lain penerbitan saham baru ini tentunya mengorbankan hak pemegang saham atau investor karena sahamnya berpotensi terdilusi.“Saat ini emiten berpikir pasti akan kena bunga baru jika melalui perbankan. Jadi, pilihannya utang bank dengan konsekuensi beban bunga meningkat atau mengorbankan pemegang saham melalui penerbitan saham baru.” kata analis pasar modal, Reza Priyambada di Jakarta, Selasa (22/10).

Dirugikan atau tidak, sambung dia, dapat dilihat dari penggunaan dana yang didapatkan dari hasil right issue tersebut. Right issue yang tujuannya hanya untuk membayar utang perusahaan tentu tidak akan terlalu berdampak pada kinerja perusahaan. Namun, jika untuk melakukan ekspansi maka memberikan peluang yang cukup positif karena akan memacu kinerja perusahaan tersebut.

Karena itu, right issue itupun harus dilakukan melalui persetujuan para pemegang saham terlebih dahulu dengan menghadirkan prospektus secara lengkap. Selain berapa besar jumlah saham baru yang akan diterbitkan, dan potensi terdilusi, juga harus diketahui tujuan penggunaan dana. “Kalau penggunaan dananya untuk memperkuat struktur permodalan atau menambah modal kerja misalnya, maka harus jelas berapa besarnya.” jelasnya.

Terkait jumlah saham, juga perlu diperhatikan apakah pelaksanaan right issue tersebut menyebabkan jumlah saham emiten yang bersangkutan menjadi kelewat banyak, atau tidak dari rata-rata jumlah saham emiten di pasar modal. Termasuk rasionya dengan jumlah saham lama.

Sementara untuk efek dilusi memang pasti terjadi. Namun, harus diperhatikan berapa besar efek tersebut. “Untuk memastikan agar tidak lebih banyak terdilusi emiten harus siap mengeksekusi right issue tersebut.” ujarnya.

Untuk aksi korporasi ini, biasanya diketahui pembeli siaga dalam right issue tersebut. Saham hasil right issue tanpa pembeli siaga, atau pembeli siaganya tidak jelas maka sangat mungkin akan dilempar begitu saja ke publik sehingga berpotensi menjatuhkan kembali harga saham di pasar, cepat atau lambat setelah right issue.

Menurut Reza, ada baiknya right issue dilakukan dengan HMETD (Hak Memasan Efek Terlebih Dahulu). Dengan begitu memberikan ruang kepada pemegang saham untuk menggunakan haknya untuk menambah modalnya di perusahaan yang bersangkutan. Apalagi di tengah kondisi pasar yang masih sangat volatile seperti sekarang ini.

Diketahui, selain PT BW Plantations Tbk (BWPT), ada beberapa emiten yang akan melaksanakan right issue antara lain PT Bank Windu Kencana International Tbk (MCOR), PT Hanson International Tbk (MYRX), dan PT Provident Agro Tbk (PALM). BWPT menskemakan akan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dengan menerbitkan maksimal 405,1 juta saham baru atau 10% dari modal disetor. Adapun MCOR berencana menerbitkan 1,82 miliar saham baru atau setara 27,54% dari total saham ditempatkan dan disetor penuh dan MYRX berencana menerbitkan 8,35 miliar saham baru. (lia)

BERITA TERKAIT

Moodys Pangkas Peringkat Alam Sutera

NERACA Jakarta - Perusahaan pemeringkat Moody’s Investor Service menurunkan peringkat utang PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) dari menjadi Caa1…

Express Trasindo Masih Merugi Rp 275,5 Miliar

NERACA Jakarta –Persaingan bisins transportasi online masih menjadi tantangan bagi PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI). Performance kinerja keuangan perseroan…

Martina Berto Bukukan Rugi Rp 66,94 MIiliar

NERACA Jakarta –Bisnis kosmetik PT Martina Berto Tbk (MBTO) sepanjang tahun 2019 kemarin masih negatif. Pasalnya, perseroan masih membukukan rugi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Propinsi Ini Paling Rentan Terhadap Covid-19

Masifnya penyebaran virus corona (Covid-19) telah berdampak pada lemahnya perekonomian dalam negeri dan memberikan kekhawatiran para pelaku ekonomi. Berdasarkan Katadata…

Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

Latinusa Bukukan Untung US$ 2,68 Juta

NERACA Jakarta - Emiten pengolahan pelat timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) atau Latinusa membalikkan posisi rugi tahun lalu…