LCGC, Murah Tapi Tidak Ramah Lingkungan

Sektor Otomotif

Rabu, 23/10/2013

NERACA

Jakarta - Polemik program mobil murah ramah lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) yang dikeluarkan pemerintah ini masih saja berlangsung. Bahkan, beberapa pengamat masih tidak sependapat dengan pemerintah. Istilah Green Car dalam konsep mobil murah yang diusung pemerintah diragukan kebenarannya.

Pengamat Transportasi Darmaningtyas mengatakan mobil murah dari dua produsen otomotif lokal dituding belum menerapkan konsep ramah lingkungan dalam produknya."Green car itu kalau bahan bakarnya gas atau biofuel, ini kan pakai bensin, jadi nggak green lah, tepatnya mobil murah," ungkapnya di Jakarta, Selasa (22/10).

Pendapat senada disampaikan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Asisten Deputi Urusan Pengendalian Perencanaan Udara Sumber Bergerak Kementerian lingkungan Hidup, Zakaria, mengungkapkan konsep green car yang diterapkan Indonesia masih terlalu kabur.

"Kalau saya melihat memang trennya mobil ke arah yang lebih bagus. Pengertian green batasannya lebih kabur. Ini kan lebih ke hemat energi saja, dari yang 1 liter 12 kilometer menjadi 20 kilometer," tegasnya.

Zakaria menjelaskan, sekecil apapun Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dikonsumsi, gas emisi akan tetap dihasilkan oleh kendaraan bermotor apapun jenisnya.Apabila Indonesia ingin mewujudkan green car, KLH mengimbau pemerintah untuk memproduksi mobil listrik. Alasannya, mobil listrik justru masuk jenis kendaraan yang sepenuhnya ramah lingkungan.

"Oleh sebab itu terjemahan resminya juga dibenarkan. Jadi kalau nanti kearah mobil listrik kita bisa bilang green car," tuturnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima, menyatakan mobil murah yang sedang ramai di pasar otomotif nasional saat ini hanya sebatas bahasa marketing saja. Selain itu, ia juga mempertanyakan letak ramah lingkungan dari mobil murah itu.

"Dari segi green car, mobil itu tidak memenuhi syarat. Sebab, green car itu mobil ramah lingkungan yang salah satu cirinya adalah bahan bakarnya dari energi terbarukan, bukan energi fosil," kata dia.

Menurut Aria, bahan bakar mobil murah yang gencar diberitakan itu masih menggunakan energi fosil, tepatnya menggunakan bahan bakar pertamax. Padahal penggunaan energi terbarukan dapat mengurangi polusi udara."Tetapi mobil ini tidak, karena masih menggunakan pertamax. Terus dari mana letak mobil green car-nya," ujar dia.

Tak hanya mengkritisi klaim sebagai mobil ramah lingkungan, politisi PDIP itu juga mempertanyakan harga terkait penggunaan istilah mobil murah. Karena sejatinya dengan kisaran harga di atas Rp100 juta belum bisa dibilang sebagai mobil murah.

"Siapa yang mengatakan murah, apakah pemilik mobil sekarang ini yang bilang itu? Saya nggak tahu yang mengatakan murah itu segmen mana. Terus, istilah green car dan mobil murah itu hanya sebagai bahasa marketing saja yang secara faktual bukan mobil ramah lingkungan dan murah," katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengatakan, yang namanya ramah lingkungan itu ada dua pengertian. Pertama irit bahan bakar dan kedua emisi.

Menurut Budi pihaknya belum melakukan standard emisi terhadap produk mobil murah. Pasalnya, kualitas bahan bakar jenis Premium belum memenuhi standar. "Tapi untuk emisi belum dapat kita laksanakan karena standar kualitas dari BBM kita belum bagus. Emisi itu tergantung bahan bakar, standar BBM kita itu (premium) belum memenuhi," jelasnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan produk LCGC didesain untuk mengkonsumsi bahan bakar dengan RON 92. Karena jika menggunakan di bawah angka tersebut (premium), dapat mengurangi performa mesin bahkan bisa mengakibatkan kerusakan.

"LCGC itu di desain untuk memakai Ron 92, kalau mereka tidak memakai itu maka mesinnya bisa rusak atau tidak perform," pungkasnya.