Rupiah Loyo, Sentul City Naikkan Harga Jual 7%

Rabu, 23/10/2013

NERACA

Sentul – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memberikan dampak terhadap kenaikan harga jual di bisnis properti, Tak terkecuali PT Sentul City Tbk (BKSL), perusahaan properti ini menaikan harga jual hingga 7%.

Wakil Presiden Direktur PT Sentul City Tbk Andrian Budi Utama mengatakan, kenaikan harga jual disesuaikan dengan harga-harga material dan biaya pembangunan yang dibutuhkan perseroan untuk pengembangan, “Perseroan cukup merasakan tekanan harga material bangunan akibat kenaikan BBM. Selain itu, upah buruh bangunan juga naik seiring tuntutan kenaikan UMP,”kata di Sentul Bogor, Selasa (22/10).

Menurutnya, secara tahunan kenaikan harga yang ditetapkan Sentul City terhadap harga propertinya naik hingga 20-30%. Namun untuk kenaikan 5 sampai 7% dilakukan kali ini setelah kenaikan material bangunan, UMP dan pelemahan nilai tukar rupiah. Tentu langkah tersebut diambil perseroan, dengan tetap menjaga harga jual agar diterima di pasar.

Soal peraturan Bank Indonesia tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk pembelian rumah ke dua dan seterusnya, direspon positif oleh perseroan. Direktur PT Sentul City Tbk, Syukurman Larosa menuturkan, dengan adanya peraturan BI tersebut perseroan memberikan metode pembayaran uang muka (Down Payment/DP) yang lebih panjang dari sebelumnya, “Kita mengikuti kebijakan BI yang baru, kita memperpanjang cicilan uang muka, sampai rumahnya jadi dan baru akad kredit. Jika pembangunan rumah tersebut memakan waktu 18 bulan maka konsumen dapat mencicil uang mukanya hingga 18 bulan”, ujarnya.

Sehingga setelah konsumen selesai menyicil rumahnya dan sudah jadi, kemudian akad kredit (dengan pihak bank). Hal ini memberikan keringanan bagi konsumen dalam memiliki rumah. Walaupun peraturan BI mengubah sistem KPR lama, hal ini tidak mempengaruhi kinerja perseroan ke depannya. Karena menurut dia perseroan hanya perlu memperkuat permodalan.

Perseroan juga mencatatkan penjualan properti (marketing sales) mencapai Rp1,65 triliun atau tumbuh 115% hingga September 2013. pada periode yang sama tahun lalu, marketing sales perseroan sebesar Rp768,8 miliar. Tahun ini perseroan juga menargetkan marketing sales mencapai Rp2 triliun. Dengan pencapaian Rp1,65 triliun hingga September 2013, ini berarti perseroan telah mencapai 87,7% dari targetnya. Perseroan optimis target ini dapat tercapai karena akan mengeluarkan tiga produk cluster perumahan lagi.

Disebutkan, kontribusi penjualan masih landed house sebesar 60% dan sisanya dari sektor lainnya. Namun berdasarkan unit, penjualan high rise building menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perseroan, mencapai 70%. Marketing sales hingga September 2013 merupakan konsolidasi dari anak perusahaan. Sedangkan pada 2014, perseroan menargetkan Rp3 triliun.

Sebagai informasi, perseroan telah menyerap belanja modal mencapai Rp250 miliar hingga periode September 2013. Penyerapannya adalah untuk membangun fasilitas rekreasi yaitu pasar Ah-Poong dan renovasi beberapa fasilitas serta membangun beberapa kawasan yang sebelumnya terbengkalai.

Tahun ini belanja modal perseroan dianggarkan sebesar Rp350 miliar dan sisa capex sebesar Rp50 miliar akan digunakan untuk pengembangan proyek-proyek perseroan yang sedang berjalan. Sementara kelebihan capex sebesar Rp50 miliar akan dipergunakan perseroan untuk capex tahun depan sekitar Rp500-Rp600 miliar. Capex ini berasal dari dana kas internal perseroan serta pinjaman perbankan yang akan diserap untuk pembangunan kawasan CBD perseroan. (nurul)