Indonesia Tertarik Kerjasama Perdagangan Bebas dengan Eropa

Dianggap Menguntungkan

Rabu, 23/10/2013

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi berharap agar negosiasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA) untuk segera dirampungkan. Hal itu karena berkaitan dengan kepentingan ekspor Indonesia ke beberapa negara di Uni Eropa (UE).

Bayu menjelaskan saat ini nilai perdagangan Indonesia ke UE telah mencapai US$32-33 miliar dan dengan pertumbuhan sekitar 8,5%. Akan tetapi, belakangan ini kondisi Eropa masih belum stabil sehingga mempengaruhi pertumbuhan ekspornya. “Jika CEPA bisa diimplementasikan khususnya bagi kepentingan Indonesia, maka kita bisa menembus perdagangan mencapai US$40-50 miliar di 2015,” kata Bayu usai menghadiri Dialog Bisnis Uni Eropa di Jakarta, Selasa (22/10).

Ia menjelaskan salah satu ekspor yang bisa diandalkan ke Eropa adalah Crude Palm Oil (CPO). Pasalnya CPO adalah salah satu komoditas unggulan Indonesia. Selain itu, dengan kerjasama dengan Uni Eropa maka ada 2 manfaat yang akan didapat khususnya di sektor pangan. Pertama, teknologi pengolahan dan penyimpanan yang dimiliki oleh Eropa sudah mutakhir. Dan kedua adalah keamanan pangan.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perdagangan dan Kerjasama Internasional Chris Kanter berharap bahwa negosiasi CEPA untuk segera dirundingkan. Pasalnya ada produk unggulan Indonesia yang berpotensi bisa masuk ke pasar Eropa seperti furnitur, CPO dan produk manufaktur yang mengandalkan skill labour.

“Antara Indonesia dengan Uni Eropa itu komplementer. Lain halnya dengan China, karena Indonesia dengan China hampir sama. Seperti untuk produk manufaktur yang memanfaatkan labour. Karena di Eropa kemahalan sehingga tidak sanggup dibikin disana sehingga warganya tidak pernah beli produk mereka sendiri. Sedangkan mereka unggul di teknologi sementara Indonesia agak kurang, hal inilah yang perlu dimanfaatkan,” ujarnya.

Namun demikian, perdagangan dengan Eropa bukannya dapat berjalan lancar akan tetapi para pengusaha Indonesia juga kerap menemui hambatan diantaranya mengenai standarisasi dan tarif barier yang diterapkan oleh pemerintah setempat. “Hambatan tidak semata-mata karena tarif dan regulasi saja. Namun kadang-kadang ada tarif barier. Seperti Badan POM Eropa yang memberikan standarisasi terlalu tinggi sehingga sulit untuk diikuti,” jelasnya.

Maka dari itu, kerjasama dengan Eropa juga perlu diikuti dengan peningkatan capacity building sehingga bisa memenuhi persyaratan dari negara-negara tersebut. Chris juga meminta agar pemerintah bertindak tegas terhadap Eropa soal CPO yang dianggap merusak kesehatan. “Kalau CPO masih tidak diterima juga, kita tutup aja perjanjian nya. Kita ini adalah negara terbesar ke 4 di dunia. Kalau mereka tidak kasih, kita juga tidak kasih dong,” tegasnya.

Sekedar informasi, UE dan Indonesia telah membangun hubungan komersial yang kuat, dengan perdagangan bilateral bernilai sekitar EUR 25 miliar pada tahun 2012. Selain itu, Uni Eropa adalah investor kedua terbesar dalam perekonomian Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan 1000 perusahaan Eropa telah berinvestasi sekitar EUR 130 miliar ke dalam perekonomian Indonesia dan secara langsung mempekerjakan 1,1 juta orang Indonesia.

Meskipun Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN namun keseluruhan perdagangan bilateral UE -Indonesia yang mencapai rekor tertinggi EUR 25 miliar masih jauh di bawah beberapa negara tetangga lain di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura dengan EUR 52 miliar, Malaysia sebesar EUR 35 miliar dan Thailand mencapai EUR 32 miliar.

Lebih jauh lagi, meskipun UE merupakan salah satu sumber terbesar Foreign Direct Investment (FDI) bagi Indonesia selama periode 2004-2010 , Indonesia hanya menerima 1,6% dari semua FDI UE ke Asia, dan hanya 6% dari semua investasi UE yang mengalir ke kawasan ASEAN.

Menguntungkan

Duta Besar Terpilih Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN Olof Skoog, menggaris bawahi kebutuhan untuk menjalin hubungan yang lebih erat dalam perdagangan dan investasi. “Dengan UE sebagai pasar ekspor kedua terbesar bagi Indonesia dan investor terbesar kedua di Indonesia, kedua belah pihak akan mendapat manfaat dari kesepakatan kemitraan ekonomi komprehensif. Mempererat hubungan perdagangan dengan UE adalah situasi yang saling menguntungkan, mengingat Indonesia dan UE memiliki ekonomi yang saling melengkapi.

Dia melanjutkan, pada tahun lalu Indonesia menikmati surplus perdagangan hingga EUR 5,7 miliar dengan UE. “Mencapai sebuah kesepakatan akan meningkatkan perdagangan dengan peningkatan akses terhadap pasar dan tidak kalah penting, hal ini akan menarik lebih banyak lagi investasi Eropa ke Indonesia karena tersedianya kerangka regulasi yang transparan dan terprediksi melalui CEPA,” tuturnya.

Skoog menambahkan UE telah memulai negosiasi perdagangan di wilayah ASEAN dengan Thailand, Malaysia dan Vietnam serta telah mencapai kesepakatan dan penandatanganan dengan Singapura. Kami mencatat perkembangan yang baik dalam sejumlah negosiasi ini. “Kami yakin Indonesia juga akan menjadi contoh yang sempurna dalam memulai negosiasi CEPA yang mendalam dan komprehensif. Ketika kesepakatan dicapai dengan negara-negara ASEAN, resikonya adalah Indonesia akan kehilangan daya tarik, dan tertinggal dalam hal perdagangan dan investasi Uni Eropa di kawasan Asia. Kita perlu menghindari skenario tersebut,” tutupnya.