Kedubes Norwegia Sumbang 600 Ribu Euro

Dukung Energi Terbarukan

Selasa, 22/10/2013

NERACA

Jakarta - Kedutaan Besar Norwegia akan menyumbangkan dana hibah sebesar 600 ribu euro untuk mendukung Pulau Sumba sebagai proyek percontohan penggunaan energi terbarukan. Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (21/10), dukungan dana untuk program bertajuk "Pulau Ikonik Sumba" itu diberikan melalui organisasi pembangunan Belanda, Hivos, dengan dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

"Alasan utama kami memberikan dukungan pada program ini adalah kerjasama yang terjalin antarpemangku kebijakan serta kesempatan untuk turut mendukung pembangunan melalui energi terbarukan," kata Minister Counsellor dari Kedutaan Besar Norwegia Marianne Damhaug, di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan Sumba dapat menjadi model bagi daerah atau pulau lain di Indonesia atau bahkan diluar negeri. Dana hibah itu, menurut Damhaug, akan digunakan untuk memfungsikan sekretariat Kelompok Kerja Sumba yang dipimpin oleh Kementerian ESDM.

Selain itu untuk menerapkan solusi energi terbarukan seperti panel surya untuk memompa air irigasi, pembangkit listrik tenaga air bagi masyarakat terpencil, warung energi yang menyediakan lentera surya dan pengisian ponsel dan biogas yang dihasilkan dari kotoran hewan ternak untuk memasak dan penerangan.

Sementara itu, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) KESDM Dadan Kusdiana, optimistis pihaknya bisa mencapai target 100% energi terbarukan melalui kerjasama dengan semua para pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor swasta dan masyarakat sipil.

"Itulah sebabnya pokja (kelompok kerja) yang meliputi para pemangku kepentingan telah dibuat dan sebuah peta jalan (roadmap) bersama telah dikembangkan" katanya. Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, terpilih sebagai ikon untuk energi terbarukan karena merupakan salah satu daerah yang belum mendapatkan akses elektrifikasi di Indonesia.

Mayoritas 650 ribu penduduknya tidak memiliki akses terhadap listrik. Sementara pada 2010, 70% dari populasi di Sumba menggunakan minyak tanah yang cukup mahal sebagai pencahayaan serta kayu bakar untuk memasak yang berpolusi dan berdampak buruk untuk kesehatan. [ardi]