Lagi, Global Mediacom Buyback 32,98 Juta Saham

NERACA

Jakarta - PT Global Mediacom Tbk (BMTR) kembali melaksanakan pembelian kembali (buyback) sahamnya, dimana sebanyak 32,98 juta saham telah dibeli kembali pada akhir pekan lalu. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta kemarin.

Direktur BMTR, David Fernando Audy mengungkapkan, transaksi pembelian kembali (buyback) saham tersebut dilakukan dengan harga pembelian Rp2.125 per saham, sehingga total transaksi tersebut bernilai Rp70,09 miliar.

Sehari sebelumnya juga diketahui perseroan telah melakukan transaksi pembelian kembali sahamnya sebanyak 32,65 juta lembar saham pada tanggal 17 Oktober 2013 dengan harga pembelian sebesar Rp2.125 per saham. Diperkirakan hingga saat ini jumlah saham yang telah berhasil dibeli kembali oleh perseroan telah mencapai 339,24 juta lembar saham.

Asal tahu saja, selain BMTR, langkah yang sama juga dilakukan dua perusahaan grup MNC lainnya, PT MNC Land Tbk (KPIG) dan PT MNC Investama Tbk (BHIT). Perseroan menunjuk PT MNC Securities sebagai perantara pedagang efek atas rencana buyback ini. Kepala Eksekutif Pasar Modal OJK, Nurhaida mengatakan, ada beberapa perusahaan yang berminat untuk melakukan buyback saham. Tidak terkecuali perusahaan BUMN. OJK akan memberikan kemudahan emiten untuk melakukan buyback yang diatur dalam peraturan OJK Nomor 02/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan.

Disebutkan, perusahaan dapat membeli kembali sahamnya sampai batas maksimal 20% dari modal disetor tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Informasi terkait buyback ini, nantinya tidak hanya akan diberikan kepada perusahaan BUMN, tetapi juga perusahaan swasta.

Analis PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo A. Joe pernah mengatakan, langkah buy back diharapkan dapat mengendalikan harga saham di tengah kondisi bursa saham fluktuatif. Emiten dapat melakukan buy back minimal 25%, misalkan dari jumlah saham yang beredar di pasar sekitar 40%, “Kalau buyback saham hanya sekitar 5%-10% dinilai tak terlalu pengaruh,” ujarnya.

Setelah bursa saham stabil, menurut dia, emiten diharapkan dapat menjual kembali sahamnya ke publik. Sementara itu, Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, emiten yang berminat buyback sebaiknya melakukan langkah ini secara bertahap hingga enam bulan ke depan sambil mengamati perkembangan pasar. Setelah enam bulan kondisi pasar sudah membaik maka emiten dapat menjual kembali saham hasil buyback tersebut. (lia)

BERITA TERKAIT

Industri Kaca Lembaran Tambah Kapasitas Jadi 1,34 Juta Ton

  NERACA Jakarta – Industri kaca lembaran mengalami peningkatan kapasitas produksi seiring adanya perluasan usaha dari salah satu produsen guna…

Lepas 33,07% Saham Ke Publik - Wahana Interfood Bidik Dana IPO Rp 33 Miliar

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnisnya lebih pesat lagi, PT Wahana Interfood Nusantara bakal mencari pendanaan di pasar modal dengan…

Lepas 30% Saham Ke Publik - IPO Pelabuhan Tanjung Priok Pasca Pilpres

NERACA Jakarta – Menyusul anak usahanya yang sudah tercatat di pasar modal, PT Pelindo II berencana membawa kembali anak usahanya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PPRO Berikan Kran Air Siap Minum di Semarang

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT PP Properti Tbk (PPRO) bersama…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Mandom Targetkan Penjualan Tumbuh 10%

Sepanjang tahun 2019, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 5% hingga 10%. Hal itu ditopang pertumbuhan penjualan…