Rupiah Diklaim Berhasil Dikendalikan

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, mengaku berhasil kendalikan nilai tukar rupiah dan laju impor hingga September 2013. Pasalnya, BI telah mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas moneter melalui kebijakan suku bunga. Meski begitu, pemerintah tetap harus waspada hingga akhir tahun.

“Kenaikan suku bunga terbukti efektif meredam pelemahan rupiah. Padahal pada September 2013 kemarin volatilitas rupiah begitu rentan. Terutama didorong oleh sentimen negatif terkait rencana tapering off oleh Bank Sentral AS. Dan juga semakin melebarnya defisit neraca perdagangan serta tingginya kenaikan inflasi di Indonesia,” ungkapnya di Jakarta, Senin (21/10).

Untuk itu, Agus Marto menegaskan hingga saat ini stabilitas keuangan Indonesia, khususnya sektor perbankan, masih tetap terjaga. Secara umum, rasio permodalan, tingkat keyakinan terhadap kredibilitas kebijakan, serta pengaturan dan pengawasan perbankan oleh BI, dinilai Agus Marto telah memenuhi target yang ditetapkan. Selama periode tersebut, kata dia, BI terus menjaga stabilitas rupiah agar tidak melemah secara berlebihan.

“Hal ini tercermin dari capaian kami yang mampu mengembalikan rupiah hingga posisi sekitar Rp11.300 per dolar AS untuk saat ini. Padahal pada minggu pertama bulan Oktober ada di level Rp11.600 per dolar AS,” terangnya.

Lebih jauh Agus Marto melihat laju pertumbuhan utang luar negeri juga mulai melambat. Pada September, utang luar negeri ada di kisaran 8% sampak 10%. Sedangkan utang luar negeri pada tahun lalu di periode yang sama bisa mencapai 18% sampai 19%. Bahkan dari keseluruhan utang saat ini resiko ketahanan modalnya pun sudah di-hedging.

“Dari keseluruhan utang yang ada sekarang hanya sekitar 21% perusahaan saja yang masih membutuhkan pendanaan dari dalam negeri. Dan sebagian besar alokasi pendanaannya juga sudah di siapkan oleh pemerintah. Jadi hanya sebagian kecil perusahaan saja yang keberadaan utangnya bisa berdampak pada pemintaan valas,” papar dia.

Meski begitu, Agus Marto mengaku hingga akhir tahun masih ada tekanan untuk pembayaran utang di pasar valas. Sebagian besar tekanan itu disebabkan oleh permintaan impor dari sejumlah perusahaan. “Kalau kita cermati di neraca perdagangan memang impornya terus menurun baik migas maupun nonmigas. Tapi meski volumenya menurun, sebetulnya nilai dari impor itu sendiri masih besar,” jelasnya.

Dia juga memaparkan komposisi defisit neraca teransaksi berjalan hingga akhir tahun. Katanya pada Triwulan III tahun ini defisit neraca teransaksi berjalan ada di posisi 4,4%. Namun bisa diprediksi akan turun lagi menjadi lebih rendah di kisaran 3,4%. “Tapi biasanya di kuartal empat, impor dari industri juga akan naik kembali, karena akan ada kebutuhan lagi. Jadi masih juga perlu diperhatikan,” tutur Agus Marto. [lulus]

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Ekonomi 2018 : Gagal atau Berhasil?

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Pertanyaan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 apakah kegagalan pemerintah atau justru keberhasilan pemerintah sangat…

Mobil Gunakan Biodiesel B50 Berhasil Tempuh Medan-Jakarta

      NERACA   Jakarta - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) melaksanakan ujicoba penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada…

Penguatan Rupiah

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Penguatan nilai tukar rupiah di akhir Januari 2019…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Bantah Anggaran Bocor Rp392 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menegaskan, keberhasilan dalam mengidentifikasi pos…

Target RPJMN Bidang Infrastruktur Diyakini Tercapai

      NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono meyakini bahwa sasaran Rencana…

Indeks Kemudahan Berusaha Turun, Pemerintah Diminta Perbaiki Izin

      NERACA   Jakarta - Pemerintah diminta memberi kepastian pengurusan perizinan konstruksi gedung dan properti. Kepastian pengurusan izin…