Kinerja Perkebunan Nusantara Masih Rugi

Dampak Curah Hujan Tinggi

Selasa, 22/10/2013

NERACA

Jakarta- Manajemen PT Perkebunan Nusantara X mengaku akan menggunakan dana yang diperoleh dari penerbitan obligasinya untuk melunasi utang perbankan. Salah satunya, kredit pada Bank Rakyat Indonesia. Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (21/10).

Pihak manajemen mengaku baru menerima dana obligasi pada 5 Juli 2013. Disebutkan, novasi kredit BRI akan dilunasi seluruhnya dari dana obligasi Rp274,3 miliar, sedangkan sisanya Rp425,16 miliar untuk penurunan KMK Bank Mandiri sebesar Rp390 miliar dan modal kerja di PT Perkebunan Nusantara X sendiri.

Pada semester pertama 2013, manajemen PT Perkebunan Nusantara X mengakui perseroan mengalami rugi bersih setelah pajak secara konsolidasian pada semester pertama 2013 sebesar Rp2.206.264. Hal ini dikarenakan beberapa target kinerja yang direncanakan meleset dari target. Produksi gula sampai semester 2013 misalnya, hanya tercapai 90.131 ton atau sekitar 16,7% dari RKAP yaitu sebesar 538.223 ton.

Hal tersebut disebabkan mundurnya awal giling pabrik gula di wilayah PTPN X dari semula yang dijadwalkan pada Mei 2013, ada beberapa pabrik gula yang mundur sampai awal Juni 2013 yang menyebabkan produksi atau persediaan gula masih kurang optimal. Selain itu, kondisi iklim selama giling berlangsung tidak mendukung operasional pelaksanaan tebang.

Dampak curah hujan yang tinggi selama periode awal giling yang berakibat pada pencapaian redemen 7,39% atau 88,7% dari rendemen RKAP sebesar 8,33% di mana tanaman cenderung belum masak. Lahan basah penebangan juga mengalami kendala pengangkutan dan pabrik terkendala pasok tebu yang berpengaruh terhadap efisiensi. Produksi tebu yang dihasilkan tercatat sebesar 1.271.406 ton atau 19,7% dari rencana sebelumnya sebesar 6.449.498,6 ton.

Sementara produksi tetes sampai dengan semester pertama 2013 hanya tercapai 57,473 ton atau 19,8% dari rencana sebesar 290.227 ton. Adapun realisasi lahan tembakau sampai dengan semester pertama pada unit usaha tembakau tahun 2013 sebesar 1.296,12 hektar atau 97,8% di bawah RKAP 2013 sebesar 1.325 hektar. Begitu juga dengan realisasi produksi cutting bobbin mencapai 366.734 ribu potong atau 52,4% terhadap rencana sebesar 700 ribu potong.

Oleh karena itu, hal tersebut berakibat terhadap nilai penjualan yang diperoleh perseroan selama semester pertama 2013. Pihaknya mencatat penjualan gula semester pertama 2013 hanya tercapai Rp385,4 miliar atau sekitar 21,35% dari rencana 2013 sebesar Rp1.805 miliar. Sementara penjualan tetes sebesar Rp44,5 miliar atau 44,90% dari rencana 2013 sebesar Rp99 miliar dikarenakan perkembangan harga tetes yang kondusif sampai pertengahan 2013. Adapun penjualan tembakau tercapai sebesar Rp95,6 miliar atau 32,25% dari rencana sebesar Rp296 miliar. (lia)