Rawan Koreksi, IHSG Bergerak Konsolidasi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin awal pekan kemarin, transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat karena aktifnya pelaku pasar berburu saham-saham unggulan dan lapis dua. Selain itu, sentimen positif juga datang dari bursa regional yang bergerak menguat. Alhasil, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 31,607 poin (0,70%) ke level 4.578,178. Sementara Indeks LQ45 bertambah 6,042 poin (0,79%) ke level 773,750.

Analis Kresna Graha Sekurindo, Etta Rusdiana Putra mengatakan, IHSG BEI berhasil ditutup menguat didorong oleh aksi beli pada saham sektor konsumsi, “Meningkatnya aksi beli pada saham konsumsi ini tidak terlepas dari ekspektasi terjaganya daya beli masyarakat seiring dengan mulai stabilnya nilai tukar rupiah dengan kecenderungan menguat," kata dia di Jakarta, Senin (21/10).

Dia mengemukakan bahwa penguatan sektor konsumsi dipimpin oleh Gudang Garam (GGRM), dipicu oleh eforia pasar setelah dibatalkannya rencana kenaikan cukai rokok pada tahun depan. Etta Rusdiana Putra juga mengatakan bahwa penguatan indeks BEI didorong sentimen domestik seperti laju inflasi Indonesia yang mulai kembali ke tren normalnya di bulan Septmeber dan juga sentimen di pasar global yang mulai kondusif."Saat ini, tekanan di bursa global mulai mereda seiring dengan tercapainya kesepakatan fiskal AS yang menghindarkan AS dari risiko gagal bayar utang (default), sementara produk domestik bruto (PDB) ekonomi China tumbuh menjadi 7,8% di kuartal III 2013,”ujarnya.

Berikutnya, indeks BEI diproyeksikan akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas. Perdagangan kemarin, pelaku berburu saham unggulan dan lapis dua berkat dorongan dari pasar regional. Enam dari sepuluh sektor berhasil menguat, dipimpin sektor konsumer dengan penguatan lebih dari dua persen. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 149.969 kali pada volume 6,953 miliar lembar saham senilai Rp 6,298 triliun. Sebanyak 151 saham naik, sisanya 102 saham turun, dan 106 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih kompak bertahan di zona hijau hingga penutupan pasar. Bursa saham China memimpin penguatan dengan lonjakan lebih dari satu persen. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 25.000 ke Rp 1,2 juta, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.800 ke Rp 36.650, Unilever (UNVR) naik Rp 700 ke Rp 31.500, dan Lion Metal (LION) naik Rp 350 ke Rp 14.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mandom (TCID) turun Rp 500 ke Rp 10.000, Nipress (NIPS) turun Rp 450 ke Rp 9.750, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 300 ke Rp 13.700, dan Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 250 ke Rp 33.700.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup naik 20,190 poin (0,44%) ke level 4.566,761. Sementara Indeks LQ45 naik 2,887 poin (0,38%) ke level 770,595. Aksi ambil untung terjadi di saham-saham tambang, aneka industri, dan infrastruktur. Tapi aksi ini belum bisa menjegal indeks sampai jatuh ke zona merah.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 85.291 kali pada volume 4,406 miliar lembar saham senilai Rp 3,413 triliun. Sebanyak 156 saham naik, sisanya 71 saham turun, dan 97 saham stagnan. Bursa di Asia masih kompak bertahan di zona hijau. Aksi beli marak terjadi berkat sentimen positif dari pasar global terutama Wall Street yang salah satu indeksnya berhasil cetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Gudang Garam (GGRM) naik Rp 2.200, Lion Metal (LION) naik Rp 350 ke Rp 14.000, Unilever (UNVR) naik Rp 250 ke Rp 31.050, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 200 ke Rp 5.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mandom (TCID) turun Rp 500 ke Rp 10.000, Nipress (NIPS) turun Rp 400 ke Rp 9.800, BRI (BBRI) turun Rp 150 ke Rp 8.050, dan Tower Bersama (TBIG) turun Rp 100 ke Rp 5.650.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik sebesar 11,04 poin atau 0,24% menjadi 4.557,61. Sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,92 poin (0,38%) ke level 770,62,”IHSG BEI kembali dibuka menguat meski relatif terbatas seiring minimnya sentimen positif baru dari domestik," kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Menurut Benedictus Agung, indeks BEI diperkirakan akan mengikuti pergerakan bursa Asia yang mayoritas menguat seiring ekspektasi Bank Sentral AS atau The Fed akan menunda pengurangan stimulus keuangannya, “Pasar mengekspektasikan bahwa The Fed akan kembali menunda 'tapering'-nya dalam pertemuannya di akhir Oktober ini bahkan hingga awal tahun depan," kata dia.

Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan adanya dukungan sentimen positif dari global memberikan peluang bagi IHSG kembali berad di area positif."Masalah krusial ketidakpastian pasar telah terlewati di pekan lalu, berikutnya pasar akan mengukurnya lewat data ekonomi. Salah satu data ekonomi pekan ini yang menjadi perhatian pasar berkenaan dengan data ketenagakerjaan AS, karena pelaku pasar akan melihat seberapa besar dampak 'shutdown' AS," kata Alfiansyah.

Selain itu, lanjut dia, data ekonomi yang dicapai China di periode Juli-September dinilai positif dan itu bisa menciptakan perbaikan pandangan bagi pelaku pasar global akan prospek ekonomi terutama untuk kawasan Asia."Bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi China akan berdampak positif ke perekonomian Indonesia, terutama mengurangi tekanan defisit neraca pembayaran Indonesia," kata dia.

Sementara itu, bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 146,69 poin (0,63%) ke level 23.486,79, indeks Nikkei-225 naik 96,71 poin (0,69%) ke level 14.661,93, dan Straits Times menguat 12,08 poin (0,38%) ke posisi 3.204,98.

Related posts