​Permintaan Uang Kartal Masih Tinggi​

Selasa, 22/10/2013

​NERACA

Jakarta - Meskipun tren penggunaan uang elektronik atau e money saat ini sedang meningkat, namun kebutuhan uang kertas dan logam masih cukup tinggi. Direktur Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia, Prasetio mengatakan, kebutuhan yang tinggi tersebut akibat penggunaan uang tunai untuk bertransaksi jumlahnya masih cukup tinggi.

Lebih lanjut Prasetio mengatakan, secara mutlak penggunaan uang tunai mengalami penurunan, akan tetapi belum signifikan karena pengguna e money masih di kalangan menengah ke atas yang tinggal di kota besar. “Indonesia itu memiliki wilayah yang luas dan masyarakat umumnya, ketika melakukan transaksi masih menggunakan uang tunai,” ujarnya di Jakarta Senin (21/10).

Dia mengatakan, Perum Peruri sebagai perusaahaan pencetak uang selalu berupaya meningkatkan dan kualitas dan kapasitas cetakan uang dan termasuk surat-surat berharga. Tahun depan, menurut Prasetio, Bank Indonesia (BI) akan memesan cetak uang kepada Peruri sekitar 6 miliar bilyet. “Meningkat dibanding tahun 2013 yang diperkirakan mencapai 5,3 miliar bilyet,” ucap dia.

Menurut dia, peningkatan kapasitas pencetakan uang dan surat berharga yakni dengan cara mendatangkan mesin baru sebanyak dua unit di tahun depan. “Satu unitnya datang awal tahun 2014 dan satu unit lagi sebelum akhir tahun 2014, total investasinya dikisaran Rp1 triliun,” imbuh dia.

Kontribusi terbesar terhadap pendapatan Peruri adalah pencetakan uang yang mencapai 70%. Menurut Prasetio, selebihnya diperoleh dari pencetakan surat berharga seperti paspor, perangko dan materai, surat tanah, dan pita cukai.

Pada 2014 mendatang, Peruri menargetkan pendapatan sebesar Rp2,8 triliun, ini naik 12% dibanding tahun 2013 yang diprediksikan sekitar Rp2,5 triliun. “Target tersebut akan kami sampaikan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) kepada kementerian BUMN,” kata Prasetio.

Dengan ekspansi bisnis, diharapkan tahun depan, perseroan mampu untuk meningkatkan laba bersi menjadi sebesar Rp280 miliar. “Dari tahun 2013 yang di proyeksikan sebesar Rp250 miliar hingga Rp260 miliar,” tutur dia.

Selain itu, Peruri juga menjadi tuan rumah Konferensi Percetakan Uang dan Bank Sentral di wilayah Semenajung Pasifik 2013 (The XX Pacific Rim Banknote Printer's Conference/PRBPC) pada 20 hingga 26 Oktober 2013.

Ke-15 negara anggota tersebut yaitu, Amerika Serikat, Australia, Brazil, China, Kolombiasa, Chile, Thailand, Philipina, Mexico, Republik Korea, Jepang, Indonesia, India, Hongkong, dan Kanada.

Konferensi ini, menurut Prasetio dimaksudkan agar para anggota dapat bertukar iformasi terkait disain uang kertas, metode produksi, perlatan, penelitian dan pengembangan, sistem distribusi, pencegahan pemalsuan.

"Konferensi ini momentum penting bagi Indonesia khususnya Perum Peuri untuk bertukar informasi, termasuk berbagai kemungkinan ke depan terhadap perkembangan percetakan uang, mengingat adanya wacana kebijakan "cashless society" di dalam bertransaksi," kata Prasetio. [sylke]