Cara Cerdas Memilih Tinta Printer Isi Ulang - Blueprint Tinta Ramah Lagi Ekonomis

NERACA

Jakarta – Terus bertumbuh pesatnya industri seluler dalam negeri rupanya menjadi pasar yang menjanjikan bagi operator seluler. Kondisi tersebut juga menuai berkah bagi bisnis tinta printer di Indonesia yang tidak hanya membidik sektor perkantoran saja. Alasannya sederhana, dibalik fitur-fitur kecanggihan handphone seluler saat ini berupa kamera digital rupanya memicu prilaku masyarakat untuk merekam momentum indah di sekeliling mereka dan kemudian dicetaknya hasil foto tersebut. Bak gayung bersambut, kondisi ini pun membuat usaha cuci cetak foto kebanjiran permintaan untuk mencetak gambar hasil foto dari handphone seluler.

Selain itu, tugas mencetak foto kini banyak diambil alih printer komputer biasa dan dampaknya, aktifitas mencetak foto dapat dilakukan masyarakat kapan saja, tidak terpaku pada jam operasi tempat cuci foto. Tentu saja untuk mecetak hasil gambar foto perlu ditunjang tinta printer dan kertas foto yang bagus agar hasil yang didapatkan sangat memuaskan. Namun tidak jarang, justru para pelaku usaha cuci foto dan masyarakat pada umumnya mengeluhkan, ketika proses cetak photo tidak menghasilkan gambar yang bagus dan sebaliknya merusak printhead lantaran selalu sering digunakan.

Menurut Marketing PT. Triduta Mitra Sejahtera atau produsen Blueprint, Rudiyanto mengatakan, ketika printer macet ataupun kering pada printheadnya, salah satunya bisa diakibatkan oleh penggunaan tinta printer dengan kualitas yang kurang bagus. Dimana kualitas tinta yang dimaksud adalah jumlah dan besarnya partikel kontaminan didalamnya, “Semakin besar ukuran dan jumlah kontaminan yang terdapat di tinta printer, maka semakin cepat kebuntuan headprinter akan terjadi,”ungkapnya.

Selain itu, penggunaan tinta yang sembarangan bisa menyebabkan headprinter menjadi tersumbat atau macet dan bahkan tidak mengeluarkan tinta dengan sempurna dan hasilnya printingan juga kurang maksimal. Dia pun memaklumi, banyak masyarakat merasa dibuat kesal dan marah ketika sedang menggunakan printer dan ternyata printer dalam keadaan macet atau bermasalah. Selama ini, seringkali masyarakat masih menyangka kalau kerusakan yang dialami dikarenakan oleh tingkat penggunaan printer. Padahal belum tentu demikian, dari kenyataan yang ada kerusakan seringkali diakibatkan oleh penggunaan kualitas tinta yang sembarangan.

Maka untuk mengatasi kekesalan masyarakat ketika menggunakan printer, Blueprint sebagai produsen besar tinta isi ulang, kertas photo dan toner cartidege telah menciptakan tinta isi ulang yang aman dengan menggunakan teknologi APV Balance sehingga membuat tinta tidak menggumpal dan bahkan produk ini diklaim ramah untuk printhead printer yang digunakan, “Tidak hanya itu, tinta ini juga telah mengalami filtrasi yang sempurna. Sehingga tinta yang diproduksi memiliki hasil printingan yang sempurna dan menjadikan lebih efisien dan ekonomi,”kata Rudiyanto.

Bahkan untuk menyakinkan masyarakat, bila tinta isi ulang Blueprint ramah terhadap printhead, perseroan telah meraih rekor MURI untuk kedua kalinya dengan menghasilkan cetakan text dan warna terbanyak 36.100 lembar dari satu printer tanpa merusak head. Rekor tersebut menjadi prestasi yang kedua, setelah sebelumnya Blueprint juga telah mencetak rekor MURI pada kategori yang sama dengan mencetak diangka 18.000 lembar kertas. Blueprint mencetak kertas dengan menggunakan mesin printer Plezzo L110. Disebutkan, total pemakaian tinta Cyan, Magenta, Yellow sebanyak masing-masing tiga botol dengan isi 100 mililiter dan Black 9 botol 100 mililiter.

Asal tahu saja, rekor MURI kedua yang dipegang Blueprint juga memecahkan rekor MURI sebelumnya yang dipegang PT Epson Indonesia dengan mencetak sebanyak 30.160 lembar. Maka dengan prestasi yang telah ditorehkan Blueprint, menjadi alasan mengapa pemilik studio dan jasa cetak foto memilih Bluepint sebagai pilihan tepat dan utama untuk tinta dan kertas foto. Pertimbangannya, tinta yang murah sering terbukti memperpendek usia headprinter dan kertas foto yang murah sering tidak tahan lama setelah dicetak. Oleh karena itu, Blueprint telah menjawab kebutuhan pasar karena untuk suatu usaha, kualitas harus tetap menjadi pertimbangan utama.

Related posts