Charoen Pokphand Lakukan Hedging

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) akan mengambil langkah perlindungan terhadap nilai mata uang (hedging) jika nilai rupiah semakin melemah terhadap dolar AS dan akan mempengaruhi keuangan perseroan. Alasannya, saat ini perseroan memiliki pinjamn sindikasi kepada 20 bank senilai US$500 juta. Meskipun dalam pinjman tersebut tidak sepenuhnya dalam dolar, pihak perseroan mengakui khawatir dengan kondisi rupiah yang tak kunjung melemah.

Menurut Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk Ong Mei Sian langkah hedging akan dilakukan sebagai upaya terakhir agar nilai utangnya tidak kian membengkak seiring pelemahan rupiah. Disamping itu, dia mengakui bahwa banyak bahan baku perseroan terutama untuk lini bisnis pakan ternak didapat dari luar negeri.“Meskipun begitu, kita cukup senang karena pinjaman ini sifatnya fleksibel dan kami akan mengambil langkah hedging jika diperlukan”, tuturnya di Jakarta, Senin (21/10).

Pada fasilitas sindikasi ini, dana pinjaman tetap akan terdiri dalam dua mata uang, yakni dollar AS dan Indonesia rupiah. Dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan agar portfolio pinjaman antara mata uang lokal dan asing tercapai di komposisi 50%:50%.

Komposisi ini menurut manajemen perseroan adalah komposisi yang cukup ideal dimana di satu sisi biaya bunga dapat ditekan, dan dilain sisi resiko terhadap fluktuasi mata uang asing masih tidak akan membahayakan posisi keuangan perusahaan, sehingga dana dari pinjaman sindikasi ini akan mendorong pertumbuhan di semua segmen bisnis.

Dengan diperolehnya fasilitas pinjaman sindikasi setara US$500 juta ini, perseroan akan tetap menerapkan konsep kehati-hatian dalam menjalankan usahanya. Selain itu, pinjaman ini belum akan terpakai secara penuh dalam waktu dekat karena ada sebagian yang dicadangkan sebagai cadangan kegiatan usaha.

Namun jika keadaan membuat perseroan menggunakan seluruh fasilitas ini, manajemen cukup yakin performa finansial CPIN masih sehat dan kuat. Dengan Debt to Equity ratio hanya akan mencapai 0.68x, Debt/EBITDA 1.5x, sebuah level yang relatif rendah.

Sebelumnya, pasca 1998 CPIN telah dua kali meraih fasilitas pinjaman sindikasi, yakni pada tahun 2007 sebesar setara US$125 juta dan pada tahun 2011 sebesar setara US$250 juta. Salah satu penggunaan dana pinjaman sindikasi yang baru adalah untuk refinancing sisa utang pinjaman sindikasi pada 2011 senilai US$200 juta. (nurul)

BERITA TERKAIT

OJK Sebut Bank Papua Lakukan Perbaikan Kinerja

    NERACA   Jayapura - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Papua menyebut Manajemen PT. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Papua…

Chareon Pokphand Rombak Susunan Direksi

NERACA Jakarta – Hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) membuahkan hasil berupa perubahan susunan…

DPRD Kota Sukabumi Lakukan Reses - Sekretaris DPRD : Reses Terakhir Dewan Periode 2014-2019

DPRD Kota Sukabumi Lakukan Reses Sekretaris DPRD : Reses Terakhir Dewan Periode 2014-2019 NERACA Sukabumi - Memasuki masa persidangan ke…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

MNC Sekuritas Kantungi Mandat Tiga IPO

Keyakinan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila tahun politik tidak mempengaruhi minat perusahaan untuk go publik, dirasakan betul oleh PT…