Bangun Pabrik, Pokphand Ngutang US$ 500 Juta

Danai Ekspansi Usaha

Selasa, 22/10/2013

NERACA

Jakarta – Guna menopang pertumbuhan bisnis pakan ternak dan makanan olahan, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi senilai US$500 juta dari 20 bank tanpa menjaminkan asetnya. Disebutkan, fasilitas diberikan dalam bentuk dua mata uang yaitu US$325 juta dan Rp2 triliun.

Direktur perseroan Ong Mei Sian mengatakan, fasilitas pinjaman juga dibagi dua, yaitu fasilitas pertama amortizing term loan facility senilai US$130 juta dan Rp800 miliar dengan jangka waktu pengembalian 5 tahun, “Sementara fasilitas kedua yaitu revolving credit facility senilai US$195 juta dan Rp1,2 triliun dengan jangka waktu pengembalian 3 tahun dan mempunyai dua tahun opsi perpanjangan dengan diskresi dari kreditur,”ujarnya di Jakarta, Senin (21/10).

Dia menuturkan, alasan perseroan menggalang pinjaman sindikasi tersebut untuk digunakan sebagian besar kebutuhan pendanaan perusahaan dalam mendukung pertumbuhan usaha untuk lima tahun kedepan. Selain itu, pinjaman ini juga digunakan untuk membayar kembali (refinancing) semua outstanding pinjaman perbankan perusahaan.

Lanjutnya, fasilitas pinjaman ini dapat membantu perseroan meningkatkan kinerjanya. Selain itu dengan bunga yang lebih rendah membuat perseroan dapat menghemat bunga dari pinjaman sindikasi pada tahun 2011 senilai US$250 juta. Karena perseroan merencanakan melunasi sisa utang sindikasi sebelumnya sebesar US$200 juta.

Kata Ong Mei Sian, pinjaman sindikasi ini dikenakan bunga pinjaman baru yang lebih murah sehingga terdapat penghematan biaya bunga. Sehingga pinjaman baru ini juga memperpanjang profil umur pinjaman perusahaan. Dalam pinjaman sindikasi tersebut, Citibank, DBS Bank menjadi koordinator. Sementara bank lain yang bergabung diantaranya Bank ANZ, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Bank BII-Maybank, Rabobank International, dan beberapa bank asing dari Taiwan, Taipei, Singapura.

Bangun Pabrik

Dengan adanya pinjaman sindikasi ini, perseroan pada 2014 akan membangun pabrik baru di Bali dan Padang, dengan nilai investasi US$20 juta per pabrik. Menurut dia, setiap tahunnya perseroan meningkatkan kapasitas produksinya 15%, sehingga selalu ada pembangunan pabrik baru.“Pada tahun ini, perseroan akan menguji coba pabrik baru di Cirebon yang memiliki nilai investasi US$30 juta-US$40 juta dengan kapasitas 20 ribu ton per bulan. Cirebon lebih besar dibandingkan Bali dan Padang, tahun depan mulai beroperasi penuh”, jelasnya.

Dengan pertumbuhan yang ditargetkan sama setiap tahunnya, perseroan tidak mengubah anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) pada 2014 mendatang. Tahun depan perseroan masih menganggarkan belanja modal sebesar Rp2 triliun yang diperoleh dari kas internal dan sisa pinjaman sindikasi tersebut.

Perseroan memiliki lini bisnis 37% pangsa pasar di pakan ternak, 35% pangsa pasar di DOC, dan 55% pangsa pasar di daging ayam olahan. Perseroan juga memiliki 7 pabrik pakan ternak, 80 fasilitas pembibitan, 43 fasilitas penetasan, 4 fasilitas pengolahan daging ayam dan lebih dari 2.500 agen distribusi di seluruh Indonesia.

Saat ini, perusahaan poultry ini tengah membangun pabrik pakan ternak di Jawa Barat dan akan mendirikan beberapa fasilitas sejenis di pulau Jawa dan luar Jawa. Fasilitas produksi DOC sedang dibangun di beberapa lokasi di seluruh Indonesia. Sementara, fasilitas daging ayam olahan akan dibangun di beberapa daerah yaitu Jawa Timur, Jawa Barat dan Sumatera Utara. (nurul)