Bayar Utang, ANTV Matangkan IPO

Senin, 21/10/2013

NERACA

Jakarta- Setelah dikabarkan gagal melakukan negosiasi jual, anak usaha PT Visi Media Asia Tbk, ANTV disebut sebut akan melepas sahamnya ke publik pada awal tahun depan. Tujuannya, tidak lain mendapatkan dana segar untuk mendukung pembayaran utang (refinancing) dan pembiayaan bisnisnya. “Selain bayar utang, dana hasil IPO juga untuk kegiatan bisnis yang lainnya,” kata Direktur Keuangan Visi Media Asia, Charlie Kasim di Jakarta pekan kemarin.

Diakui Charlie, pihaknya memiliki utang kepada Deutsche Bank senilai US$ 80 juta yang akan jatuh tempo Februari 2014. Maka dengan menggunakan buku Juli 2013, perseroan pun dapat melaksanakan pencatatan sahamnya sebelum utang tersebut jatuh tempo. Sayangnya, dia enggan membocorkan berapa porsi saham yang akan dilepas.

Namun, manajemen perseroan sebelumnya pernah menyinggung akan melepas sekitar 20% saham perseroan dengan target dana yang dibidik hingga Rp1 triliun. PT Ciptadana Securities yang akan bertindak sebagai salah satu penjamin emisi untuk entitas anak VIVA yang berada di bawah naungan saham Intermedia Capital ini.

Sebagai informasi, Intermedia merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa dengan total aset sebelum eliminasi mencapai Rp 622,07 miliar. Sementara PT Cakrawala Andalas Televisi, pemilik hak siar ANTV dimiliki VIVA secara tidak langsung dengan kepemilikan 99,99% saham.

Menelisik kinerja VIVA, pada perdagangan akhir pekan kemarin (18/10) saham VIVA berada di harga Rp235, selisih Rp15 (6.00%) dari harga sebelumnya Rp250. Sementara dalam 52 minggu terakhir, harga tertinggi saham VIVA Rp750 dan terendah di harga Rp111. Tercatat, pada paruh pertama 2013 kinerja VIVA cukup positif. Perseroan mencatatkan pendapatan, 32,2% secara year on year mencapai Rp 721,8 miliar dibandingkan pendapatan semester pertama 2012 sebesar Rp 545,8 miliar.

Sementara earnings before interest, taxes, depreciation, and amortization (Ebitda) tercatat sebesar 73,5% menjadi Rp 230,9 miliar, dan marjin Ebitda mencapai 32,0% atau meningkat dari 24,4% pada periode yang sama sebelumnya. Dengan pertumbuhan pendapatan dan Ebitda, perseroan mencatatkan laba bersih semester pertama 2013 sebesar Rp 27,9 miliar atau meningkat 61,3% secara year on year dari Rp 17,3 miliar.

VIVA sendiri tercatat sebagai emiten ke-20 yang melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011. Pada saat pencatatan harga saham tertinggi VIVA dibuka pada kisaran Rp 450 per lembar atau mengalami kenaikan 40% atau Rp 150 dari harga perdana. Sedangkan harga terendah Rp 390 per lembar.

Dalam proses penawaran umum perdana saham, disebutkan terjadi kelebihan jumlah pemesanan saham (oversubscribed) dari kalangan investor hingga 50,77 kali dari jumlah alokasi penjatahan saham pooling. Namun, pencapaian kelebihan permintaan yang bisa menyentuh 50 kali itu sempat dinilai janggal untuk perusahaan dengan valuasi yang 10 kali lebih mahal dari industrinya. Lantas, bagaimana dengan IPO ANTV, apakah pencatatan sahamnya di tahun politik tahun depan juga akan mendulang keuntungan yang sama?

Karena seperti diketahui, memasuki tahun pemilihan umum (pemilu), pelaku pasar dinilai akan lebih wait and see. Meskipun memang ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencapai kelebihan permintaan dalam penawaran saham. Namun, diyakini jika kondisinya cukup kondusif dan tidak ada perubahan kebijakan ataupun isu-isu negatif, tentunya dapat menjadi pendorong pasar bergerak positif. “Kalau trennya mirip siklus tahun-tahun pemilu sebelumnya, secara historikal dampaknya ke pasar modal 2-3 bulan sebelum dan satu bulan setelahnya. Dan pasar akan melihat apakah ada perubahan kebijakan yang dibuat dan seperti apa.” kata Direktur Utama Batavia Asset Management, Lilis Setiadi. (lia)