Furnitur RI Incar Pasar Afsel

Perdagangan Luar Negeri

Senin, 21/10/2013

NERACA

Jakarta – Sekretaris Jenderal Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Abdul Sobur mengungkapkan bahwa Afrika Selatan menjadi salah satu negara yang potensial untuk produk-produk furnitur dari Indonesia. Terlebih Afsel adalah pasar non tradisional yang belum tergarap. “Afrika Selatan sangat luar biasa, ada kerja sama dengan BUMN Indonesia untuk membuat rumah di sana, dan itu pasti akan membutuhkan furnitur, kita bisa masuk ke sana,” katanya, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Abdul, Indonesia harus masuk ke pasar Afrika Selatan melalui pameran-pameran yang diselenggarakan di kawasan tersebut, mengingat jika penetrasi dari China yang masuk terlebih dahulu maka Indonesia akan kehilangan peluang. “Jika kita tidak segera mengikuti atau masuk ke Afrika Selatan, nantinya China dan negara-negara lain pesaing kita akan masuk lebih dahulu dan kita akan kehilangan peluang,” ujarnya.

Abdul mengatakan, hingga saat ini potensi pasar Afrika Selatan masih belum tersentuh dengan baik, namun pihaknya meyakini dalam waktu tiga hingga lima tahun kedepan Indonesia akan mendorong untuk melakukan penetrasi agar mampu meningkatkan ekspor. “Upaya dari pemerintah memang ada, namun masih kecil sekali, tugas Kementerian Perdagangan untuk kampanye, promosi, dan juga melakukan penetrasi ke pasar baru,” katanya.

Namun, Abdul menjelaskan, pihaknya akan melakukan terobosan langsung untuk menembus pasar Afrika Selatan. "Kita akan masuk dalam pameran-pameran yang ada, saat ini masih business to business, namun jika ada fasilitas dari pemerintah maka akan lebih baik lagi," ujar Abdul.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan telah menandatangani nota kesepahaman antara Nucrete Company Building dari Afrika Selatan dengan PT Wijaya Karya dari Indonesia untuk pembangunan 2.000 unit single house senilai US$31 juta atau setara Rp352,2 miliar.

Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi mengatakan kerjasama proyek pembangunan rumah di Afrika Selatan ini akan melibatkan sekitar 2.000 tenaga kerja di Indonesia. “Indonesia menjadi pilihan Afrika Selatan, dan tentunya selain jasa konstruksi juga ada peluang yang terbuka untuk transaksi barang-barang yang akan dipergunakan untuk mengisi rumah dan pembangunan itu,” kata Bayu.

Ekspor US$ 5 Miliar

Ditempat yang sama, Ketua Umum AMKRI Sunoto menyatakan bahwa target ekspor furnitur diharapkan mampu mencapai atau menembus US$5 miliar dalam waktu lima tahun ke depan. Angka tersebut merupakan target yang akan berusaha dicapai dan merupakan angka realistis, mengingat total ekspor furnitur dunia mencapai US$122 miliar yang didominasi oleh China “China mendominasi ekspor furnitur dunia sebesar 40%, kontribusi Vietnam sebesar US$4 miliar dolar AS, sementara Indonesia baru mendekati US$2 miliar saja,” kata Soenoto.

Ia menambahkan, dalam waktu lima tahun ke depan pihaknya meyakini bahwa target ekspor furnitur senilai US$5 miliar akan mampu terpenuhi. “Dengan target tersebut, maka pertumbuhan per tahun minimal harus sebesar 25%,” katanya.

Menurut Soenoto, dengan kenaikan sebesar 25% per tahun, maka saat memasuki tahun ke lima, peningkatan nilai ekspor furnitur mencapai US$5,2 miliar. “Kami akan terus melakukan berbagai macam upaya seperti penetrasi pasar khususnya untuk pasar non-tradisional,” kata Soenoto.

Permintaan pasar furnitur pada 2013 sudah mengalami perbaikan setelah sebelumnya lesu akibat krisis ekonomi yang melanda Eropa dan Amerika Serikat. Meskipun hingga saat ini ke duanya masih mengalami krisis, namun berdasarkan data CSIL, perdagangan furnitur dunia mencapai US$122 miliar, di mana Indonesia hanya berkontribusi kurang lebih sebesar dua persen.

Ekspor furnitur Indonesia sendiri masih didominasi bahan baku kayu, rotan, bambu dan lainnya yang ditujukan ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Inggris dan Belanda. Untuk nilai ekspor furnitur Indonesia sendiri dari tahun ke tahun masih berfluktuasi, kalau pada 2009 sebesar US$1,37 miliar, 2010 tercatat US$1,16 miliar, 2011 mencapai US$1,38 miliar dan 2012 sebesar US$1,4 miliar.