AMKRI Optimis Industri Mebel Nasional Bakal Rajai ASEAN

Nilai Ekspor Furnitur Bisa Tembus US$5 Miliar

Senin, 21/10/2013

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Soenoto optimistis industri mebel dan kerajinan Indonesia bakal merajai kawasan ASEAN. "Kami optimistis dalam lima tahun ke depan ekspor industri ini bisa menjadi barometer di kawasan ASEAN dengan nilai ekspor mencapai US$5 miliar," katanya dalam jumpa pers di kawasan Trade Expo Indonesia (TEI) 2013, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (19/10).

Sejauh ini kata Soenoto, nilai ekspor produk olahan kayu furnitur asal Indonesia mencapai US$1,7 miliar per tahunnya. Akan tetapi, angka itu masih jauh dibandingkan dengan pencapaian negara satu zona Asia Tenggara seperti Vietnam dan dalam skala Asia Indonesia masih kalah jauh dari China.

Vietnam mencatatkan nilai ekspor mencapai US$4 miliar sedangkan China US$25 miliar, sementara total nilai ekspor dunia berada dalam kisaran US$112 miliar.

"Indonesia masih mampu meningkatkan nilai itu dan mengejar pencapaian negara-negara pengekspor terbesar dunia. Salah satunya dengan mengagendakan 13 pameran produk di berbagai negara. Ini belum termasuk pameran di dalam negeri seperti Indonesia International Furniture Expo 2014 pada Maret tahun depan," ujarnya.

Optimisme Soenoto itu didasari oleh ketersediaan bahan baku dalam negeri yang melimpah, sumber daya manusia dalam jumlah yang besar dan semakin kondusifnya iklim investasi nasional.

Dalam kesempatan itu Soenoto juga mengungkapkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) harus berperan dalam mengembangkan teknologi tepat guna di Indonesia untuk mendukung industri mebel dan kerajinan nasional. "BPPT sejauh ini tidak memberikan apa-apa bagi kami," kata dia.

Komentarnya ini tak lepas dari padangannya terhadap peran BPPT bagi industri berbahan dasar rotan. "Alat-alat pengolahan rotan menjadi barang bernilai itu tidak murah. Misalnya di Cirebon pengolahan rotan terkendala teknologi. Perajin di sana harus menggunakan cara tradisional dalam mengubah warna rotan coklat agar menjadi abu-abu. Mereka harus merendam rotan selama tiga pekan di dalam lumpur. Seharusnya BPPT bisa memberikan kontribusinya mengingat tujuan didirikannya BPPT sendiri. BPPT harus memberikan solusi dengan keluaran teknologi tepat guna."

Padahal menurut Soenoto, industri mebel dan kerajinan berbahan dasar rotan mampu memberikan kesempatan kerja dan penghasilan yang baik bagi masyarakat. Alasannya, produksi barang dari rotan mampu dikerjakan oleh industri skala kecil dan menengah tidak harus dari industri besar. "Produksi komoditi dari rotan bisa dilakukan di mana saja termasuk di kolong jembatan. Modal kerjanya baik karena itu digarap industri kecil dan menengah," katanya.

Genjot Ekspor

Dalam kesempatan berbeda, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berupaya menggenjot ekspor furniture. Dibandingkan tahun lalu, nilai ekspor furnitur ditargetkan naik sebesar 30 %. "Rotan jadi andalan ekspor furniture kita," ujar Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan.

Selain rotan, peluang ekspor di dunia otomotif dikatakan cukup besar. Tahun lalu, Kemendag bahkan dibuat terkejut dengan larisnya penjualan rumah kayu dan bulu mata khas Probolinggo. Untuk bulu mata contohnya, berhasil mencapai total US$250 juta per tahun.

Indonesia juga sedang mengembangkan pasar non tradisional, seperti Timur Tengah dan Afrika. Gita pun optimistis telah terjadi pemulihan pertumbuhan ekonomi di negara maju, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Hal ini diharapkan menjadi angin segar untuk perekonomian Indonesia.

Sunoto mengatakan ada lima hal yang perlu dipahami pengusaha untuk mengembangkan bisnis rotan, yaitu penetrasi pasar, eksibisi, teknologi tepat guna, infrastruktur yang memadai dan dukungan regulasi. Kelima unsur ini harus berjalan secara simultan. "Kalau Eropa terkenal dengan teknologinya yang tinggi, Indonesia dikenal dengan kualitas rotannya yang tinggi," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan eksportir Indonesia sudah meningkatkan kualitas produk. Upaya terus-menerus ini dilakukan agar kelak pengusaha Indonesia tangguh menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di 2015. Saat itu kita harus bersaing dengan produk bagus yang masuk ke dalam negeri. "Jadi pasar dalam negeri harus kita kuasai," katanya.

Untuk itu pengusaha harus menemukan strategi jitu agar bisa berproduksi dalam jumlah yang besar, dengan harga yang bersaing. Apindo sendiri sejak lama mengembangkan Usaha Kecil dan Menengah (AKM) agar target ini tercapai.

Pada ajang Trade Expo Indoensia (TEI) di Jakarta Internasional Expo (JIExpo) di Kemayoran, Jakarta, hari ini (16/10), transaksi ekspor ditargetkan mencapai 2 miliar dolar AS. Pameran terdiri dari sektor kerajinan tangan, furnitur, produk makanan dan minuman, tekstil dan produk tekstil, produk agro serta sektir hasa. Selain itu juga terdapat produk consumer goods, otomotid, kulit, produk elektronik dan lainnya.