BSN Berharap Pemenang SNI Award Terus Tingkatkan Kinerja

Terkait Perbaikan Standar Mutu

Senin, 21/10/2013

NERACA

Jakarta - Membanjirnya produk impor di pasar dalam negeri, sudah sangat mengkhawatirkan. Mulai dari mainan anak sampai elektronika semuanya dari impor. Untuk itu, Badan Standarisasi Nasional (BSN) melakukan seleksi terhadap 180 perusahaan dari 15 provinsi yang meningkatkan standar mutu mereka yang saat ini telah berusaha untuk memperbaiki dari hasil produk yang telah mereka hasilkan.

Kepala BSN Bambang Prasetya mengatakan, SNI Award atau penghargaan ini juga sekaligus merayakan bulan standar mutu Internasional. Dia berharap dengan kegiatan ini, perusahaan swasta yang terpilih akan terus meningkatkan kinerja mereka. Mulai dari standar produk maupun standar jasa. Perusahaan ini akan diberi penghargaan sebagai bentuk peningkatan kinerja.

"Jadi hari ini menggelar SNI award, Indonesia quality expo, dalam bulan mutu. Penghargaan pengusaha organisasi menerapkan standar SNI dan meningkatkan kinerja perusahaan," kata Bambang di JCC, Jakarta, akhir pekan lalu.

Bambang mengakui, antusias perusahaan untuk dinilai standar mutunya terus meningkat. Tahun lalu jumlah perusahaan yang ikut hanya 120 perusahaan. Tahun ini meningkat menjadi 180 perusahaan dari 15 provinsi untuk 10 kategori. "Mulai Februari kita sudah lakukan interview, survei lapangan. Kategori ada 10 kelompok. Dua besarnya itu jasa dan produk. Ini dibedakan lagi kategori kecil menengah dan besar," terangnya.

Bambang berharap dengan penghargaan ini perusahaan yang menang dapat menjadi pelopor row model agar diikuti oleh perusahaan lainnya. "Dengan meningkatkan standar mutu ini nilai perusahaannya akan tambah naik. Ini penganugerahan kita yang ke 9," kata Bambang.

Diberi Insentif

Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan untuk saat ini pemerintah menyediakan insentif, terutama untuk kegiatan peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang standarisasi melalui kegiatan capacity building.

Hidayat mengatakan, saat ini, sertifikasi Standar Nasional Indonesia masih didominasi oleh SNI yang diberlakukan secara wajib oleh kementerian teknis meskipun hal tersebut merupakan eleman utama dalam penerapan stadarisasi tersebut.

"Hal tersebut menunjukkan bahwa penerapan SNI masih cenderung didorong oleh pemberlakuan regulasi teknis, bukan karena kesadaran para pelaku usaha yang secara sukarela menerapkan SNI," kata Hidayat.

Hidayat menambahkan, pilar standarisasi ditopang oleh kekuatan dua elemen utama, yakni pengembangan standar dan penerapan standar dan untuk saat ini dari kurang lebih sebanyak 7.700 SNI yang telah dikembangkan, belum semuanya diterapkan atau dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan. "Pemerintah melalui BSN juga memberikan stimulasi kepada dunia usaha melalui SNI Award kepada perusahaan yang secara konsisten menerapkan standar tersebut," kata Hidayat.

Badan Standarisasi Nasional menyerahkan 10 penghargaan Standar Nasional Indonesia kepada para pelaku industri yang dinilai konsisten dalam menerapkan standar dan juga memiliki kinerja baik. Penyelenggaraan SNI Award 2013 ini merupakan yang ke-9 dan merupakan salah satu sarana yang digunakan oleh BSN dalam mendorong penerapan SNI di Indonesia dan diikuti oleh 180 perusahaan dari 15 provinsi, yang kemudian disaring menjadi 35 nominator dan pada akhirnya didapat 10 terbaik.

Pada tahun 2013 ini, SNI Award akan diserahkan kepada 10 industri atau organisasi dalam 10 kategori yakni perusahaan skala kecil-menengah-besar baik untuk jasa maupun barang, dengan penilaian antara lain kinerja organisasi yang terdiri dari kepemimpinan dan manajemen, fokus pada pelanggan, manajemen sumber daya, dan pengelolaan atau realisasi produk.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, menilai pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dua tahun mendatang harus dibarengi dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Sistem standarisasi produk dan teknologi ini bisa mengurangi arus produk tak berkualitas."2015 sudah di depan mata, pada saat itulah kemampuan infrastruktur mutu nasional kita diuji dalam implementasi pasa tunggal ASEAN. Kita harus dapat memproteksi pasar domestik dari produk bermutu rendah," ujar Hatta.

Pemerintah menyadari dalam perdagangan internasional, standar telah menjadi bahasa kedua setelah mata uang. Hatta menyoroti, ketika SNI sudah diterima oleh negara lain, artinya Indonesia memiliki keunggulan komparatif.

Oleh karena itu, mantan menteri perhubungan ini berharap masyarakat turut memilih produk yang telah mendapat sertifikat SNI. Pelaku usaha juga diharapkan lebih proaktif mendaftarkan produknya ke BSN. "Perlu digerakkan ke arah penerapan SNI secara sukarela, dan kesadaran masyarakat untuk memilih produk bertanda SNI, karena keunggulan kompetitif produk-produk itu," urainya.

Selain SNI, instrumen penjamin mutu yang sudah diterapkan Indonesia adalah penilaian kesesuaian dan metrologi, atau penyeragaman satuan pengukuran.

Di sisi lain, BSN melaporkan, hingga tahun ini, lembaganya telah menetapkan 9.320 SNI buat bermacam produk maupun jasa. Sebanyak 7.561 SNI masih berlaku, sisanya harus dikaji ulang. Karena harus disesuaikan dengan perkembangan pasar dan IPTEK. Selain itu, sejak 2010 pihaknya telah mengirim 88 notifikasi ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).