Produksi Udang 2013 Kemungkinan Lampaui Target

Penebaran Benur Pada Program Revitalisasi Tambak Capai 90%

Senin, 21/10/2013

NERACA

Sumbawa – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto tidak menutup kemungkinan adanya kelebihan realisasi produksi udang nasional dari yang telah ditargetkan sepanjang 2013 ini. Pasalnya, dalam catatan DJPB, hingga saat ini, realisasi produksi udang nasional telah mencapai lebih dari 500 ribu ton alias sekitar 80% lebih dari total target produksi 608 ribu ton sepanjang tahun. Apalagi, untuk program revitalisasi tambak di berbagai daerah, saat ini penebaran benur udang telah mencapai 90%.

“Harapan kita bisa lebih dari target,” kata Slamet kepada pers pada acara Tebar Perdana Benih Udang Vaname Kegiatan Demfarm Budidaya Tambak Dalam Rangka Revitalisasi Tambak Pada Industrialisasi Perikanan Budidaya di Desa Motong, Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (19/10).

Menurut Slamet, dalam kata sambutan di acara tersebut, kegiatan tebar benur udang perdana ini merupakan rangkaian dari kegiatan revitalisasi tambak pada industrialisasi perikanan budidaya yang memiliki beberapa tujuan. Pertama, memanfaatkan tambak-tambak idle atau mangkrak. Kedua, meningkatkan produkvitas dan produksi tambak udang. Ketiga, memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan. Keempat, meningkatkan pendapatan petambak. Kelima, menyediakan lapangan pekerjaan. Yang terakhir, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan.

Menurut Slamet, penebaran benih udang perdana kegiatan revitalisasi tambak tahun 2013 di laksanakan di Sumbawa karena Sumbawa merupakan sentra udang yang pernah jaya pada tahun 2007-an. Selain itu, dipilihnya Sumbawa lantaran produktivitas udang di sana cukup tinggi dan menyumbangkan sekitar 20% produksinya pada saat itu. Alasan lainnya, luas lahan intennsif sekitar 750 ha yang beroperasi saat ini sekitar 30% atau seluas 250 ha, sedangkan lahan tradisional sekitar 1500 ha (2500 ha).

“Sehingga dipilihnya Sumbawa sebagai tempat launching oleh Bapak Menteri akan memberikan motivasi kepada pembudidaya untuk memulai lagi memanfaatkan lahan-lahan idle untuk kembali aktif berbudidaya udang,” ungkap Slamet di depan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo.

Lebih jauh Slamet mengjelaskan, kegiatan demfarm (demonstration farm) atau tambak percontohan dilaksanakan di 27 kabupaten di 6 Provinsi yaitu Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Sulawesi Selatan, dengan target luasan 540 Ha.

Sementara hasil atau output yang ingin dicapai dari kegiatan demfarm udang ini antara lain para pembudidaya dapat lebih menguasai teknologi budidaya udang terkini, melalui transfer teknologi dari mitra, pendampingan oleh UPT DJPB, penyuluh serta technical services dari pakan, para pembudidaya dapat lebih mandiri dalam mengakses pendanaan guna pengembangan kegiatan usaha budidaya tambaknya.

“Ketiga, kegiatan ini akan dapat menjadi percontohan untuk masyarakat pembudidaya ikan di sekitar lokasi demfarm, menjadi bukti keberhasilan budidaya udang dengan penerapan teknologi yang tepat, serta untuk dapat kita tunjukkan kepada pihak perbankan bahwa kegiatan budidaya khususnya udang merupakan kegiatan yang pasti dengan risiko yang bisa diperhitungkan (calculated risk),” tambahnya.

Naik Signifikan

Slamet berharap, melalui kegiatan demfarm pada tambak-tambak yang idle dan produktifitasnya rendah ini, ke depan akan terjadi peningkatan produktivitas yang signifikan serta akan memicu bangkitnya kembali usaha budidaya tambak di Indonesia.

“Sebagai illustrasi bahwa untuk luasan areal demfarm 540 ha, dengan pemberian input sarana produksi untuk standar teknologi intensif dengan plastik mulsa, ditargetkan dapat menghasilkan udang sebanyak 8.100 ton untuk 540 ha dengan nilai Rp. 648 miliar/musim atau pertahunnya dapat mencapai Rp 1,94 triliun dengan cara panen parsial,” bebernya.

Pada program revitalisasi tambak, selain telah bekerjasama dengan Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Pertanahan Nasional, TNI Angkatan Darat, Polri, Bank Indonesia, DJPB juga bekerjasama dengan Ditjen KP3K KKP untuk memenuhi kebutuhan BBM khususnya solar di lokasi demfarm. Slamet mengaku telah bekerjasama dengan Ditjen KP3K untuk mengusulkan SPDN (stasiun pengisian solar) bagi pembudidaya tambak yang membutuhkan solar dalam pelaksanaan kegiatan budidaya.

“Pada kesempatan ini juga akan dilakukan penandatangan nota kesepahaman (MoU) antara perbankan dalam hal ini BRI dengan Mitra, terkait akses pembiayaan untuk mendukung pelaksanaan demfarm di Kabupaten Sumbawa dan perjanjian kerjasama antara mitra dan kelompok pembudidaya,” imbuhnya.