Medco Tutup Kilang Ethanol di Lampung

Kurangnya Pasokan Bahan Baku

Senin, 21/10/2013

NERACA

Jakarta - PT Medco Energi International Tbk (MEDC) menutup kegiatan kilang Ethanol yang dijalankan anak usahanya di Lampung karena tidak mendapat pasokan bahan baku dalam menggerakan produksi ethanol. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Diketahui anak usaha MEDC yaitu PT Medco Ethanol Lampung pada 16 Oktober lalu telah dihentikan kegiatan usahamnya karena tidak mencukupinya pasokan bahan baku yang berkesinambungan yaitu singkong dan tetes tebu untuk produksi etanol. Dengan penutupan operasi kilang tersebut, perseroan tidak lagi memiliki unit usaha yang beroperasi di sektor hilir.

Sehingga saat ini perseroan hanya memiliki saham minoritas di PT Muma Medco Petroleum yang merupakan usaha penjualan dan distribusi high speed diesel di sektor hilir. Selain itu, PT Medco Downstrean Indonesia dan anak usahanya tidak lagi beroperasi di sektor hilir. Untuk itu, pada laporan keuangan tahun 2013 ini perseroan akan melakukan reklasifikasi terhadap akun-akun anak usaha terdapat laporan keuangan perseroan. Sesuai PSAK, aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasional dihentikan.

Untuk kinerja perseroan sendiri, sepanjang 2013 dan 2014 mendatang, perseroan akan mengebor 28 sumur eksplorasi. Dari target 28 sumur eksplorasi, hingga September lalu perseroan telah menyelesaikan lima sumur ekplorasi di dalam negeri maupun luar negeri."Kami targetkan 28 sumur eksplorasi terdiri dari 11 sumur di Indonesia dan 17 sumur di area operasi internasional, yaitu Area 47 di Libya, Blok 82, 83 dan Blok 9 Malik di Yaman. Sementara, 5 sumur eksplorasi yang sudah diselesaikan adalah dua sumur di Indonesia yaitu Matang-1 di Blok A, Aceh dan Bajul Besar-1 di Blok Simenggaris Kalimantan Timur. Sementara 3 sumur di luar negeri, Ras Nowmah South-1, Ras Nowmah North-1 dan Sueda-1, semua di Blok 9 Malik,”kata Direktur Utama PT Medco Energi Internasional Tbk Lukman Mahfoedz.

Dalam pelaksanaan program eksplorasi ini, perseroan dan mitra-mitranya mengalokasikan dana pada tahun ini sekitar US$120 juta dan sampai dengan Juli 2013 sudah terserap US$50 juta. Perseroan berharap mendapatkan cadangan baru sejumlah 130 MMBOE (kotor) dari kegiatan eksplorasi pada akhir tahun 2013. Saat ini satu sumur eksplorasi sedang dibor di Indonesia, yaitu Lagan Deep-1A di Blok South Central Sumatera (SCS), Sumatera Selatan dan enam sumur lagi sedang menunggu rig spud-in yang akan dilakukan dalam tahun ini.

Perseroan merencanakan akan memulai pengeboran dari Salina-1 (Blok Rimau), Arung-1 (Blok SCS), Pastel (Blok Tarakan), semua berada di Indonesia, dan O2 di Area 47 (Libya), Al Shamliah dan Al Hedba Plateau-1 (keduanya di Yaman). Menurut dia, pengeboran eksplorasi dan appraisal akan terus dilakukan pada lebih dari 16 sumur sepanjang tahun 2014, yang terdiri dari enam sumur di Indonesia dan 10 sumur di luar negeri. Pada tahun 2014, total anggaran diperkirakan mencapai US$190 juta.

Sementara itu, operasi di Area 47 Libya diperkirakan dapat berjalan sesuai jadwal sehingga memberikan kontribusi signifikan bagi kinerja keuangan perseroan. Perusahaan patungan (Joint Operating Company/JOC) untuk menggarap area 47 Libya tersebut 25% sahamnya dimiliki MEDC, 25% dimiliki Libya Investment Authority (LIA), dan sisanya dimiliki Nefusah.

Untuk pengembangan potensi migas di Area 47 Libya, membutuhkan dana sekitar US$800 juta atau dengan kata lain perseroan akan menggelontorkan sekitar US$200 juta dari total kebutuhan dana investasi JOC tersebut.

Selain itu, anak usahanya PT Medco E&P Tomori Sulawesi telah menandatangani perjanjian kredit sindikasi dengan Standard Chartered Bank dan PT Bank Mandiri senilai US$260 juta. Dana ini akan digunakan untuk pengembangan usaha yang akan menambah pendapatan induk usahanya. (nurul)