Sikap Wait and See

Jumat, 18/10/2013

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Memasuki pemilu tahun depan, memberikan banyak berkah bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lantaran derasnya perputaran uang yang dinilai mampu meningkatkan perekonomian sektor ril, khususnya berkaitan dengan event pemilu yang biasanya permintaan meningkat tajam, seperti kaus oblong, sablon dan makanan-makanan.

Maka tidak heran, jika pesta demokrasi lima tahunan ini menjadi even yang diharapkan para pelaku usaha karena order selalu meningkat dibandingkan hari biasanya dan berefek ganda bagi masyarakat luas dari derasnya perputaran uang di momen pemilu. Mengutip data Bank Indonesia, pemilu 2004 peredaran uang mencapai Rp 115,3 triliun. Sementara, pada Pemilu 2009, peredaran uang meningkat lebih dari dua kali lipat, Rp 251,4 triliun dan ditahun 2014 nanti, tentunya diharapkan bisa jadi lebih besar lagi.

Kendati ada berkah dibalik pesta demokrasi, rupanya juga memberikan rasa was-was bagi pelaku usaha lain jika dalam perjalanannya nanti pemilu tidak sesuai yang diharapkan yaitu pemilu yang aman dan kondusif. Hal ini menjadi perhatian penting, karena bagi pelaku bisnis bahwa memacu roda perekonomian juga membutuhkan iklim investasi yang aman dan kondusif. Alasannya sangat sederhana, politik dan ekonomi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dan saling memiliki keterkaitan dan bahkan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Karena untuk menciptakan kondisi ekonomi yang kokoh dibutuhkan stabilitas politik dan keamanan. Investor tidak akan mau menanamkan modal mereka di suatu negara jika politik dan keamanan negara bersangkutan tidak stabil.

Adalah menjadi keniscayaan pentinya stabilitas politik suatu negara, jika ingin mendatangkan investor untuk menginvestasikan dana disamping aspek infrastruktur dan layanan birokrasi. Bagaimanapun juga sebuah negara dengan atribut positif seperti itu akan menarik dana investasi dari negara lain yang memiliki tingkat risiko politik dan ekonomi yang lebih tinggi. Kekacauan politik, bisa menyebabkan hilangnya keyakinan pada mata uang dan adanya perpindahan modal menuju mata uang dari negara yang lebih stabil.

Tidak berlebihan, jika banyak sebagian pelaku pasar juga bersikap wait and see dan tidak terkecuali bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang justu bersikap konservatif dalam mematok target penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Tahun 2014, BEI hanya menargetkan IPO sebanyak 30 emiten atau sama dengan tahun sebelumnya. Artinya target IPO tidak mengalami peningkatan lantaran respon kekhawatiran pasar terhadap tahun politik. Meskipun demikian, secara historis pada tahun pemilu tidak berdampak pada transaksi perdagangan dan bahkan mengalami peningkatan. Oleh karena itu, BEI menargetkan rata-rata nilai transaksi harian saham 2014 mencapai Rp7 triliun dengan jumlah hari bursa sebanyak 244 hari. Sementara rata-rata volume transaksi harian obligasi korporasi mencapai Rp1,7 miliar.

Suka tidak suka industri pasar modal sangat berkaitan dengan berbagai sentimen, baik global, sosial dan politik dalam negeri. Karena itu, disamping perlunya rasa optimisme juga tetap memperhatikan pertimbangan lain agar tidak menyesal di kemudian hari. Alasan sikap wait and see pelaku pasar juga sangat rasional, karena ini berkaitan dengan trust atau kepercayaan investor. Maka jangan harap ekonomi bisa berjalan selaras bila kondisi politik dalam negeri tidak stabil. Karena pada dasarnya investor ingin mencari untung dan bukan buntung.